Senin, 22 Februari 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (I)

The Storm on the Sea of Galilee
(Rembrandt, 1632)
Sumber: Wikipedia
Lent I
14-20 Februari 2016

SIAPAKAH GERANGAN ORANG INI?
Markus 4.35-41

Rudolfus Antonius


Situasi benar-benar genting. Taufan yang sangat dahsyat mengamuk. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Perahu itu, yang ditumpangi Yesus dan murid-murid-Nya itu, mulai penuh dengan air. Mereka semua akan tenggelam!

Murid-murid tahu persis: kita akan binasa! (Markus 4.38b). Bisa dibayangkan betapa mereka tercekam kengerian. Maut sudah berdiri di hadapan mereka.

Ironisnya, bila kita boleh menggunakan istilah ini, Yesus justru “sedang tidur di buritan di sebuah tilam” (ay 38a). Begitu nyenyak tidurnya, sehingga keadaan genting itu tidak mengusiknya.

Mendapati Yesus sedang tidur di tengah situasi yang sedemikian genting, terbersit rasa jengkel di benak murid-murid. Kok bisa-bisanya tidur pulas sementara semua orang menyabung nyawa! Opo tumon? Mereka membangunkan Yesus seraya berkata, “Guru, tidakkah kau peduli bahwa kita binasa?” (Menarik, kata kerja untuk binasa, apollumi, disajikan dalam bentuk indicative present orang pertama jamak, apollumetha, yang mencerminkan “penilaian” murid-murid bahwa mereka semua, tak terkecuali Yesus, ada dalam situasi yang tidak bisa diatasi lagi, nyawa mereka terancam tanpa bisa ditolong lagi. Kita sedang binasa!).

Rupanya, bukan amukan angin taufan atau semburan ombak yang masuk ke dalam perahu yang membuat Yesus terbangun, melainkan gugahan murid-murid-Nya. Ia bangun. Ia peduli. Tapi bila situasinya sudah tidak bisa diatasi lagi, masih adakah gunanya kepedulian itu?

Yesus menghardik angin itu, Ia berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Seakan-akan taufan dan danau itu sedang rewel, ribut, banyak bicara, Yesus menyuruh mereka untuk berhenti berbicara.

Khususnya kata yang kedua, “tenanglah”, fimoĆ“, menggemakan maksud narator baik untuk menyindir murid-murid – setidak-tidaknya Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes – maupun untuk mengingatkan kita bahwa Yesus pernah menggunakannya untuk membungkam roh jahat yang menyatakan jati diri Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah (lihat Markus 1.34-35). Dulu roh jahat taat kepada Yesus  (Markus 1.36), sekarang – “angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali” (Markus 4.39).

Sejurus waktu kemudian, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Dengan pertanyaan itu, terungkaplah penilaian Yesus atas murid-murid-Nya. Dalam situasi yang sangat genting, mereka takut, mereka tidak percaya. Ya, mereka takut karena tidak percaya. Bila mereka percaya, mereka tidak takut menghadapi situasi yang tampak mengancam nyawa mereka sekalipun. Percaya? Percaya apa atau siapa? Tidak percaya? Tidak percaya apa atau siapa? Apa atau siapa yang dimaksud Yesus – yang seharusnya dipercaya murid-murid sehingga mereka tidak takut menghadapi situasi yang sangat genting yang mempermainkan nyawa mereka di bibir jurang kematian?

Murid-murid tercekam, mereka “menjadi sangat takut” (Markus 4.41b). Mereka baru saja mengalami kejadian-kejadian yang teramat dahsyat: situasi yang sangat genting, kejengkelan yang luar biasa karena tak habis mengerti kepada Sang Guru, perkataan Sang Guru yang penuh kuasa atas angin dan danau, serta pertanyaan yang menohok: Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya?

Apakah dalam peristiwa itu mereka “tersengat” oleh mysterium tremendum – meminjam teori Rudolf Otto – suatu aspek dari Yang Kudus, yang membangkitkan kegentaran di sekujur jiwa mereka? Boleh jadi. Yang jelas, ketakutan itu terungkap dalam pertanyaan seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini (atau: “Jadi, siapakah adanya Dia” [tis ara houtos estin], sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4.41b).

Tidakkah mereka, sekurang-kurangnya Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, bahwa di saat-saat permulaan mereka mengiring Yesus, roh jahat mengenali-Nya sebagai “Yang Kudus dari Allah” (Markus 1.24; lihat juga Markus 1.34).

Bukankah keempat murid yang paling awal itu tak asing dengan pengakuan roh-roh jahat yang merasuki orang-orang yang dilepaskan Yesus, “Engkaulah Anak Allah” ( Markus 3.11).

Tidak cukupkah pengakuan roh-roh jahat itu menolong mereka untuk menyadari jati diri Orang ini?

Dalam episode berikutnya, tatkala mereka berjumpa dengan orang yang kerasukan Legion, mereka akan mendengar sendiri bahwa Legion mengenali Yesus sebagai “Anak Allah yang Mahatinggi” (Markus 5.7). Dia yang ditakuti roh-roh jahat adalah Dia yang sama, yang ditaati angin dan danau.

Tapi sementara Yesus membimbing mereka untuk mengenali jati diri-Nya, hati murid-murid masih diliputi kedegilan. Mereka tidak kunjung memahami:

(1)   Makna perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan-Nya (Markus 4.11, 13);
(2)   Tindakan-tindakan belarasa dan kuasa-Nya (Markus 6.34, 41-44; 6.51-52; 7.18; 8.17, 21); dan
(3)   Sasmita-sasmita samsara-Nya (lihat Markus 8.31-32; 9.31-34; 10.33-41).

Lagi, kita mendapati ironi. Sementara roh-roh jahat mengenali jati diri Yesus, tidak demikian murid-murid-Nya. Suatu kritik terhadap kita, yang meski mengaku sebagai pengikut-Nya tapi tidak kunjung mengenal Dia?

Tapi sisi baliknya perlu juga direnungkan: jangan-jangan kita (merasa) mengenali jati diri Yesus tapi tidak menjadi pengikut-Nya – yang demi Injil rela “menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia” (Markus 8.34-35).

Di samping itu, bisa juga ironi ini dipahami sebagai ajakan untuk menyadari bahwa mengenal Yesus tidak saja tak mudah (dalam hal ini kita diingatkan untuk tidak mencemooh murid-murid Yesus), tetapi juga merupakan suatu proses yang tiada henti. Pengenalan kita akan Yesus harus terus bertumbuh, semakin mendalam, semakin kaya; dan seiring dengan itu, semakin teruji juga jalan hidup kita mengikut atau mengiring Dia.

Minggu Pertama Sengsara Tuhan mengajak saya untuk jujur bertanya kepada diri saya: Siapakah gerangan Orang ini?

Terpujilah Allah! ***

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Minta ijin berbagi Pak Rudy