Jumat, 04 Maret 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (III)

LENT III:
27 Februari-5 Maret 2016

SYARAT HIDUP YANG KEKAL
Markus 10.17-27

Rudolfus Antonius

Orang itu tampak begitu serius dengan ihwal keagamaan. Tergopoh-gopoh ia menemui Yesus, orang Nazaret yang kontroversial itu. Lihat, ia sampai bertelut di hadapan-Nya. Ia ingin bertanya kepada Yesus, dengan berharap orang Nazaret itu memberikan jawaban yang sanggup meredakan kegalauan hatinya.

Kegalauan hati?

Ya. Ia mendambakan “hidup yang kekal.” Selama ini, “segala perintah Allah” telah diturutinya, bahkan sejak masa mudanya. Namun masih juga gundah hatinya, apakah ia sungguh-sungguh telah beroleh apa yang didamba.

“Guru yang baik,” begitu sapanya. “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kesantunan dan urgensi bergema dalam sikap dan pertanyaannya.

“Mengapa kau katakan Aku baik?” Orang Nazaret itu ganti bertanya. “Tiada yang baik kecuali Allah,” sambung-Nya, “Allah yang baik itu telah bertitah. Sudah barang tentu engkau telah mengetahui semuanya:

Jangan membunuh
Jangan berzinah
Jangan mencuri
Jangan mengucapkan saksi dusta
Jangan mengurangi hak orang
Hormatilah ayahmu dan ibumu.”

Sejurus waktu orang itu terperangah. Pertama, rasa-rasanya baru saja Yesus mengoreksi ungkapan yang ia gunakan untuk menyapa-Nya: “Guru yang baik.” Tanggap ing sasmita, ia meralat sapaannya: “Guru.” Tanpa “yang baik.”

Kedua, kedengarannya jawaban Yesus sekadar merujuk pada titah-titah Allah yang sudah diketahuinya. Tidak ada yang baru, “standard.” Manakah hal istimewa, yang diharapnya terungkap dari orang Nazaret itu?

“Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku,” sahutnya.

Yesus memandang orang itu. Ia mengasihinya (êgapêsen auton). Amboi, alangkah beruntungnya orang itu! Begitulah agaknya kesan yang ingin diberikan Narator kepada kita. Betapa tidak! Bukankah di sepanjang ceritanya hanya dalam “episode” inilah ia mengungkap secara eksplisit perihal Yesus mengasihi seseorang? Lantas bagaimana kasih itu dijabarkan?

“Hanya satu lagi kekuranganmu,” kata-Nya.

Ah! Barusan Yesus berkata-kata tentang “segala perintah Allah.” Sekarang, setelah mendengar bahwa aku telah menuruti semuanya itu sejak masa mudaku, Ia menyatakan masih ada yang kurang! Opo tumon? Begitulah mungkin orang itu bergumam.

Mari perhatikan ungkapan “yang baik,” modifier bagi sapaan “guru” (yang disematkan orang itu kepada Yesus, namun dipertanyakan-Nya dengan menyebut Allah sebagai satu-satunya “yang baik”). Bukankah Allah “yang baik” telah bertitah? Simak, titah-titah-Nya menyangkut hubungan antarmanusia. Jangan begini, jangan begitu, lakukan ini dan itu. Orang itu mengatakan bahwa ia telah menuruti semua titah itu sejak mudanya. Kalau memang demikian, bukankah ia sudah berhak atas hidup yang kekal!

Tapi “guru” yang barusan mengkritisi sapaan “yang baik” itu sekarang tampil seolah-olah Dialah Allah “yang baik” itu sendiri. Ia bertitah! Bila memenuhi titah itu, lengkaplah sudah “penurutan” orang itu pada seluruh titah Allah yang baik!

Inilah titah-Nya:

Pergilah,
juallah apa yang kau miliki
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
maka engkau akan beroleh harta di sorga,
kemudian datanglah ke mari,
dan ikutlah Aku.

“Kurang ajar” betul Laki-laki Bersandal dari Nazaret ini. Mengkritisi sapaan “guru yang baik,” sekarang Ia malah menempatkan diri dalam posisi “Allah yang baik” – yang bertitah!

Orang itu pun diperhadapkan pada “momen eksistensial.” Selama ini ia menuruti segala titah Allah dengan tujuan beroleh hidup yang kekal. Kenyataannya, ia memang telah menuruti segala titah itu, bahkan sejak masa mudanya. Tapi toh, ia masih gundah apakah ia benar-benar terjamin akan memperoleh hidup yang kekal. Berjumpa dengan Yesus, ia justru mendapati bahwa kegundahannya benar. Semua itu belum cukup. Masih kurang!

Lantas bagaimana cara membuatnya memadai? “Ikutlah Aku,” kata Yesus. Tapi syaratnya... alangkah beratnya! Orang itu pun menjadi kecewa. Ia pergi, dengan sedih.

Lho, kok begitu? Opo tumon? Kenapa? Ada apa dengan titah Yesus? Atau... ada apa dengan orang itu?

Dalam sejurus waktu, selaku pembaca atau pendengar kita pun mengalami penyingkapan dari Sang Narator: orang itu adalah orang yang banyak hartanya (orang yang memiliki banyak harta, ekhôn ktêmata polla, ay 22).

Jelaslah sudah. Orang kaya yang satu ini mendambakan hidup yang kekal. Karena itu, sejak muda ia berusaha menuruti titah-titah Allah. Tapi ia merasa tidak pasti. Lalu datanglah ia kepada Yesus, yang ternyata bisa memberikan kepastian tetapi menuntut suatu harga yang baginya teramat-sangat mahal: menjual apa yang dimilikinya dan memberikan hasilnya kepada orang-orang miskin.

BUNUH DIRI KELAS! Ungkapan yang kita pinjam dari almarhum Almilcar Cabral (1924-1973), revolusioner Guinea-Bissau, mungkin tetap untuk memberi nama pada titah Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu.

Ya, BUNUH DIRI KELAS: orang yang berasal dari kelas yang lebih tinggi – kelas penguasa – meninggalkan kelasnya berikut segala hak istimewa yang melekat padanya, lalu menggabungkan diri dengan kelas yang lebih rendah – kelas kaum yang miskin dan tertindas.
Beroleh hidup yang kekal dengan jalan bunuh diri kelas!

Kecewa dan pergi dengan sedih. Terungkaplah baginya, juga bagi sidang pembaca, mana yang sesungguhnya paling berharga baginya. Antara hartanya yang banyak dan hidup yang kekal, yang pertamalah yang paling berharga.

Maksud hati ingin beroleh hidup yang kekal sebagai orang kaya, nyatanya Yesus menitahkan bunuh diri kelas demi mengikut Dia. Titah yang terbit dari kasih, yang sayang-disayang tak menyentuh hati sang hartawan. Ia pun memutuskan untuk “Balik Kanan, Jalan Terus...”

“Sangat sukar orang yang beruang, orang kaya, masuk ke dalam Kerajaan Allah,” ujar Yesus di hadapan murid-murid-Nya. “Lebih mudah seekor unta melewati loban jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah,” sambungnya.

Murid-murid tercengang. Mereka paham, sanepo itu berkata-kata tentang kemusykilan orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah, termasuk orang kaya yang barusan datang dan pergi berlalu.

“Lantas, siapakah yang dapat diselamatkan?” tanya mereka, gempar.

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah,” jawab Sang Guru, guru yang baik itu.

Maksud-Nya jelas. Pada dirinya sediri, muskil orang kaya melakukan bunuh diri kelas agar beroleh hidup yang kekal. Tapi apa yang muskil bagi manusia, tidaklah muskil bagi Allah. Tentulah Allah bisa membuat orang (-orang) kaya melakukan bunuh diri kelas – mempersembahkan kekayaannya untuk melayani mereka yang miskin dan tertindas – dan beroleh hidup yang kekal!


TERPUJILAH ALLAH!


1 komentar:

Royce Yuli Setioputro royce mengatakan...

Minta ijin berbagi Pak Rudy