Jumat, 18 Maret 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (V)

Blind Bartimaeus
www.lookandlearn.com
Lent V: 13-19 Maret 2016

FAIT ACCOMPLI
Markus 10.46-52

Rudolfus Antonius

Rahasia Mesias. Ditutup untuk khalayak, dibuka bagi “kalangan sendiri.” Itulah “kebijakan ganda” yang diterapkan Yesus orang Nazaret berkenaan dengan jati diri-Nya. Kepada khalayak, Ia selalu berupaya agar mereka tidak mengenali diri-Nya sebagai Mesias. Sejauh-jauhnya, publik berspekulasi bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang dari para nabi (Markus 8.28). Kepada “kalangan sendiri”, yakni ke-12 murid-Nya, Ia berusaha menyingkapkan kemesiasan-Nya. “Kepadamu,” kata-Nya kepada mereka, “telah diberikan rahasia Kerajaan Allah...” (Markus 4.11).

Ada dialektika yang diharapkan-Nya bekerja dalam antitesis ini. Saat rakyat jelata sarat dengan penderitaan – kerasukan setan, terjangkit berbagai sakit-penyakit, diberati beban-beban keagamaan, dan ditindas oleh pemerintah bangsa-bangsa – apatah rindu-damba mereka kecuali kedatangan Sang Pembebas, yang tak lain dari Mesias, Ratu Adil Erucakra?

Yesus tidak menafikan “jeritan makhluk tertindas” yang membahana di tengah dunia yang tak berhati. Tapi Ia meyakini agenda ilahi, “apa yang dipikirkan Allah”, yang harus dilaksanakan-Nya: bukan pertama-tama sebagai Mesias Sang Raja, tetapi sebagai Hamba, yang melayani hingga memberikan nyawa sebagai tebusan bagi banyak (=semua) orang. Melalui itu, Sang Raja mbabar jati diri.  

Pada saat yang sama, Ia berusaha membimbing Kelompok 12, murid-murid-Nya, untuk mengenali jati diri-Nya. Menetapkan mereka “untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3.14), sesungguhnya Ia sedang mempersiapkan mereka supaya bila sudah tiba waktunya mereka akan mewartakan jatidiri mesianik atau rajawi-Nya. Untuk itu Ia telah bersasmita, “[T]idak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu rahasia yang tidak akan tersingkap” (Markus 4.21-22).

Sayang disayang, Kelompok 12 terlalu lamban untuk mengerti. Petrus, yang sepertinya memiliki “kesadaran yang paling maju,” memang berhasil mengenali jati diri Yesus sebagai Mesias (Markus 8.20). Tapi, sebagaimana terlihat dalam reaksinya terhadap Sasmita Samsara yang Pertama, mesianisme Petrus bertolakbelakang dengan mesianisme Yesus. Mesianisme Petrus tidak mengizinkan seorang Mesias yang mengalami sengsara dan maut sebelum mencapai kemuliaan. Sasmita Samsara yang Kedua dan Ketiga ditanggapi dengan pertengkaran tentang siapa yang terbesar atau paling berkuasa di antara Kelompok 12. Semua sibuk dengan Will to Power alih-alih menyatukan diri dengan Sang Mesias menapaki jalan penderitaan.  

Jadi Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu seperti terjepit oleh kebijakan-Nya sendiri. Ke luar Ia bertahan dari godaan mengikuti mesianisme orang banyak, ke dalam Ia tidak kunjung dimengerti oleh murid-murid-Nya – yang juga menganut mesianisme orang banyak. Di satu sisi Ia menolak untuk memproklamirkan kemesiasan-Nya kepada orang banyak karena memperhitungkan jangan-jangan “apa yang dipikirkan Allah” terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia.” Di sisi lain kelihatannya Ia nyaris frustrasi (“berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?”, Markus 9.19) karena murid-murid-Nya tak kunjung beranjak dari “apa yang dipikirkan manusia” ke “apa yang dipikirkan Allah.”

Hampir tak dinyana, pada satu momen di tengah perjalanan menuju Yerusalem, Yesus “dipaksa” untuk mengungkap jati diri mesianik-Nya kepada orang banyak. Saat itu, baru saja Ia dan Kelompok 12, diiringi oleh orang banyak yang berbondong-bondong, keluar dari Yerikho (Markus 10.46). Dari pinggir jalan terdengar teriakan, “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 47). Teriakan subversif, yang menyuarakan kerinduan orang banyak yang mendambakan pembebasan, sekaligus menyulut kewaspadaan kaum penguasa. Anak Daud, gelar Sang Mesias.

Pengemis buta, ya pengemis buta itulah yang membuat bising udara dengan teriakan subversifnya. Ia melakukan itu karena mendapat informasi bahwa orang Nazaret yang Bersandal itulah yang sedang lewat. Ia ingin minta tolong, mohon Yesus mencelikkan matanya. Beberapa orang menegornya. Mereka berusaha membungkamnya (ay 48a). Tapi ia menolak bungkam. Alih-alih, ia makin keras berteriak: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 48b). Kian bisinglah udara, sementara aroma subversif merebak ke mana-mana.

Yesus tanggap ing sasmita. Ia tahu, diri-Nyalah yang dimaksud sang pengemis buta. Segera didapati diri-Nya tersudut. Selama ini dipegang-Nya teguh “kebijakan ganda” perihal Rahasia Mesias. Tertutup keluar, terbuka ke dalam. Kini, Ia diperhadapkan pada pilihan: tetap “tertutup keluar” demi menjaga agar “apa yang dipikirkan Allah” tidak terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia” dengan tidak mempedulikan teriakan-teriakan sang pengemis buta, ATAU, menyembuhkan sang pengemis buta dengan mengorbankan “kebijakan ganda” dengan “membuka keluar” – dan dengan demikian merisikokan “apa yang dipikirkan Allah” terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia.” FAIT ACCOMPLI!

Merasa di-fait accompli, Yesus butuh waktu untuk berpikir. Itulah sebabnya Ia tidak langsung menanggapi teriakan-teriakan sang pengemis buta (lihat ay 47-49). Tapi sekali membuat keputusan, yakni memilih untuk mempedulikan pengemis buta itu dan mengorbankan kebijakan ganda-Nya, Yesus melangkah dengan mantap. Berjumpalah Ia dengan sang pengemis buta.

Terjadilah percakapan singkat, yang menyiratkan jati diri Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu – bahwa Dia adalah Sang Mesias (ay 51).

Y  : Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?
PB: Rabuni (=Tuanku), supaya aku dapat melihat!

Terjadilah suatu mukjizat, yang memenuhi kerinduan sang pengemis buta sekaligus menggarisbawahi watak asli Sang Mesias – welas asih, penuh rahmat (ay 52a).

Y: Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!
Pada saat itu juga (kai euthus, dan seketika itu juga) melihatlah ia.

“Kebijakan ganda” gugur sudah. Sekarang Rahasia Mesianik dibuka keluar. Publik sudah tahu siapa Yesus: Sang Mesias. Lepas dari jenis mesianisme mereka, yang bertolakbelakang dengan mesianisme Yesus!

Sekarang, pengemis buta itu tak lagi buta, tak lagi mengemis pula. Ia mengikut Yesus, mengiringi-Nya dalam perjalanan yang menentukan ke Yerusalem (ay 52b). 

Entah dari mana mantan pengemis buta itu tahu bahwa Yesus adalah Anak Daud, Sang Mesias. Yang jelas, teriakan-teriakan subversifnya telah “memaksa” Yesus untuk menyatakan jati diri-Nya. Tak heran kiranya, bila kemudian namanya dikenang orang – satu-satunya pengecualian dalam penuturan Sang Narator: Bartimeus, anak Timeus, anak dari Kehormatan, anak yang terhormat. 

Sesuai dengan namanya, wong cilik ini beroleh kehormatan untuk membuat Mesias yang Tersembunyi menyatakan diri-Nya di hadapan publik yang merindudamba. Cetha wela-wela. ***




Terpujilah Allah! 

 







  











1 komentar:

Royce Yuli Setioputro royce mengatakan...

Ijin berbagi Pak Rudy...