Kamis, 19 Maret 2020

CERDIK DAN TULUS

www.churchinwales.org.uk
Matius 10.16

Rudolfus Antonius

Gusti Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kabar Baik kepada "domba-domba yang terhilang dari Keluarga Israel” (ta probata ta apolôta tou oikou Israêl, Matius 10.6), yakni orang-orang yang lazim disebut sebagai orang-orang berdosa (hamartôloi, 9.10, 11, 13; 11.19),  “bangsa yang berdiam dalam kegelapan” (4.16). Dalam pandangan Gusti Yesus, mereka adalah massa rakyat (orang banyak) yang lelah dan telantar (9.36). Banyak di antara mereka yang menderita berbagai penyakit dan kerasukan roh jahat (lihat pasal 8.1-17, 28-34; 9.1-8, 18-34).

Karena dijangkiti berbagai penyakit dan dirasuki roh-roh jahat, mereka dipandang oleh para pemuka agama sebagai orang-orang berdosa, yang ditolak dan dibuang Allah. Kepada mereka murid-murid harus memberitakan Kabar Baik atau Injil bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat (10.7). Untuk misi tersebut, Gusti Yesus telah mengaruniakan kuasa kepada mereka "untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan" (10.1). Maksud Gusti Yesus: pemberitaan Injil menyatakan bahwa Allah merangkul, bukan menolak apalagi membuang, orang-orang berdosa.

Dalam pada itu, Gusti Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa Ia mengutus mereka “seperti domba-domba ke tengah-tengah serigala” (hôs probata en mesô lukôn, 10.16). Betapa tidak! Dalam melaksanakan misi memberitakan Injil Kerajaan itu, murid-murid akan berhadapan dengan orang-orang yang akan menentang pemberitaan Injil dengan keras: "... ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama, dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya... karena Aku kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja..." (10.17-18).

Karena itu, Gusti Yesus menandaskan: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular & tulus seperti merpati" (phronimoi hôs hoi opheis kai akeraioi hôs hai peristerai, 10.16). Cerdik (phronismos) dan tulus (akeraios) berpasangan. Keduanya tak terpisahkan. Murid-murid tidak boleh ambil salah satu dan membuang satunya lagi. Murid-murid harus memiliki kedua-duanya.

Tulus berarti lurus, jujur, “tak punya dosa” dalam arti berintegritas: "arlek amanca," biar jelek asal mantap dan bisa dipercaya. Cerdik berarti berakal, bisa membaca situasi, membuat kalkulasi dan menyusun "stratak" (strategi dan taktik). Tulus saja tanpa cerdik adalah naif: murid-murid Gusti Yesus bakal jadi bulan-bulanan bahkan mangsa empuk kawanan srigala. Tragis!

Tapi cerdik saja tanpa tulus adalah licik; itu akan membuat murid-murid Gusti Yesus tidak berbeda dengan kawanan serigala! Ingat cerita tentang hannâkhâsh alias si ular di Taman Eden: ia “[paling] cerdik dari semua binatang padang yang telah Yahweh Allah jadikan” (arûm mikol khayyat hashshâde asher ʽâsâh YHWH ʼelohîm, Kejadian 3.1; LXX untuk arûm adalah phrônimatos, superlatif dari phronimos: paling cerdik). Sadis!

Jadi, murid-murid Gusti Yesus kudu, wajib tulus, berintegritas, jujur, "arlek amanca," SEKALIGUS cerdik berakal, bisa membaca situasi, membuat perhitungan, dan menyusun "stratak." Supaya tidak jadi KORBAN, tapi juga supaya TIDAK MEMBUAT ORANG LAIN JADI KORBAN! Tulus menjiwai cerdik, cerdik mengawal tulus. Keduanya berkombinasi, saling meresapi. Kombinasi tulus dan cerdik terungkap dalam istilah Indonesia yang indah: BERAKAL BUDI.

Menyikapi Pandemi

Berkenaan dengan pandemi Covid-19 alias Virus Corona, ketulusan dan kecerdikan kita selaku murid-murid Gusti Yesus masa kini, benar-benar diuji. Kita tulus, misalnya, ingin tetap beribadah. Toh di Alkitab kita membaca, "Latihlah dirimu beribadah!" (1Timotius 4.7b), "Ingat dan kuduskanlah Hari Sabat" (Keluaran 20.8), dan "Janganlah kita meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah kita..." (Ibrani 10.25).

Tapi tulus saja tidak cukup. Kita juga mesti cerdik. Bukan karena kita takut, tapi karena kita tidak mau melakukan sesuatu yang justru mencelakakan banyak orang melalui penularan Virus Corona di tengah banyak orang. Bukan karena kurang beriman atau tidak beriman, tapi karena kita ingin ikut mengusahakan kesejahteraan kota atau negeri kita  (lihat Yeremia 29.7). Apalagi ketika kota atau negeri kita (bahkan dunia!) sedang "terluka." Yang seharusnya kita ungkapkan adalah SOLIDARITAS, bukan Superioritas ("sindrom anak raja")! Kita ingin jadi garam dan terang dunia (Matius 5.14-16), bukan penyebar Virus Corona.

Lantas bagaimana dengan perintah-perintah Alkitab tentang ibadah? Tetap bisa kita lakukan! Kita bisa melakukan ibadah keluarga. Ibu-ayah-anak, misalnya. Kalau sendirian atau jomblo? Tetap bisa! Prinsipnya: "menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran" (Yohanes 4.24):  

  • Puji-pujian
  • Pengakuan Dosa
  • Ucapan Syukur
  • Permohonan (berkenaan dengan Virus Corona: memohonkan perlindungan Allah bagi para tenaga medis yang bergulat di garis depan, memohonkan pertolongan Allah bagi dunia yang sedang dilanda pandemi ini, memohonkan kesembuhan bagi yang terinfeksi, memohonkan hikmat dan kuasa Allah bagi semua pihak yang terkait langsung dan tidak langsung, termasuk kita, dalam upaya mengatasi pandemi ini, memohonkan agar Allah melindungi negeri dan masyarakat dari pihak-pihak yang berniat memancing ikan di air keruh yang bisa mengakibatkan pandemi memicu bencana sosial dan kemanusiaan)
  • Permenungan firman Allah
  • Persembahan (kolekte, yang bisa dikirimkan via online banking atau disimpan dulu lalu dibawa ke gereja kelak).


Gereja (termasuk gereja kita tercinta) tentu akan membantu. Bisa dengan liturgi dan bahan permenungan Firman Tuhan, atau dengan “kebaktian online.” Tentu, dalam situasi darurat yang kita lakukan sulit seideal dalam situasi normal. (Bahkan dalam keadaan normal pun kita sering jauh dari ideal, bukan? Syukur kepada Allah atas kemurahan hati-Nya!). Yang terpenting, ibadah terus kita lakukan: iman, pengharapan, dan kasih (solidaritas, belarasa) kita diteguhkan. Bila "badai telah berlalu," kita akan berbondong-bondong ke gereja merayakan persekutuan kita!

Kita belajar tulus dan cerdik, bukan terdekat ketakutan. Kita belajar menerapkan iman dan hikmat, bukannya tidak peduli atau nekat. Kita belajar berakal budi, tidak mau sembrono serampangan. Kita ingin menjadi bagian dari solusi (ikut memutus penyebaran Virus Corona), bukan menjadi bagian dari masalah. Kita ingin jadi kesaksian, bukan batu sandungan. ***



Disiapkan sebagai Bahan Persekutuan Gabungan Komisi Perempuan GKMI Yogyakarta: Kamis, 19 Maret 2020

Tidak ada komentar: