Tampilkan postingan dengan label Refleksi Teologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Teologis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2020

MENJELANG KAMIS PUTIH & JUMAT AGUNG DI TENGAH WABAH COVID-19

www.oneforisrael.org
Rudolfus Antonius

Saya bukan orang pandai, bukan pula orang saleh. Tidak bermaksud menggurui, apalagi menghakimi, moga refleksi ini ada gunanya.

1. Sains beroperasi di wilayah fakta. Alatnya: metode ilmiah. Cara kerjanya: observasi, hipotesis, uji hipotesis, dan teori, penjelasan (Erklaeren), atau pemahaman (Verstehen).

2. Agama beroperasi di wilayah makna. Alatnya: berbagai ritual. Cara kerjanya: refleksi.

3. Sains memasok teori, penjelasan, atau pemahaman. Agama memaknai pasokan tersebut dengan refleksi iman melalui berbagai ritual.

4. Refleksi iman atas pasokan ilmiah berupa teori, penjelasan, atau pemahaman hendaknya menggugah solidaritas dengan sesama dan alam, peka terhadap persoalan2 struktural (ekonomi, sosial, dan politik), serta meneguhkan pengharapan kepada Allah atau Yang Ilahi (=Misteri yang meresapi alam semesta).

5. Refleksi iman bermuara dalam aksi solidaritas,

a. baik yg bersifat karitatif ("memberi sumbangan dalam situasi darurat") maupun transformatif (membangun struktur-struktur alternatif),

b. serta memperkuat hubungan2 kemanusiaan dengan "mengatakan kebenaran di dalam kasih" (aleteuontes en agape, Efesus 4.15; TB-LAI: "dgn teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih") dan "saling menolong memikul beban" (Alelon ta bare bastazete, Galatia 6.2; TB-LAI: "bertolong-tolonganlah kamu memikul bebanmu).

6. Para pemuka agama, khususnya Kristen (agama saya), hendaknya rendah hati: tidak mengklaim ajaran ("teologi") yang dianutnya sebagai kebenaran final dan jawaban atas segala persoalan (lalu menafikan sumbangan sains berupa teori, penjelasan, atau pemahaman ilmiah, apalagi saling bertengkar saling tuding "saya benar situ sesat."

7. Firman Allah tentu "ya" dan "amin," tapi senantiasa perlu dibaca dan ditafsirkan. Pembacaan dan penafsiran atas FA selalu dilakukan dengan perspektif tertentu. Perspektif senantiasa bersifat paradoksikal: memungkinkan kita beroleh pengetahuan sekaligus membatasi pengetahuan kita, termasuk tentang FA.

8. Dengan perspektif, kita memiliki persepsi tentang sesuatu, termasuk FA, lalu kita membangun persepsi itu menjadi narasi. Kita lazim menyebutnya teologi. Dengan narasi atau teologi yg dianut, orang Kristen memaknai hidupnya, juga memaknai sumbangan2 sains.

9. Alih-alih bertengkar saling tuding, akan lebih produktif dan menjadi kesaksian yang baik bila para pemuka agama Kristen bersedia saling mendengarkan narasi-narasi (teologi2) satu sama lain, lalu bertukar apresiasi kritis, kemudian merancang dan melakukan aksi bersama sebagai kesaksian yang mengungkapkan solidaritas dan meneguhkan pengharapan di tengah masyarakat.

10. Bercermin pada para dokter, perawat, dan petugas kesehatan yang hari ini "bertempur" di garis depan merawati para pasien yang terjangkit Covid-19, umat Kristen kiranya dapat melihat Yesus Kristus dalam pengabdian bahkan pengurbanan mereka. Mereka ikut memikul penderitaan umat manusia, bahkan di antara mereka sudah ada yang berkurban nyawa.

11. Gusti Yesus datang supaya kita memiki "kehidupan yg berlimpah-limpah" (zoen echosin kai perisson echosin, Yohanes 10.10). Bila kita sudah memilikinya, hendaknya kita membagikannya kepada sesama dengan solidaritas karitatif & transformatif serta memperkuat hubungan2 kemanusiaan.

12. Alm. WS Rendra, Si Burung Merak, benar:
Luka di bumi ini milik bersama
Masih ada waktu untuk kita berbuat



Lemah Abang, 9 April 2020

Minggu, 23 September 2018

CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS SEPERTI MERPATI

Refleksi Minggu IV Bulan Perdamaian Sinode GKMI

Matius 10.16


Courtesy of https://nakedpastor.com
Sayyidina Isa Al-Masih alias Gusti Yesus mengutus para pengikut-Nya untuk mewartakan Injil, Kabar Baik tentang Pembebasan, Evangelium Liberationis.

Sasaran Kabar Baik itu adalah para korban Kuasa-kuasa atau Struktur-struktur sosial yang menghisap, menindas, dan memarjinalkan.

Para korban bergelut dengan sakit-penyakit, kematian, penyingkiran sosial karena kusta, dan kerasukan setan, untuk kemudian menyerah tanpa daya kepada penampakan-penampakan Kuasa-kuasa tersebut:

  • §  Ada kuasa ekonomi yang menghisap: Mamon. 
  • §  Ada kuasa politik yang menindas: Kaisar. 
  • §  Ada kuasa budaya yang memarjinalkan: Kenisah atau Bait Suci.


Para pengikut Gusti Yesus mewartakan kepada para korban: Kerajaan Sorga sudah dekat (Matius 10.7). Dia yang bertakhta di sorga mulai mendatangi dunia untuk menantang Kuasa-kuasa atau struktur-struktur yang dholim itu dan membebaskan para korban. Tanda-tandanya: orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, orang kusta ditahirkan, dan orang yang kerasukan setan dilepaskan (Matius 10.8). Melalui pewartaan para pengikut Gusti Yesus, Allah menantang Kuasa-kuasa dan membebaskan para korban.

Injil Pembebasan adalah kabar baik bagi para korban Kuasa-kuasa, kaum miskin itu. Pada saat yang sama, ia adalah kabar buruk bagi Kuasa-kuasa (dan segelintir orang yang diuntungkan oleh mereka). Praksis pemerdekaan dan gerakan subversif adalah dua sudut pandang dari tindakan historis ilahi.

Dalam pada itu, Gusti Yesus tahu persis: soal kekuasaan, para pengikut-Nya bukan apa-apa bila dibandingkan dengan Kuasa-kuasa atau Struktur-struktur itu. Para pengikut-Nya ibarat domba, Kuasa-kuasa ibarat kawanan serigala. Hukum rimba pun berlaku: domba adalah mangsa para serigala.

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala,” kata-Nya. Sebuah pernyataan yang mengungkapkan sebuah realisme. Mewartakan Injil Pembebasan adalah perjumpaan konfrontatif antara para domba dan kawanan serigala.

Menakutkan, tentu. Tapi secara hakiki Injil Pembebasan memang memperhadapkan para pengikut Gusti Yesus, domba-domba itu, dengan Kuasa-kuasa alias kawanan serigala dalam sebuah konfrontasi hidup dan mati. Tidak kurang tidak lebih. Sebab berita pembebasan bagi kaum miskin, yakni mereka yang terhisap, tertindas, dan termarjinalkan, adalah berita subversif bagi mereka yang hidup dan memperkaya diri dari penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi atas sesamanya.

Gusti Yesus, tentu saja, tidak menghendaki para pengikut-Nya mewarta secara konyol dan oleh karena itu, sebagai akibatnya, mati konyol. Maka Ia mengingatkan mereka: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular.” Cerdik berjurus ular, supaya tidak menjadi mangsa kawanan serigala!

Dalam bahasa kita sekarang: asas penting, asas perjuangan penting, tapi organisasi (yang tak lain dari memori perjuangan kaum miskin), teori sebagai pisau bedah analisis, program, serta strategi dan taktik tidak kalah penting!

Gusti Yesus juga tidak menghendaki para pengikut-Nya terdegenerasi menjadi sama dengan Kuasa-kuasa. Oleh karena itu Ia mengingatkan mereka:”Hendaklah kamu tulus seperti merpati.” Tulus berjurus merpati, supaya tidak berubah menjadi pemangsa.

Para pengikut Gusti Yesus menantang struktur-struktur yang menghisap, menindas, dan memarjinalkan bukan untuk menjadikan diri mereka sebagai penghisap, penindas, dan pemarjinal baru! Para pengikut Gusti Yesus membebaskan para korban bukan untuk memberi jalan kepada para korban untuk membalas dendam.

Jika para pengikut Gusti Yesus melakukan kedua hal itu, sesungguhnya mereka sedang melestarikan lingkaran setan penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi manusia oleh manusia!


Betapa pentingnya membangun struktur-struktur alternatif yang menerjemahkan Kerajaan Sorga dalam jiwa-semangat, nilai, dan prinsip: komitmen yang pro-kehidupan, penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, dan demokrasi-partisipatoris.

Omong-omong, apakah padanan untuk Mamon, Kaisar, dan Kenisah/Bait Suci di masa kini?



Padepokan Banyu Bening, 23 September 2018

Jumat, 11 Maret 2016

DOA

Silent Prayer
Hari ini, 30 September 2012. Genap 37 tahun umurku. 

Kusadari sepenuhnya, bahwa panggilan jiwa dan keyakinanku menempatkanku di jalur Kiri. Aku seorang Anabaptis, aku juga seorang Sosialis. Bukan Sosialisme Utopian, tapi Sosialisme Ilmiah. Bukan Stalinis, tetapi Trotskyis. 

Dalam semuanya itu, aku berupaya menghayati apa maknanya mengiring Yesus Kristus, Junjunganku, serta bergumul tentang apa artinya kehadiran Kerajaan Allah di tengah suatu epos di mana kapitalisme mentransformasi diri menjadi imperialisme – sementara negeriku dikemudikan oleh para komprador, kapitalis birokrat, dan kapitalis kroni yang pada saat yang sama menghamba kepada imperialisme dan menyengsarakan rakyat pekerja serta memporakporandakan alam.

Ya, Tuhan di sisa hidupku, mampukanlah aku untuk setia kepada Junjunganku dan perkara Kerajaan-Mu; mampukan aku untuk konsisten sejalan dengan komitmen Junjunganku, preferential option for the poor and the oppressed; mampukan aku, untuk terus berjuang, bahu-membahu dengan rakyat pekerja – demi suatu perwujudan dari Kerajaan-Mu: “terciptanya tatanan masyarakat Sosialis sepenuhnya.” AMIN. ***

Sabtu, 11 April 2015

MENGAPA PERCAYA?

Oleh: Rudolfus Antonius

Why do You Believe What You Believe? Singkat sederhananya, Mengapa Beriman? Itulah tema persekutuan Pemuda di sebuah gereja di Semarang, Sabtu 15 November lalu.  

Pertanyaan “mengapa” menginginkan jawaban karena. Tersirat, perihal percaya atau beriman mengandaikan alasan, landasan, atau dasar. Reason to Believe, sekadar menyitir judul buku apologetik R.C. Sproul, seorang teolog Calvinis berorientasi Evangelikal.

Karena ber-alasan, ber-landasan, atau ber-dasar, perihal percaya atau beriman memiliki rasionalitas tertentu. Karena memiliki rasionalitas tertentu, perihal percaya atau beriman mengandaikan kebenaran tertentu pula. Saya beriman tentang dan/atau kepada A, karena A benar. Tentu tidak bisa dikatakan A an sich, melainkan A dalam persepsi saya. Kiranya jelas, “kebenaran” (=kebenaran tertentu) saya mengerti, saya yakini, saya inginkan, dan saya sandari atau andalkan.

Fase I: Menjadi Percaya atau Beriman

Beriman itu sendiri, bila kita mempertimbangkan frase Yunani dalam Perjanjian Baru, yakni pisteuein eis (dilanjutkan dengan kasus akusatif) selalu berarti “beriman kepada” atau “mempercayakan diri kepada.” Tergambar, saya masuk ke dalam suatu hubungan, dan selanjutnya saya hidup di dalam hubungan tersebut. Saya beriman kepada Yesus Kristus, berarti saya mempercayakan diri kepada-Nya (sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, lazimnya), memasuki hubungan personal dengan Dia, dan menghidupi hubungan tersebut (insya Allah di sepanjang sisa hidup saya). “Mekanisme”-nya sama. Saya mengerti Yesus Kristus itu benar: Tuhan dan Juruselamat. Saya yakin Dia benar. Saya ingin Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat saya. Saya mempercayakan diri saya kepada-Nya (dalam kata-kata Katekismus Heidelberg: “badan dan jiwa saya, baik semasa hidup maupun mati”). Saya bersandar kepada-Nya, mengandalkan Dia.

Tanpa menyangkali keotentikan perihal percaya atau beriman kepada Yesus Kristus, tentu kita mafhum bahwa rangkaian tanggapan akal budi (mengerti), perasaan (yakin), kehendak (menginginkan), dan tindakan (mempercayakan diri dan bersandar kepada-Nya) adalah suatu kompleks persepsi seseorang (sebutlah saya) tentang Yesus Kristus. Dalam persepsi saya, Yesus Kristus benar, bahkan benar-benar benar. Dia adalah kebenaran (boleh ditulis Kebenaran).

Pengalaman saya dengan Yesus Kristus pun tidak terjadi di luar persepsi saya. Saya mengalami dan karena itu bisa mengatakan bersama Ursinus dan Olevianus (para pengarang Katekismus Heidelberg) bahwa Yesus Kristus adalah “Juruselamatku yang setia.” Tapi pengalaman itu terjadi, dimengerti, dan dibahasakan di dalam persepsi saya. Tidak di luarnya. Moga kiranya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa suatu pengalaman iman yang terjadi di luar persepsi saya, dimengerti di luar persepsi saya, dan dibahasakan di luar persepsi saya, adalah suatu kemustahilan. Moga juga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa keotentikan iman saya justru terletak dalam keterkaitan antara kebenaran tertentu dan persepsi saya.  

Persepsi saya terbentuk dari perspektif atau sudut pandang saya. Dengan perspektif, saya mengerti, meyakini, menginginkan, dan bertindak. Dengan perspektif saya menyikapi realitas. Tanpa perspektif, realitas tertutup bagi saya (dan begitulah saya juga tertutup bagi realitas). Berbicara fenomenologis, tanpa perspektif tidak ada realitas. Betapa pentingnya perspektif. Dalam pada itu, perlu juga disadari bahwa dengan perspektif, saya tidak bisa mempersepsi realitas secara tuntas. Perspektif selalu perspektif tertentu. Sudut pandang selalu menyangkut “pengambilan” angle tertentu. Ada sisi atau segi realitas yang “tertangkap” oleh persepsi saya, sementara sisi-sisi atau segi-segi lainnya tidak. Sekali lagi, hal ini tidak menganulir keotentikan iman dan persepsi kita, tapi justru meneguhkannya. Namun, peneguhan ini sekaligus mengingatkan kita tentang keterbatasan kita – dan oleh karena itu mengajak kita untuk bersikap rendah hati dalam kebenaran tertentu yang kita “miliki.” 

Perspektif itu sendiri bukanlah sesuatu yang “jatuh dari langit” (meminjam sebagian dari judul pidato Bung Karno saat para durno mengangkatnya menjadi presiden, Mei 1963: “Sosialisme Bukan Barang yang Jatuh dari Langit”). Perspektif adalah bentukan situasi. Komunitas dan tradisi iman, misalnya. Juga lingkungan pergaulan (dan pendidikan). Pula situasi-situasi eksistensial (=situasi-situasi tertentu di mana seseorang mendapati dirinya harus membuat keputusan yang mengakibatkan perubahan orientasi dan cara memaknai hidupnya). Meskipun pada akhirnya saya harus membuat keputusan bagi diriku sendiri, misalnya membuat keputusan iman, keputusan tersebut adalah penyimpulan dari hasil kerja perspektif yang pada gilirannya terbentuk oleh banyak hal yang terkait dengan diri saya.

Bentukan situasi, perspektif, dan persepsi. Bolehlah kita menyebut semua itu sebagai dimensi kodrati dari hal percaya atau beriman. Bahwa saya percaya atau beriman, sebutlah kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak lepas dari situasi, perspektif, dan persepsi.

Tapi sebagai orang beriman, tentulah kita tidak mengasalmuasalkan hal percaya atau beriman kita pada faktor-faktor yang terhisab dalam dimensi kodrati semata. Kita juga meyakini adanya dimensi lain, yang adikodrati sifatnya, yang bekerja di dalam dan melalui faktor-faktor yang terhisab dalam dimensi kodrati. Dalam tradisi Calvinis kita menyebutnya “karya Roh Kudus yang melahirbarukan.” Artinya, Roh Kudus membuat “kebenaran” yang terpapar dalam (pemberitaan) firman Tuhan efektif dalam diri kita dengan menata situasi dan menggarap perspektif dan persepsi kita. Alhasil, kita percaya atau beriman kepada Yesus Kristus. Kiranya ini sejalan dengan sabda Yesus dalam Yohanes 6.44: “Tidak seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku...”

Fase II: Kukenal Dia yang Kupercaya

Fides quaraens intellectum. Iman yang mencari pengertian. Dictum agung Anselmus Canterbury dari Abad XI. Bahwa saya beriman atau percaya adalah suatu kenyataan. Sekarang, dalam posisi sebagai orang beriman, saya ingin mengenal dengan lebih mendalam dan mengerti dengan lebih baik Siapa dan apa yang saya percaya. “Aku mengetahui kepada Siapa aku percaya...,” kata “Rasul Paulus” (2Timotius 1.12). Bagaimana caranya?

Di hadapan saya ada Alkitab. Komunitas dan tradisi iman kami (Kristen) telah mewariskan Alkitab kepada saya (kami) dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah. Ya, kami meyakini bahwa sumber asasi Alkitab, “perpustakaan mini” yang memuat tulisan-tulisan keagamaan yang terbentuk dalam kurun waktu 11 abad itu, adalah Allah sendiri. “Segenap Tulisan [suci] adalah dinafaskan Allah...” (pasa graphe theopneustos, 2Timotius 3.16). Allah menafaskan atau mengilhamkan Alkitab. Inspiratio, kata dogmatika.

Sebagai firman Allah, begitulah komunitas iman kami percaya, Alkitab “bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang di dalam kebenaran, sehingga tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi dengan setiap perbuatan baik” (2Timotius 3.16-17).

Dalam pada itu, meski diakui keyakinan dan pengakuan komunitas iman kami (termasuk saya) bahwa Alkitab adalah firman Allah dan dengan demikian bermanfaat (untuk mengajar, menyatakan kesalahan, dst.) kena-mengena dengan keyakinan kami bahwa Alkitab memberi kesaksian tentang Yesus Kristus. Alkitab adalah firman Allah, dalam arti ia adalah firman (perkataan) tentang Allah yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus. Di luar keyakinan dan pengakuan akan kena-mengenanya Alkitab dengan Yesus Kristus, kita tidak bisa memperlakukan Alkitab sebagai firman Allah.

Ada “Peristiwa Yesus”, yang dimaknai dan diwartakan dengan warna-warni yang khas para penulis Perjanjian Baru dan komunitas-komunitas iman yang mereka wakili. Dalam memaknai dan mewartakan Peristiwa Yesus, mereka membaca Kitab Suci orang Yahudi, yang kemudian menjadi bagian pertama dari Kitab Suci Kristen, Perjanjian Lama. Jadilah: Perjanjian Lama telah memberi sasmita tentang Yesus Kristus, dan Perjanjian Baru menjabarkan penggenapan sasmita itu. Jadilah, Alkitab, PL dan PB itu, memberi kesaksian tentang Yesus Kristus.

Sementara Alkitab memberi kesaksian tentang Yesus Kristus, Alkitab juga mengatakan bahwa Yesus Kristus menyatakan Allah. Sangat menarik kata-kata dalam Yohanes 1.18: “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang berada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Allah menyatakan diri dalam Yesus Kristus. Oke. Tapi itu dalam artian bahwa Yesus, “Anak Tunggal Allah” itu, menyatakan (kata Yunani yang dipakai: eksegeomai, mengeksegesis; menggali dan mengungkap; atau menyingkapkan) Allah kepada manusia.

Allah tidak terlihat, Yesus (selaku figur konkret sosio-historis) terlihat, berdarah daging, “anak manusia” – dalam arti salah seorang di antara kita. Incarnatio ([Filii] Dei), kata dogmatika. Bagaimana Yesus yang terlihat menyatakan Allah yang tidak terlihat kepada manusia?

Secara praktis, kita bisa menjabarkan begini. Pertama, Yesus memiliki dan mengusung idea tertentu tentang Allah. Allah yang bagaimana? Allah memilih untuk mengutamakan kaum miskin (anawim, ptokhoi). Miskin dalam arti ekonomik: kaum terhisap, yang hasil kerjanya diambil oleh pihak lain dalam tatanan (-tatanan) ekonomi-politik yang tidak adil. Miskin dalam arti politik: kaum tertindas, yang dijajah, diperlakukan sewenang-wenang, dibungkam suaranya, pendeknya, diabaikan hak-haknya sebagai manusia. Miskin dalam arti kultural: kaum marjinal, yang secara “masif, sistematis, dan struktural” (meminjam istilah Wowo & the gang) dipinggirkan dari akses kepada Allah dan komunitas iman (dalam bidang keagamaan) dan dianggap sebagai sampah masyarakat. Dalam “Manifesto Nazaret” (Lukas 4.18-19), Yesus mencanangkan misi-Nya, yang secara hakiki menampilkan Allah yang berpihak kepada kaum miskin.

Kedua, Yesus menghidupi idea-Nya tentang Allah. Menindaklanjuti Manifesto-Nya, Yesus mengorientasikan diri-Nya kepada kaum miskin. Ia mewartakan Kerajaan Allah, yang secara khusus (tapi tidak eksklusif) diperuntukkan bagi mereka. Berbahagialah orang miskin, kata Yesus, oleh karena orang miskin adalah pemilik Kerajaan Allah (Lukas 6.20-21). Ia menerima kaum perempuan untuk menjadi bagian dari murid-murid-Nya. Ia menyambut anak-anak kecil dan memberkati mereka. Ia bersahabat dengan para pemungut cukai, orang berdosa, dan para perempuan yang bekerja sebagai pelacur sebagai sahabat. Ia menyembuhkan orang-orang yang karena mengidap sakit-penyakit tertentu dipandang oleh agama resmi sebagai kaum yang telah dibuang oleh Allah dan dengan demikian dibuang oleh masyarakat.

Dalam pada itu, menghidupi idea tentang Allah yang berpihak kepada kaum miskin tidak membuat Yesus membenci kaum kaya dan kuasa an sich. Kuasa-kuasa atau tatanan-tatanan yang menghisap, menindas, dan memarjinalkan-lah yang dilawan-Nya: trinitas keji Mamon-Kaisar-Kenisah. Bila ada kaum kaya, penguasa, dan terhormat bertobat dari penghisapan, penindasan, dan marjinalisasi serta menggunakan kekayaan, kekuasaan, dan posisi terhormat mereka untuk melayani kaum miskin (yang disebut-Nya “saudara-saudara-Ku yang paling hina ini”, Matius 25.39, 45), pintu Kerajaan Allah dibuka-Nya bagi mereka.

Zakheus, bos pemungut cukai yang bertobat dengan mengganti empat kali lipat orang-orang yang telah dirugikannya serta membaktikan setengah dari harta kekayaannya untuk melayani kaum miskin, disebut-Nya “anak Abraham” (Lukas 19.9). Nikodemus, seorang “pemimpin agama Yahudi” (Yohanes 3.1), tidak dikecualikan. Demikian juga seorang kaya yang datang kepada-Nya untuk menanyakan syarat untuk memperoleh hidup yang kekal (Markus 10.17). Sayangnya, hatinya begitu terikat pada hartanya yang sangat banyak itu, sehingga ia pergi meninggalkan Yesus.

Ketiga, Yesus mati karena idea-Nya tentang Allah. Yesus konsisten dengan idea-Nya tentang Allah. Praksis Kerajaan Allah atau praksis keadilan, itulah yang telah dihidupi-Nya. Praksis tersebut memiliki dua sisi: berpihak pada kaum miskin dan menantang trinitas keji Mamon-Kaisar-Kenisah yang tak lain dari tatanan-tatanan yang menghisap, menindas, dan memarjinalkan sebagian terbesar manusia (=kaum miskin).

Konsisten dengan praksis itu berarti mengambil posisi subversif. Kuasa-kuasa alias trinitas keji Mamon-Kaisar-Kenisah bereaksi keras. Mereka menangkap, mengadili, dan menghukum mati Yesus dengan dalih subversif: Raja Orang Yahudi. Kelak Gereja Awali mengutip Mazmur 2 untuk menafsirkan murka trinitas keji kepada Yesus: “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN yang diurapi-Nya” (Mzm 2.1-2; Kisah Para Rasul 2.23; 4.25-26).

Dalam arti ini kiranya tidak berlebihan menyebut Yesus sebagai seorang revolusioner: Ia mengusung suatu idea, menghidupi idea itu dengan konsisten, dan mati demi idea itu.

Keempat, melalui Peristiwa Paska, Allah memvidikasi Yesus dan idea-Nya tentang Allah. Pada hari ketiga, Yesus bangkit dari antara orang mati. Murid-murid-Nya, dimulai dari kaum perempuan, mendapati kubur kosong dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang Bangkit. Dengan matriks teologi tentang kemartiran orang saleh, Gereja Awali memahami pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang Bangkit sebagai tindakan Allah yang membenarkan Yesus. Dia yang disalahkan manusia (=kaum penguasa), dibenarkan Allah. Dia yang dihinadinakan manusia (=kaum penguasa), dimuliakan Allah. Dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati, Allah mengukuhkan Yesus sebagai Tuhan dan Kristus (Kisah Para Rasul 2.36). Itu berarti Yesus benar, demikian juga idea-Nya tentang Allah yang berbelarasa dan berpihak kepada kaum miskin.

Lazimnya, kebangkitan pada hari ketiga menunjuk pada kebangkitan semua orang mati pada hari kiamat. Tapi Yesus bangkit mendahului peristiwa itu.  

Mengapa Percaya/Beriman?

Mengapa percaya atau beriman? Melalui fase pertama dan kedua, kita mendapati bahwa ada sesuatu tentang Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, begitu persepsi kita pada fase pertama. Saya percaya kepada Yesus Kristus karena – menurut persepsi saya – Dia adalah Tuhan dan Juruselamat.

Melalui fase kedua, saya percaya bahwa Yesus Kristus adalah adalah “Allah,” dalam arti di dalam Yesus Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia; atau, Yesus menyatakan Allah kepada manusia, dengan jalan mengusung idea tentang Allah yang berpihak kepada kaum miskin, menghidupi idea itu dengan konsisten, mati karena idea itu, dan bangkit dari antara orang mati sebagai pengukuhan Allah bahwa Yesus dan idea-Nya tentang Allah benar – dan karena layak dipercaya. Itulah yang bisa saya simpulkan dari persepsi saya terhadap kesaksian Alkitab tentang Yesus Kristus.

Yesus Kristus, Dialah Junjungan saya. Saya rindu mengikut Dia, menyatupadu dengan Allah, Bapa-Nya, dalam keberpihakan kepada kaum miskin – yakni mereka yang terhisap, tertindas, dan termarjinalkan karena sistem ekonomi-politik yang tidak adil, kekuasaan politik yang korup, dan sistem religio-kultural yang mendehumanisasikan manusia.

Terpujilah Allah!

Rudolfus Antonius-Bumi Mataram, 16 November 2014

Selasa, 26 Februari 2013

MEMBACA ARTIKEL "WARIA ISTIMEWA"

Oleh: Rudolfus Antonius


“Waria Istimewa”, (18 Februari 2013)

Sempat saya tertegun membaca tulisan ini. Perihal keberadaan pesantren waria ini saya sudah mengetahui sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi sharing dari penulis laporan ini, meski singkat, membuat saya termenung. Ini mengusik penghayatan saya tentang Yesus Kristus, Junjungan saya. Lama saya tidak bisa menuangkan apa yang menggelisahkan hati dan pikiran dalam permenungan saya. Baru dua hari ini saya bisa – dengan tertatih-tatih – melakukannya. Moga sharing refleksi saya ini ada manfaatnya.

Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” adalah sebuah “tanda”. Yang ditandakan setidaknya dua sisi realitas. Kedua sisi itu bertentangan, namun yang satu mengandaikan yang lain.

Sisi yang pertama menyangkut agama arus utama, yang ortodoks, yang konvensional. Agama ini memiliki “kawasan roh” yang memproyeksikan kecurigaan bahkan kebencian patriarkis terhadap yang berbeda. “Kawasan roh” itu adalah Tuhan/Allah yang maskulin. Terhadap kaum perempuan, Tuhan yang satu ini seksis, tak jarang misoginis – suatu rekaman kegelisahan laki-laki untuk “mempertahankan” supremasi atas perempuan. Terhadap kaum yang memiliki orientasi seksual yang berbeda, Allah yang satu ini sarat dengan kutuk dan murka – suatu rasa terhina patriarkis terhadap “laki-laki” yang merendahkan “kelelakian” di satu sisi, dan merasa terancam terhadap “perempuan” yang dipandang menyangkal “keperempuanan” dan mengambil peran “kelelakian.” Perasaan terhina dan perasaan terancam ini berakar sangat dalam di rawa-rawa bawah sadar kolektif laki-laki sejak manusia mulai mengenal modus produksi yang menempatkan laki-laki di pusat proses produksi dan meminggirkan perempuan menjadi konco wingking. Tuhan/Allah adalah Laki-laki pemarah, tidak bisa menerima yang berbeda (karena itu berarti menghina dan/atau mengancam), pencemburu, dan seringkali haus darah.

Manusia menciptakan Tuhan/Allah menurut gambar dan rupanya. Tuhan/Allah adalah konstruksi sosial, yang mencerminkan pihak yang dominan dalam masyarakat. Tidak hanya itu, Tuhan/Allah diciptakan sebagai pencipta tatanan yang membuat dominasi pihak tertentu tampil sebagai sesuatu yang alami bahkan ilahi. Lebih-lebih, Tuhan/Allah diciptakan untuk mempertahankan sistem dominasi tersebut. Itulah sebabnya Tuhan/Allah tidak pernah bisa adil, sejauh keadilan itu didefinisikan oleh pihak yang dominan dalam masyarakat. Pihak-pihak yang tertindas pun, di antaranya kaum perempuan, waria, gay, dan lesbian, berhadapan dengan keadilan yang menempatkan mereka di nomor sekian dan sekian bahkan tak masuk hitungan. Code of holiness, yang tak lain dari seperangkat tabu yang menjabarkan persepsi para lelaki saleh tentang Tuhan/Allah dan laki-laki menjauhkan kaum perempuan, waria, gay, dan lesbian dari Sang Tuhan atau Sang Allah.

Agama monoteistik seperti Islam dan Kristen, adalah agama patriarkis, agama para lelaki saleh yang berusaha mengukuhkan dan mempertahankan dominasinya dengan menciptakan kawasan roh yang angker yang dilindungi dengan Code of Holiness yang sarat dengan tabu. Dilaksanakan dengan konsekuen, Agama Islam ortodoks dan Agama Kristen ortodoks tidak memiliki tempat utama bagi perempuan, bahkan tidak ada ruang di dalamnya bagi waria, gay, dan lesbian. Dengan menggunakan perspektif ini, kita memahami keberadaan Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” sebagai tanda: tidak ada tempat bagi para waria dalam ortodoksi dan agama konvensional. Jika di sana ada ruang, sulit membayangkan adanya Pesantren “Waria.” Jika ada ruang, para waria akan nyantri atau setidaknya beribadah bersama dengan manusia-manusia yang “normal.”

Sisi yang kedua adalah praksis pembebasan. Tidak beroleh tempat dalam ortodoksi dan agama konvensional tidak menghambat kerinduan para waria akan Tuhan atau Allah. Memang kita bisa bertanya, apakah Tuhan/Allah ini tetap sosok Laki-laki? Boleh jadi. Tapi toh Dia bukan lagi Laki-laki pemarah dan pencemburu. Laki-laki ini bisa menerima yang berbeda. Laki-laki ini tidak haus darah. Mungkin juga, dalam kawasan roh para waria ini, Tuhan/Allah adalah seorang Waria – karena Tuhan/Allah toh proyeksi manusia – yang dengan compassion-Nya bisa menerima mereka apa adanya. Atau tidak berjenis kelamin? Secara formal, semua agama monoteistik mengatakan hal yang sama. Tapi itu abstrak, dan yang abstrak terlalu sukar untuk menjadi sasaran devosi – karena devosi toh ekspresi konkret personal dan manusia yang konkret personal. Andaipun abstrak secara konseptual, toh harus konkret secara devosional. Dalam konteks ini, bahasa menjadi kendaraan proyeksi dan menjadi alat untuk menciptakan Tuhan/Allah yang konkret personal. Teoretis, tanpa manusia tidak ada Tuhan/Allah; tanpa bahasa Dia tidak ada. Tuhan/Allah ada sejauh manusia membahasakannya – tidak hanya dalam teologi tapi juga dalam devosi.

Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” adalah suatu tanda pembebasan. Kaum Waria telah memilih Tuhan/Allah mereka. Mereka mengalami penerimaan sebagai manusia. Mereka berdevosi kepada-Nya, Laki-laki Luhur atau Waria Agung yang tidak mengasingkan mereka karena keberbedaan mereka. Ini menolong mereka dalam mengisi dan memaknai hidup mereka. Keberlainan telah menciptakan Transendensi. Transendensi telah memberikan makna kepada keberlainan. Dengan jalan itu, Transendensi menjadi Imanensi. Tuhan/Allah hidup dalam hidup para waria.

Andaikata Yesus dari Nazaret hidup di sini dan kini, bagaimanakah sikap-Nya terhadap para waria? Seperti FPI yang dengan paksa membubarkan seminar HAM para waria beberapa tahun yang lalu? (Depok, 30 April 2010, lihat Dewi Safitri, "FPI Serbu Seminar Waria", http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2010/04/100430_wariaseminar.shtml). Atau seperti alm. KH Hamroeli Harun yang justru berlaku laksana Orang Samaria yang Berbelarasa? Mungkin kita hanya bisa menduga-duga. Tapi dugaan kita kiranya tidak meleset bila kita mempertimbangkan “kawasan roh” Yesus dari Nazaret.

Sepintas, “kawasan roh” Yesus dari Nazaret tidak beda dengan orang-orang sezaman, termasuk para Farisi dan kaum alim-ulama Yahudi. Sama-sama memuja Yahweh, Allah Israel. Tapi Yahweh-Nya Yesus beda radikal dengan Yahweh-nya para alim-ulama. Kita mahfum, bahwa Yahweh-nya para alim ulama menyisihkan begitu banyak orang (am-haarets alias abangan, perempuan, orang berdosa [termasuk pelacur, pemungut cukai, gembala, dsb], orang yang kerasukan setan, orang yang mengidap penyakit akibat dikutukmurkai-Nya) dari sisi-Nya, dan hanya menerima segelintir orang (yang saleh karena setia melaksanakan syariah sampai ke titik-komanya dan setia dengan aneka ritus dari yang gratis sampai yang berbiaya mahal). Laki-laki ini punya dua pintu rahasia, di balik benteng Code of Holiness-nya: neraka bagi kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan, dan sorga bagi para lelaki saleh yang sanggup memabukkan diri dengan syariah.

Yahweh-Nya Yesus persis kebalikannya. Revitalisasi dari Yahweh-nya kaum eks budak dan tani Kanaan yang membebaskan diri dari dominasi Mesir dan raja-raja negara-kota Kanaan penganut Modus Produksi Asiatik (yang supereksploitatif itu), Yahweh-nya Yesus adalah Sang Belarasa dan Pembebas. Yahweh-Nya Yesus berbelarasa, memilih untuk mengutamakan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Dia memerdekakan (= membebaskan) mereka dengan mengaruniakan kepada mereka Kerajaan-Nya. Ya, Kerajaan Allah, pemerintahan Allah yang menyelamatkan, yang dengan belarasa dan keadilan-Nya mengaruniakan shalom kepada orang-orang berdosa yang sekaligus juga para korban dari struktur-struktur sosial yang berdosa.

Terhubung akrab dengan “kawasan roh” itu, Yesus terserap ke dalam jiwa dan semangat Yahweh-Nya. Premis nilai Yahweh-Nya menjadi premis nilai-Nya sendiri. Kerajaan Allah Yahweh-Nya menjadi summum bonum-Nya sendiri. Pilihan Yahweh-Nya untuk mendahulukan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan menjadi pilihan-Nya pula. Ia mewartakan Kabar Baik kepada kaum berdosa yang sekaligus juga korban dari struktur-struktur sosial yang berdosa, dalam sikap, ajaran, maupun mukjizat-mukjizat-Nya (yang tidak sekadar bertemakan keajaiban, tetapi pemanusiawian [memulihkan harkat dan martabat manusia] dan dengan demikian berdimensi sosial). Ia menerima mereka dan mencita-citakan sebuah komunitas alternatif, di mana Allah adalah Bapa (ungkapan patriarkis yang masih “tersisa” dalam bahasa Yesus, namun kerap dimaknai-Nya secara feminin: memelihara, merawat, mengasuh) bagi semua dan semua adalah saudara-saudari seorang dengan yang lain.

Kerajaan itu ditujukan terutama bagi mereka yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Tapi kaum kaya dan berkuasa juga diberi kesempatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah – yakni bila mereka bersedia bertobat: (1) mengakhiri penindasan, penghisapan, dan kesewenang-wenangan mereka; (2) menggunakan kekayaan dan kekuasaan mereka untuk melayani yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan; serta (3) turut serta dalam praksis keadilan dan pemerdekaan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Meminjam ungkapan Almilcar Cabral: melakukan bunuh diri kelas.

Bila benar begitulah kawasan roh, summum bonum, dan praksis Yesus dari Nazaret, agaknya sama sekali tidak berlebihan bila kita menduga bahwa bila Dia hidup di sini dan kini, Yesus dari Nazaret tidak akan mengambil posisi ortodoksi atau agama konvensional atau agama arus utama perihal para waria. Kalau begitu, tak sulit pula mencandra bahwa Yesus dari Nazaret akan menempuh jalan seperti yang ditempuh oleh alm. KH. Hamroeli Harun. Bukan tidak mungkin Yesus dari Nazaret akan mendirikan pesantren atau padepokan yang di dalamnya kaum waria diterima dengan tangan terbuka, bersama-sama dengan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan lainnya.

Gereja, sebagai wujud sosiologis Kekristenan, perlu “meluangkan” waktu untuk menggumuli para liyan ini. Masalahnya, sementara ortodoksi semakin kental dan formalisme semakin membatasi dinamika Jiwa dan Semangat Yesus dari Nazaret (yang coba dikomunikasikan kepada Gereja dan orang Kristen melalui Roh Kudus) dan kesibukan untuk asyik dengan diri sendiri semakin padat (kegiatan gerejawi dari Minggu ketemu Minggu tiada putus-putusnya, yang sebagian terbesar berorientasi memelihara monumen-monumen perjuangan masa silam), jangan-jangan Gereja semakin kerasan di zona nyamannya. Sejauh Code of Holiness dan Laki-laki pemarah (yang tidak bisa menerima yang berbeda, pencemburu, dan seringkali haus darah) tidak diganggu-gugat, sepertinya semua baik-baik saja. Agaknya, suara-suara kenabian, kendati seperti seruan di padang belantara, harus terus dikumandangkan. ***

Minggu, 05 Desember 2010

MAGNIFICAT ANAK DARA MARIA

Oleh: Pandu Jakasurya

Revolusioner! Begitulah kiranya kesan kita ketika membaca Magnificat Anak Dara Maria. Betapa tidak! Simak saja:

Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa

”Orang-orang yang takut akan Dia”, ”orang-orang yang rendah”, dan ”orang yang lapar” ada di pihak yang satu; sedangkan ”orang-orang yang congkak hatinya”, ”orang-orang yang berkuasa”, dan ”orang yang kaya” ada di pihak yang lain. Keduanya berseberangan, berhadap-hadapan. Allah berdiri di pihak yang pertama; Dia berdiri sebagai lawan pihak yang kedua. Sebuah revolusi sosial, dengan aspek-aspeknya yang teologis, politik, dan ekonomik. Barangkali sebuah revolusi Marxis dengan theistic point of reference; atau setidak-tidaknya praksis aspirasional dari theology of liberation.

Sangat menarik. Secara naratif kidungan revolusioner ini dinyanyikan oleh Anak-Dara Maria. Biasanya kita membayangkan sang anak-dara sebagai seorang gadis polos lugu nan lemah-lembut, penuh kesalehan yang serba pasrah kepada Yang Mahakuasa. “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu,” begitu katanya kepada Gabriel sang pesuruh sorgawi. Tapi, demikian Narasi Lukas, Maria yang taat-beriman adalah Maria yang sama dengan Anak-Dara yang revolusioner.

Keduanya, yakni sikap taat-beriman dan watak-revolusioner tidaklah bertentangan. Bahkan justru karena sikap taat-berimanlah kiranya Sang Anak-Dara menjadi revolusioner. Persoalannya terletak pada siapa dan/atau apa yang diimani dan ditaati. Bila yang diimani dan ditaati adalah sosok ilahiah tetiron macam Mamon (simbol tatanan-ekonomik yang eksploitatif), Kaisar (simbol tatanan-politik yang represif), dan Kenisah (simbol tatanan-agamawi yang eksklusif, diskriminatif, memarjinalkan, dan menghamba kepada Mamon dan Kaisar), watak-revolusioner merupakan suatu kekejian. Tapi bila yang diimani dan ditaati adalah Allah-nya kaum yang miskin-tertindas, seperti Allahnya Maria Sang Anak-Dara, maka watak-revolusioner merupakan merupakan watak yang lahir-terbentuk dari ilham ilahi sejati dan yang diarahkan-Nya untuk mengekspresikan diri dalam praksis keadilan yang historis: Pembebasan kaum miskin-tertindas.

Di sini kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: sosok ilahiah manakah yang kita imani dan taati? Sinful Trinity Mamon-Kaisar-Kenisah (yang merupakan proyeksi dari sinful trinity Hartawan-Penguasa-Agamawan yang dikutuk habis-habisan oleh Nabi-nabi Perjanjian Lama) atau Allah-nya kaum miskin-tertindas alias kaum paupertariat, atau minjung dalit anawim? Nama boleh sama (misalnya: Yahweh, Allah, Yesus Kristus dan sebagainya). Tapi watak berbeda sangat. Seratus delapan puluh derajat. Yang satu melegitimasi, menjustifikasi, dan melestarikan tatanan yang tidak adil. Yang lain subversif, menolak tatanan yang tidak adil, memproklamirkan tatanan-baru yang adil-manusiawi (”Kerajaan Allah”), dan berinkarnasi dalam praksis keadilan atau pembebasan. Yang satu adalah bangunan-atas yang merupakan proyeksi dari basis hubungan-hubungan produksi sosial yang tidak adil; yang lain adalah bangunan-atas yang persis terbalik, yang lahir dari jeritan kaum tertindas dan menjadi kontra-proyeksi dari basis hubungan-hubungan produksi yang tidak adil. Jadi ada Yahweh, Allah, atau Yesus Kristus yang berpihak pada kaum penindas dan membenarkan penindasan; dan di sisi lain ada Yahweh, Allah, atau Yesus yang berpihak pada kaum tertindas dan memvindikasi praksis keadilan. Sekali lagi, sosok ilahiah mana yang kita imani dan taati?

Bagi Anak-Dara Maria, jawabannya sangat jelas. Sosok-ilahiah yang diimani dan ditaatinya adalah Allahnya kaum miskin-tertindas. Allah yang subversif; Allah yang revolusioner; Allah yang Kiri, the Leftist God. Tak heran bila Anak-Dara Maria berwatak revolusioner, sebagaimana terungkap dalam kidungannya. Ia mengaku dirinya sebagai “hamba Tuhan” (1.38, 48). Dalam pada itu ia juga mengakui Israel sebagai hamba Tuhan (lihat 1.54). Dengan jalan itu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Israel. Tapi Israel yang mana? Istilah-istilah yang tersaji dengan paralelisme-sinonim dan paralelisme-antitesis menolong kita untuk memahami siapakah Israel yang dengannya Sang Anak-Dara mengidentifikasikan diri. Ada tiga pasang paralelisme-antitesis:

”Orang-orang yang takut akan Dia”       vs  ”orang-orang yang congkak hatinya”
”Orang-orang yang rendah”                  vs  ”orang-orang yang berkuasa”
”Orang yang lapar”                               vs  ”orang yang kaya”

Dari paralelisme ini jelaslah: Israel tidak didefinisikan dengan “orang-orang yang congkak hatinya”, “orang-orang yang berkuasa”, dan “orang kaya”. Congkak, berkuasa, dan kaya, itu bukan Israel. Sebaliknya, Israel didefinisikan dengan “orang-orang yang takut akan Dia”, “orang-orang yang rendah”, dan “orang yang lapar.” Itulah Israel. Itulah anawim, kaum miskin-tertindas yang hanya berharap kepada Allah dan mengandalkan rahmat-Nya semata-mata. Mereka sangat miskin, melarat, sampai-sampai kelaparan. Mereka rendah, hina, dan tak berdaya, karena mereka tidak mempunyai kuasa baik ekonomik maupun politik. Tapi sosok ilahi yang sejati mempedulikan mereka, hidup di dalam mereka, menderita bersama dengan mereka, dan berjuang-dan-menang bersama mereka pula.

Dengan mengidentifikasikan dirinya dengan anawim, Anak-Dara Maria memaknai pengalamannya sebagai bagian dari rencana-aksi pembebasan ilahi atas kaum miskin-tertindas. Melalui sang pesuruh sorgawi Allahnya kaum miskin-tertindas melibatkannya dalam karya menghadirkan Sang Mesias ke dunia. Taat-beriman, ia bersedia. Elizabet sepupunya memberikan konfirmasi; dengan kuasa Roh Kudus ia berseru dengan suara nyaring demi mendengar salam Sang Anak-Dara:

”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan
dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Sebab sesungguhnya,
ketika salammu sampai kepada telingaku,
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Dan berbahagialah ia, yang telah percaya,
sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (1.42-45)

Maka Maria pun mengidungkan:

”Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang
segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (1.46-49).
Tapi ia menyusul baris-baris syair itu dengan

“Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (1.50-53)

Seakan ia berkata: Tuhan telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya, yakni aku. Itu dilakukannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku. Aku terhisab dalam ”Israel”, anawim, yakni orang yang takut akan Dia, orang-orang yang rendah, dan orang yang lapar. Sama halnya dengan aku, yang mengalami kepedulian dan perbuatan-perbuatan besar Tuhan, demikian pulalah mereka. Lihat saja. Rahmat-Nya turun-temurun atas anawim; Ia meninggikan anawim; Ia melimpahkan segala yang baik kepada anawim. Sebaliknya, Ia malah menceraiberaikan kaum-kuasa, menggulingkan mereka dari tampuk kekuasaan, dan menyuruh mereka pergi dengan tangan hampa. Mesias yang akan kulahirkan akan menjadi meterai praksis keadilan sebagai tindakan Allah yang paling menentukan: membebaskan anawim dan menghukum kaum-kuasa. Karena itu pengalamanku menjadi ibu Sang Mesias merupakan bagian dari praksis keadilan, karya pembebasan.

Dalam pandangan Sang Anak-Dara, praksis keadilan itu merupakan penggenapan janji Allah kepada Abraham dan keturunannya: ”Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya” (1.54-55). Janji apa? Janji bahwa mereka akan menjadi berkat bagi segala bangsa (Kej 12.3; 22.18;26.4;28.14). Ya, segala kaum dan bangsa yang tertindas, yang menjadi korban exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation.

Refleksi

Pertama, apa makna Magnificat bagi Gereja? Mendengar pertanyaan ini diajukan, sementara orang terdorong untuk melanjutkannya dengan pertanyaan: “Gereja yang mana yang Saudara maksudkan?” Sekilas “pertanyaan lanjutan” ini konyol. Tapi justru karena kekonyolannya, pertanyaan ini menjadi krusial. Sebagaimana Antonio Gramsci, Marxis Italia, membedakan antara Katolisisme elit dan Katolisisme populis, demikianlah kiranya ada Yahweh-Allah-Yesus tetiron jelmaan sinful-trinity Mamon-Kaisar-Kenisah di sisi Kanan dan ada Yahweh-Allah-Yesus sejati yang berkomitmen kepada kaum miskin-tertindas di sisi Kiri. Dihadapkan pada dua sosok ilahi dengan nama yang sama, respons Gereja akan memperlihatkan jati-dirinya yang sesungguhnya. Magnificat adalah salah satu batu-ujinya.

Bila Gereja ”mengharamkan” Magnificat (entah dengan mengabaikannya sebagai bagian dari Narasi Nativitas entah dengan menolaknya karena bisa menyinggung para tuan-nyonya yang terhormat) atau ”menafsirkannya secara rohani”, jelaslah jati-dirinya. Itulah Gereja Kanan, penyembah lembu emas bernama Yahweh-Allah-Yesus jelmaan sinful trinity. Bila Gereja menjadikan Magnificat sebagai inspirasi sekaligus dorongan untuk berkomitmen pada kaum miskin-tertindas bahkan mengimplementasikannya dalam revolusi sosial sampai titik-darah yang penghabisan, jelas pulalah jati-dirinya. Itulah Gereja Kiri, pengabdi Allah sejati dan Kerajaan-Nya. Tapi barangkali, menurut diferensiasi klas yang ada di dalamnya, Gereja terbelah di antara anggota-anggota jemaatnya yang berposisi Kiri dan yang berposisi Kanan dalam menanggapi Magnificat Anak-Dara Maria. Jadi di dalam satu Gereja yang ”sama” orang-orangnya menjadi Gereja-gereja yang berbeda, yang masing-masing menyembah atau mengabdi kepada Tuhan-tuhan yang berbeda meski dengan nama yang sama. Padahal kata Yesus dari Nazaret: ”Kamu tidak dapat melayani Allah sekaligus melayani Mamon.” Maka bila kita memparafrasekan kata-kata Frei Beto: ”Yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya bukanlah agamanya, tetapi di sisi mana mereka berdiri, di sisi penindas atau di sisi kaum tertindas.”

Kedua, dalam perspektif Magnificat Anak-Dara yang revolusioner itu, masa-masa jelang Natal secara khusus merupakan test case bagi Gereja dan orang-orang yang mengenakan Kristus sebagai identitas keagamaannya:

  • Kristus manakah yang dipuja bila Gereja dan orang-orang Kristen larut dalam extravaganza?
  • Kristus manakah yang disanjung bila ”Dia” kelu dalam mengajukan tuntutan ”bunuh-diri klas” seperti yang dipatuhi oleh Barnabas dan dilakukan kaum burjuis-kecil yang mengkomitmenkan hidup mereka pada praksis keadilan seperti Che Guevara, Rama Camilo Torres, Nestor Paz, Rama Rutilo Grande, Uskup Agung Oscar Romero, dan lain-lainnya?
  • Kristus macam mana yang nyaman bermahkota emas dan disemayamkan di dalam gedung gereja yang mewah gemerlap sementara pada saat yang sama Ia sanggup bertemu dengan kaum paupertariat yang berdesak-desakan di pemukiman kumuh di sekitar ”istana pualam” (baca: penjara mewah) bersalib besar?
  • Kristus macam mana yang mengatakan bahwa orang miskin selalu ada di antara para pengikut-Nya tanpa bermaksud menggugat tatanan ekonomi-politik-religius yang justru menjadi sumber sekaligus pelestari segala kemelaratan?

Ketiga, ”bunuh-diri klas”, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Mario Cabral, adalah harapan satu-satunya bagi kaum-kuasa sebelum mereka terjungkal oleh revolusi sosial yang digerakkan Allah. Para teolog pembebasan menyebutnya evangelical poverty, yang secara hakiki berarti preferential option for the poor (and the oppressed). Kita mendengar gaung bunuh-diri klas dari kidungan Magnificat yang mengontraskan anawim dengan kaum-kuasa.

Kaum burjuis jauh dari kelaparan, dan pada mereka ada kekuasaan ekonomi dan politik. Kaum burjuis-kecil mungkin tidak mengalami kelaparan, meski mereka tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik. Tapi bila benar mereka takut akan Tuhan, Allah-nya kaum miskin-tertindas, Allahnya Maria Sang Anak Dara, adakah konsistensi-etis lain kecuali melakukan bunuh-diri klas? Dengan kata lain, adakah jalan lain kecuali terlibat dalam praksis keadilan alias perjuangan pembebasan bersama dengan kaum tertindas? (Dan itu menuntut: demokratisasi kepemilikan, akses, dan kontrol terhadap alat-alat produksi massal!).

Dengan ”bunuh-diri klas” kaum burjuis dan burjuis-kecil, ya, kita, akan terhisab ke dalam anawim. Kita pun menjadi kaum revolusioner, seperti Anak-Dara Maria. Dalam perjuangan bersama dengan kaum paupertariat, kita akan membidik revolusi sosial; revolusi yang digerakkan Allah, yang tidak akan menjungkalkan kita untuk mencium debu dan menjadi debu, melainkan mengarahkan kita untuk membangun tatanan baru ekonomik, politik, dan agamawi yang adil-manusiawi sebagai replika Kerajaan Allah. ***

Semarang, Minggu II Adven 2010