Minggu, 08 Maret 2020

PRA PASKAH II 2020: TETAP PERCAYA DI TENGAH BADAI

www.pinterest.com
Matius 8.23-27

Rudolfus Antonius


Para murid merasa heran, benar-benar heran. Mereka terperangah. Hati mereka takjub. Pikiran mereka bingung. Betapa tidak! Mereka baru saja mengalami peristiwa-peristiwa yang sangat dahsyat.

Ceritanya begini. Perahu yang mereka tumpangi “diliputi oleh ombak-gelombang” (kaluptesthai hupo tôn kumatôn, 8.24b). Sebab-musababnya: “gempa bumi yang dahsyat telah terjadi di dalam danau” (seismos megas egeneto en tê thalassê, 24a). Ya, ombak-gelombang itu disebabkan oleh gempa di bawah danau. Dengan kata lain: TSUNAMI! 

Murid-murid itu segera menyadari: maut sedang mendatangi mereka. Perahu akan hancur, dan mereka akan tenggelam. Siapakah yang sanggup menghadapi ganasnya alam yang sedang “murka”? Kita binasa! (apollumetha, ay 25). Saat itu nyali mereka menjadi ciut. Mereka ketakutan (deiloi, ay 26).

Sementara itu, Yesus justru sedang tidur (ekatheuden, dari katheudô). Dalam keadaan segawat itu, saat maut bukan saja sedang mengintai melainkan tengah memburu mangsanya! Sepertinya ironis. Mungkin kita jadi ingat kepada Yunus, yang tidur dengan nyenyak di “ruang kapal yang paling bawah” (Yunus 1.5) ketika para awak kapal sedang berjuang menyelamatkan kapal dari badai besar (ay 4-5). Seolah tidak peduli!

Tapi mungkin juga kita teringat kepada orang-orang saleh yang bisa tidur dengan nyenyak di tengah prahara karena benar-benar mengimani perlindungan Allah (Ayub 11.18-19; Mazmur 3.6-7; Amsal 3.24-26). Atau, boleh jadi kita ingat bagian-bagian Alkitab yang mengungkapkan kesan umat bahwa sepertinya Allah tertidur dan melupakan mereka pada saat-saat yang mahagawat (Mazmur 35.23; 44:23-24; 59:6; Yesaya 51:9).

Entah apa yang ada dalam benak murid-murid saat mendapati Yesus sedang tidur di tengah situasi seperti itu. Yang jelas, mereka membangunkan Dia seraya berkata, “Tu[h]an, selamatkanlah …!” (Kurie, sôson, TB-LAI: Tuhan, tolonglah, Matius 8.25). Jelas, mereka meminta Yesus untuk bertindak. Permintaan itu bukan tanpa dasar. Sebab mereka telah menyaksikan Dia menyembuhkan orang yang mengidap penyakit kusta (8.3), ibu mertua Simon (8.14-15), dan orang-orang lainnya yang menderita sakit (8.16), bahkan mengusir roh-roh jahat yang merasuki banyak orang (8.16).

Yesus tahu bahwa para murid mulai percaya kepada-Nya. Indikasinya: mereka berseru minta diri-Nya bertindak menyelamatkan. Pada saat yang sama, Ia juga tahu bahwa mereka baru mulai percaya. Wajar saja bila kepercayaan atau iman mereka masih jauh dari matang apalagi sempurna. Indikasinya: mereka masih dikuasai ketakutan. 

Paradoks, begitu mungkin kita menggumam. Karena baru beriman, murid-murid masih dikuasai oleh ketakutan. Pada saat yang sama, meski baru beriman, mereka berseru, minta Gusti Yesus bertindak menyelamatkan. Paradoks yang wajar: “baru beriman” membuat kita masih dikuasai ketakutan sekaligus mendorong kita untuk berseru minta  pertolongan Tuhan.

Yesus tahu persis paradoks itu. Karena itu, pertama, Ia menyebut mereka oligopistoi (orang-orang yang memiliki iman yang kecil, 8.26; bdk. 6.30; 14.31; 16.8). Dengan sebutan itu, Ia tidak sedang menghina atau menyalahkan mereka. Ia “hanya” menunjukkan kepada mereka bahwa mereka telah memiliki suatu permulaan yang baik, sekaligus harus terus ditingkatkan: mereka mulai percaya kepada-Nya, dan hendaknya semakin percaya kepada-Nya.

Kedua, Ia menanggapi seruan mereka dengan bertanya, “Mengapa kamu takut?” Sebuah pertanyaan retorik, tentu. Sebab, jawabannya sudah tersirat dalam pertanyaan itu. Bagi para murid, secara spontan jawabannya jelas: kami takut karena sedang diburu oleh maut. Bagi Yesus (sebagaimana dikesankan Sang Pencerita kepada kita), secara reflektif jawabannya juga jelas: karena kamu baru beriman kepada-Ku. Seandainya kamu sudah matang beriman kepada-Ku, (1) kamu tidak akan dikuasai ketakutan saat maut memburumu; (2) kamu akan memasrahkan hidup dan matimu kepadaku, termasuk saat maut sedang memburumu.

Kemudian, sambil bangkit-berdiri Yesus “menghardik angin yang menderu dan danau itu” (epetimêsen tois anemois kai tê talassê, 8.26b). Akibatnya, sebagai ganti tsunami, “terjadilah suasana yang luar biasa tenangnya” (egeneto galênê megalê, 8.26c). Kontras!

Murid-murid, yang mendapati bahwa diri mereka baru saja lolos dari maut, terperangah, takjub, dan bingung sekaligus (8.27a). Sebab sosok yang barusan mereka panggil Kurios, yang barusan mereka minta untuk menyelamatkan, telah mengubah tsunami di danau itu menjadi suasana yang luar biasa tenangnya hanya dengan menegor angin yang menderu-deru dan danau itu! Ya, itu berarti, angin yang menderu-deru dan danau itutaat kepada-Nya(8.27c). Terperangah, takjub, dan bingung, mereka pun bertanya-tanya: Orang macam manakah Dia? (potapos estin houtos; 8.27b).   

Kita, para pembaca, boleh jadi teringat kepada bagian-bagian Alkitab yang menyatakan bahwa Yahweh, Allah Israel, sanggup meredakan badai dan gelombang lautan (Yunus 1-2; Mazmur 65.8; 89:10; 104:7; 107:23-30). Kita pun bertanya: manakah yang lebih tepat dalam cerita ini, Yesus ditampilkan serupa Yunus (yang tidak peduli), sebagai orang saleh (yang percaya penuh kepada perlindungan Allah), atau sebagai kehadiran ilahi yang sekilas tidak nyata namun ada di tengah prahara yang sedang melanda umat-Nya?

Jalan kemuridan tidak menjanjikan kenyamanan apalagi kemapanan (8.20). Jalan kemuridan juga tidak mengizinkan seorang pun yang telah menempuhnya untuk berpaling apalagi berbalik ke jalan hidup yang lama (8.22). Sebelum memutuskan untuk ikut, orang harus menimbang masak-masak. Setelah memutuskan, pantang mundur tak berkisar walau sejari. Memasrahkan hidup dan mati kepada Gusti Yesus Sang Junjungan, kita ber-vivere pericolusso!

Kyrie, sôson! Ada iman, kendati baru-mula, yang niscaya diapresiasi-Nya. Ada ketakutan, yang tidak pernah diremehkan-Nya. Ada seruan minta pertolongan, yang akan dijawab-Nya dengan cara yang tak disangka-sangka. Tetap percaya di tengah badai!

Lemah Abang, 8 Maret 2020

Tidak ada komentar: