Kamis, 05 Maret 2020

PRA PASKAH I 2020: DI KELAMKU TERANG MENYAPA

www.dreamstime.com
Matius 4.12-17

Rudolfus Antonius

Yohanes, laki-laki eksentrik yang telah menggegerkan seluruh Yudea dengan berita tentang Kerajaan Allah yang sudah di ambang pintu itu (Matius 3.1-6), ditangkap. 

Sebab-musababnya: Sang Pembaptis menegor Herodes, "raja wilayah" (14.1), atas perbuatannya mengambil Herodias, istri saudaranya sendiri. "Tidak sah bagimu untuk memiliki dia" (ouk exestin soi echein autên), kata Yohanes, tegas (14.4). 

Herodes bereaksi keras. Menggunakan kekuasaanya, ia menangkap Yohanes: membelenggu dan mengurunya di dalam penjara (14.3). Kata kratesas (dari krateô, memerintah, menaklukkan, atau merebut) menggarisbawahi bahwa si raja wilayah merasa menang atas sosok yang memiliki pengaruh moral & spiritual luar biasa di Yudea itu.

Mendengar kejadian itu, Yesus "menyingkir ke Galilea" (4.12). Kata yang diterjemahkan dengan "menyingkir" adalah anachôreô. Dalam Matius 2.12, 13, 14, & 22, kata ini berkonotasi "menghindari." Para Majus menghindari Herodes, ketika mereka berangkat ke negeri mereka melalui jalan lain (2.12, 13). Yusuf menghindari para algojo suruhan Herodes, sehingga pada malam itu ia "membawa Sang Anak dan Ibu-Nya pada malam itu dan berangkat ke Mesir" (2.14). Di kemudian hari, Yusuf menghindari Arkhelaus, raja Yudea, sehingga ia "berangkat ke bagian Galilea" bersama Sang Anak dan Ibu-Nya (2.22). 

Akan tetapi, dalam kasus Yesus, Ia berangkat ke Galilea bukan untuk menghindari sesuatu; penangkapan, misalnya. Sebab, justru Galilea adalah wilayah kekuasaan Herodes. Sarang srigala! Betapa tidak! Bila di Yudea yang bukan wilayahnya Herodes menunjukkan kekuasaannya dengan menangkap Yohanes Pembaptis, apalagi di Galilea, wilayahnya sendiri! Tapi, Yesus justru berangkat ke sana!

Lantas, untuk apa Yesus ke Galilea?

Sempat mudik ke Nazaret, Yesus kemudian meninggalkan kampung halaman-Nya itu (4.12, bdk 2.23), untuk kemudian menetap di Kapernaum, "di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali." Keputusan itu dibuatnya bukan tanpa tujuan. 

Ia menjadikan Kapernaum itu pangkalan misi-Nya. Ia ingin menjangkau Galilea, wabil chusus daerah yang dulunya merupakan wilayah Suku-suku Zebulon dan Naftali. Kedua wilayah itu, sejak zaman Nabi Yesaya, dikenal sebagai "wilayah bangsa-bangsa lain" (galilaian tôn etnôn, Galilea bangsa-bangsa kafir), yang dihuni oleh banyak mestizo (campuran) orang Israel dan orang kafir yang didatangkan raja Asyur setelah keruntuhan Kerajaan Israel (722/721 SM). 

Orang-orang itu dianggap tidak murni, baik secara rasial maupun keagamaan oleh orang Yahudi asli, wabil chusus para Farisi dan pemuka agama di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang marjinal secara rasial dan keagamaan! Tapi justru kepada merekalah pertama-tama Yesus datang mewartakan dan menyerukan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" (4.17).

Bila Yohanes Pembaptis mewarta di pusat, Yesus mewarta di pinggiran. Dari seluruh Yudea, wilayah utama orang Yahudi "murni," orang datang kepada Yohanes untuk bertobat dan dibaptis olehnya. Di Galilea, yakni "Galilea bangsa2 kafir, Yesus "jajah desa milang kori" (9.35) berjumpa dengan orang-orang yang sebagian (besar) terdiri dari orang Yahudi "yang tidak murni" tetapi dianggap-Nya sebagai bagian dari Keluarga Israel (oikos Israel, 10.6). Dalam konteks inilah Sang Pencerita merenungkan nubuat Yesaya:

Bangsa yangg diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar
Mereka yangg diam di negeri dan bayang-bayang maut, terang telah bangkit bagi mereka (4.16)

Yesus datang: Ia mewartakan Kabar Baik bagi kaum pinggiran. Di kelamku terang telah bercahaya. Terpujilah Allah! (RA)


Lemah Abang, 3 Maret 2020

Tidak ada komentar: