Senin, 13 April 2020

JUMAT AGUNG 2020: ALLAH-KU ALLAH-KU, MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN AKU?

beccajrt.blogspot.com

Matius 27.45-49

Rudolfus Antonius


Dalam satu hari, penderitaan demi penderitaan silih berganti mendera Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu. Sifatnya psikis dan fisik. Penyebabnya kelemahan karakter para murid, kepentingan para penguasa, kesewenang-wenangan aparat kekerasan, dan “mulut usil” berbagai pihak.


Murid-murid

Yudas, salah seorang murid, telah menyerahkan-Nya ke tangan para penguasa Yahudi. Petrus, Yakobus, dan Yohanes, tiga murid terdekat, gagal memberikan dukungan moril dan spiritual yang diminta-Nya saat kesedihan yang amat sangat mencekam-Nya. Di kala Ia bergumul sebelum memutuskan untuk menaati kehendak Bapa-Nya, ketiga mereka malah tertidur lelap. Tak lama kemudian, melihat Dia ditangkap tanpa perlawanan oleh “serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung” (26.47), semua murid melarikan diri meninggalkan Dia (26.56b). Akhirnya Petrus, yang pernah mengakui bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang Hidup,” menyangkal Dia sampai tiga kali tak jauh dari rumah Imam Besar, tempat para penguasa Yahudi mengadili Yesus (26.58, 69-74).

Para Penguasa Yahudi

Kaum penguasa Yahudi, yang terdiri dan para imam kepala dan seluruh Sanhedrin, mengadili Yesus dengan tujuan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Untuk itu mereka menghadirkan saksi-saksi dusta (26.3-5, 59-61). Akhirnya Sanhedrin menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya setelah Yesus menjawab secara afirmatif pertanyaan Imam Besar bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah, bahkan menandaskan, “Mulai dari sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (26.62-66). Sejumlah anggota Sanhedrin meludahi muka-Nya, meninju-Nya, dan memukul sambil menghina Dia (2.67-68).

Pilatus

Paginya, setelah sepakat tentang cara membunuh Yesus, mereka memperhadapkan-Nya dalam keadaan terbelenggu kepada Pilatus, gubernur (ho hêgemôn) Yudea. Mereka bermaksud meminjam tangan Pilatus untuk mengeksekusi Yesus. Pilatus, yang tahu bahwa para imam kepala dan tua-tua Yahudi menyerahkan Yesus kepadanya karena dengki (phthonos, karena menganggap pengaruh-Nya di antara massa rakyat mengancam status quo dan privilese mereka; lihat 21.46), menyadari tekanan dan ancaman kerusuhan dari massa yang telah dihasut oleh para penguasa Yahudi itu. Akhirnya, sembari berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab moral atas kematian Yesus (27.24), ia memutuskan untuk mengeksekusi Yesus (27.26) atas dakwaan melakukan tindakan subversif kelas satu: “Inilah Yesus Raja Orang Yahudi” (Iêsous ho basileus tôn Iudaiôn, 27.27). “Bangsa itu” (ho laos), yang memilih seorang tawanan yang terkenal, yakni Barabas, untuk dibebaskan, dan menuntut agar Yesus disalibkan (27.20-23), menyambut tanggung jawab moral atas kematian Yesus dengan perkataan yang mendirikan bulu roma: darah-Nya atas kami dan atas anak-anak kami (to haima autou eph’ hêmas kai epi ta tekna hêmôn, 27.25).

Para Serdadu Romawi

Kemudian (27.27), seraya menggelandang (paralabontes, dari paralambanô) Yesus ke dalam praitôrion, para serdadu gubernur mengumpulkan seluruh pasukan (yang berkekuatan sekitar 600 orang, speria). Mereka melecehkan Yesus:

  1. Menelanjangi (ekdusantes, dari ekduô) Dia, mereka melilitkan (peritithêmi) jubah ungu kepada-Nya (28);
  2. Menganyam (plexantes, dari plekô) sebuah mahkota dari tetumbuhan duri (akanthês), mereka meletakkan itu di atas kepala-Nya dan buluh bamboo (kalamos) di tangan kanan-Nya (29);
  3. Dengan berlutut (gonupetêsantes, dari gonupeteô) di hadapan-Nya, mereka mengolok-olok (empaizô) Dia: “Salam, wahai Raja orang Yahudi (Chaire, basileu tôn Iudaiôn, 27.29);
  4. Meludahi-Nya (emptuasantes [dari emptuo] eis auton), mereka mengambil (lambanô) buluh bamboo itu dan memukulkan (tuptô) itu ke kepala-Nya (30).


Sesudah mengolok-olok (empaizô) Dia, mereka melepaskan (ekduô) jubah itu daripada-Nya dan memakaikan (enduô) kepada-Nya pakaian-Nya, dan menggiring (apagaô) Dia untuk disalibkan (27.31).

Sesampai di Golgota (27.33, 34), mereka memberi minum Yesus “anggur yang telah dicampur dengan empedu” (onion meta cholês memigmenon). Obat untuk membunuh rasa sakit! mengecapnya, Yesus tidak ingin meminumnya! Jelas, Ia bertekad untuk menjalani penderitaan-Nya dengan sadar! Kemudian (27.35-37) mereka menyalibkan Yesus. Di atas kepala-Nya diletakkan tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dieksekusi dengan penyaliban: “Inilah Yesus Raja Orang Yahudi.” Laki-laki Bersandal itu disalibkan sebagai musuh yang membahayakan negara Romawi! Setelah itu mereka membagi-bagikan pakaian Yesus dengan membuang undi. Setelah itu mereka duduk, menjaga Yesus.

Yang Lain-lain

Orang-orang yang sedang lewat (hoi paraporeuomenoi, 27.39-40) terus menghujat (eblasphêmoun, bentuk imperfect active indicative dari blasphêmeô) Dia sambil menggelengkan kepala. Kata mereka:

Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci
dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
jikalau Engkau Anak Allah,
turunlah dari salib itu dan selamatkanlah diri-Mu!"

Mereka memadukan dakwaan dan kesaksian dusta (Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari) dengan tantangan yang mengingatkan Yesus pada gaya Iblis saat mencobai-Nya (“jikalau Engkau Anak Allah…”).

Imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua (27.41-43), para penguasa Yahudi itu, mengingatkan kita pada kelakuan para serdadu Pilatus terhadap Yesus bahkan perkataan Iblis. Mengolok-olok (empaizô) Dia, mereka berkata:

Orang lain Ia selamatkan,
tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!

Jika Ia Raja Israel,
baiklah Ia turun dari salib itu,
maka kami akan percaya kepada-Nya.

Ia mempercayakan diri-Nya kepada Allah:
Biarlah Allah menyelamatkan Dia sekarang,
jikalau Allah berkenan kepada-Nya!
Karena Ia telah berkata: Aku Anak Allah.

Bahkan, dua orang perampok (hoi lêstai), yang disalibkan bersama dengan Dia di sebelah kanan dan kiri-Nya (27.38), ikut terus mencela (ôneidizon, bentuk imperfect active indicative dari oneidizô) Dia (27.44).

Ditinggalkan Allah

Laki-laki Bersandal itu mendapati diri-Nya benar-benar sendirian saat didera oleh kekerasan demi kekerasan yang datang bertubi-tubi. Ketika badai kekerasan itu mereda saat “kegelapan meliputi seluruh daerah itu,” Ia sudah terluka sangat parah. Dari jam dua belas siang (waktu orang Yahudi: jam enam [ektê hôra], terhitung dari fajar sebagai paruh kedua dalam satu hari) sampai jam tiga sore (waktu orang Yahudi: jam sembilan [hora enatê]), Yesus mendapati diri-Nya tersalib di dalam kegelapan.

Kita tahu, sehari penuh sejak senja kemarin hingga senja berikutnya adalah Paskah bagi orang Yahudi. Gerhana matahari, yang mendatangkan kegelapan, tidak pernah jatuh di hari Paskah. Tapi kendati tidak ada gerhana matahari, tengah hari di paruh kedua hari itu kegelapan datang.
Dulu, menjelang Peristiwa Keluaran, Yahweh pernah menulahi Mesir dengan kegelapan. Tapi berabad-abad kemudian melalui Nabi Amos Yahweh berfirman akan mendatangkan kegelapan yang akan disusul dengan perkabungan di antara umat-Nya (Amos 8.9-10).

Dulu di Mesir kegelapan adalah tanda penghakiman Yahweh atas Mesir karena menindas orang Israel dan menolak untuk membiarkan mereka pergi. Sedangkan menurut Nabi Amos kegelapan justru merupakan tanda penghakiman Yahweh atas Israel, umat-Nya. Sekarang, saat Yesus tersalib, kegelapan itu datang lagi. Apakah maksudnya? Apakah Allah sedang menyatakan bahwa Ia murka kepada semua pihak yang telah menzalimi Yesus?

Sekitar jam tiga sore (atau jam sembilan menurut waktu orang Yahudi), saat kegelapan berangsur pergi, Yesus menjeritkan, "Eli, Eli, lema sabakhtani?" Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kita pernah membaca perkataan itu dalam Mazmur 22.22a, yang mengawali sebuah mazmur permohonan, suatu rangkaian doa dari seorang beriman yang teraniaya dan dinistakan. Terucap sebagai jeritan Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu, perkataan ini membuat kita berpikir tentang hubungan antara Yesus dan Allah.

Kita tahu betapa akrabnya Yesus dengan Allah. Bukankah sekurang-kurangnya dua kali Allah menyebut Dia sebagai Anak? (Matius 3.17; 17.5)? Bukankah Yesus biasa menyebut Allah dengan sebutan “Bapa-Ku” (7:21; 10:32; 10:33; 12:50; 15:13; 16:17; 18:10, 19, 35; 20.23; 25:34; 26:29)? Begitu erat hubungan Yesus dengan Allah, sehingga Ia bisa berkata, “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (11.27). Bahkan saat mengalami pergulatan batin di Getsemani dan ditangkap oleh para kaki-tangan kaum penguasa Yahudi, Ia masih menyebut Allah dengan sapaan itu (26.39, 53).

Tapi kali ini, Yesus tidak menyebut menyebut Allah dengan sapaan “Bapa-Ku.” Menjeritkan Mazmur 22.22a, Ia menyebut “Allah-Ku, Allah-Ku…” Sebutan itu masih mengungkapkan adanya hubungan, tapi bukan lagi antara seorang anak dan ayahnya, melainkan seorang penyembah dengan ilahnya. Mengapa demikian? Ini, “… Engkau meninggalkan aku.” Kita bisa memahami: Laki-laki Bersandal itu merasa ditinggalkan Allah. Kita bisa meraba, mungkin Ia merasakan hal itu selama mengalami kekerasan verbal dan non-verbal serta penderitaan psikis dan fisik yang diakibatkannya. Tapi kita tidak boleh mengabaikan kegelapan yang kemudian datang. Itulah puncak dari pengalaman ditinggalkan oleh Allah, yang bagi-Nya tak lain dari puncak penderitaan yang tiada tara. Untuk sejurus waktu, Allah bukan lagi Bapa-Ku, tapi “sekadar” Allah-Ku. Meski demikian, toh Ia tidak berpaling dari Allah. Yesus “masih” menyebut-Nya Allah-Ku. Secara paradoksikal: Sekalipun Engkau telah meninggalkan aku, membiarkan-Ku dianiaya dan dinista habis-habisan, Aku akan tetap menyembah-Mu, tetap mengabdi kepada-Mu. Saat yang sepekat-pekatnya, saat Ia merasakan ketiadaan Allah, Yesus berusaha untuk tetap beriman kepada-Nya.

Penyelamatan dan Hakikat Keselamatan

Jalan untuk “menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka” (Matius 1.21) adalan jalan pengurbanan. Yesus harus memberikan nyawa sebagai tebusan pengganti bagi banyak orang (20.28) atau mencurahkan darah-Nya demi pengampunan bagi banyak orang (26.28). Itu benar-benar terjadi melalui penderitaan mahahebat yang disebabkan oleh kelemahan karakter para murid, kepentingan para penguasa, kesewenang-wenangan aparat kekerasan, dan “mulut usil” berbagai pihak. Puncaknya: Ia harus mengalami ketiadaan Allah di tengah penderitaan itu sendiri. Ia merasa Allah sendiri sedang menghakimi-Nya. Itulah semua yang tercakup di dalam “cawan yang harus diminum-Nya” (26.39-42).

Kisah Sengsara menurut Matius menyajikan Yesus sebagai Sosok yang diserahkan Allah kepada kezaliman manusia dan ditinggalkan-Nya sendirian demi tujuan penyelamatan. Dengan jalan itu digarisbawahilah sifat paradoksikal dari keselamatan itu sendiri. Pertama, di dalam diri Yesus yang pernah ditinggalkan-Nya, Allah menerima semua orang yang datang kepada-Nya dan tidak akan meninggalkan siapapun yang sedang terbenam (atau dibenamkan!) dalam penderitaan. Dalam Yesus, Ia akan senantiasa hadir, bersama-sama dengan mereka (1.23; 18.20; 28.20).  Kedua, dalam umat yang telah diselamatkan kelak, tidak boleh seorang pun menjadi korban atau dikorbankan oleh sesamanya. Sang Kurban adalah Korban, supaya tidak ada lagi yang dikorbankan. ***

Lemah Abang, 10-13 April 2020     



















Tidak ada komentar: