Minggu, 12 April 2020

KAMIS PUTIH 2020: KEHENDAK-MU, BUKAN KEHENDAK-KU

havenlight.com
Matius 26.36-46

Rudolfus Antonius


Laki-laki Bersandal itu tahu apa yang akan dilakukan para murid kepada-Nya. Yudas akan menyerahkan-Nya kepada para penguasa Yahudi (Matius 26.21, 25). Simon Petrus akan menyangkal-Nya bahkan sampai tiga kali (26.34). Murid-murid yang lain akan meninggalkan diri-Nya (26.31). Ia mengerti bahwa semua itu adalah tikungan-tikungan dari jalan panjang berliku menuju pemenuhan misi besar yang diamanatkan Allah kepada-Nya: Menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (1.21).

Bagaimana Yesus akan menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka?

Dalam perjalanan menuju Yerusalem Yesus pernah berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai "tebusan pengganti" (lutron anti) banyak orang (20.28). Penyelamatan adalah penebusan melalui kematian-Nya sendiri!

Baru saja, yakni dalam Perjamuan Paskah (yang merayakan pembebasan orang Israel dari perbudakan di Mesir), Ia menyatakan bahwa darah-Nya adalah darah perjanjian yang sedang dicurahkan demi pengampunan dosa bagi banyak orang (26.31). Darah yang dicurahkan sama dengan nyawa yang diserahkan. Penyelamatan adalah pengampunan dosa melalui kematian-Nya sendiri!

Kita teringat sebuah peristiwa di Gunung Sinai. Yahweh, yang mewahyukan diri sebagai Allah Israel, telah membawa keluar orang Israel dari  Mesir, "rumah perbudakan" itu (Keluaran 20.2). Sebagai Allah Israel, Yahweh menitahkan prinsip dan cara hidup sebagai umat-Nya kepada orang Israel. Musa menuliskannya dalam Kitab Perjanjian, yg terdiri dari Dasa Titah (20.1-17) dan aplikasinya dalam ritus dan kehidupan orang Israel (20.22-23.33). Kemudian ia membacakannya kepada jamaah Israel (24.7a). Respon orang Israel: semua yang telah difirmankan Yahweh akan kami lakukan dan dengarkan (24.7b). Kemudian Musa mengambil darah dari lembu-lembu jantan yang telah dipersembahkan sebagai kurban keselamatan kepada Yahweh (24.5). Ia memercikkan (zâraq) darah itu kepada mereka seraya berkata: "Inilah darah perjanjian (dam-habrît) yang diadakan Yahweh dengan kamu, berdasarkan segala firman ini" (24.8). Dengan jalan itu semua orang Israel terhisab dalam Perjanjian Yahweh. Mereka menjadi satu umat, yakni umat Yahweh.

Dengan menyebut darah-Nya sebagai "darah perjanjian-Ku" (tou haima mou tês diathêkês) Yesus menekankan bahwa melalui kematian-Nya "banyak orang" akan terhisab dalam Perjanjian. Mereka akan menjadi satu umat, yakni umat Yahweh atau umat Allah: Israel yang Baru, yang bukan saja terdiri dari "anak2 Kerajaan" (orang Yahudi), tapi juga "segala bangsa" (pas ho ethnos, Mat 28.19), dari Timur dan Barat (8.11). Jelas, penyelamatan mencakup partisipasi banyak orang dalam Perjanjian yang membuat mereka menjadi satu umat.

Demikianlah: Misi penyelamatan yang diemban Yesus meliputi penebusan, pengampunan dosa, dan penciptaan Israel yang Baru. Itu tercapai melalui kematian-Nya! Paradoks, tentu: keselamatan banyak orang (=umat Allah) melalui kematian Yesus. Dalam pada itu, kematian Yesus melibatkan banyak "tangan" penguasa selain "ulah" Yudas, Petrus, dan murid-murid lainnya. Berdasarkan konflik-konflik dengan para pemuka agama dan penguasa Yahudi, Yesus sudah mengantisipasi bahwa kematian-Nya akan melibatkan para tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, bahkan "bangsa-bangsa" (ho ethnos). Ia akan diserahkan, menanggung banyak penderitaan, dijatuhi hukuman mati, dinista, dicambuki, dan dibunuh dengan cara disalibkan (16.21; 17.22-23; 20.18-19; 26.2). Yesus mengerti bahwa Ia harus (dei, 16.21) mengalami semua itu. Misi "menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka" harus menempuh jalan berliku yang di dalamnya dosa unjuk diri dalam pengkhianatan, kebohongan, dengki, kemunafikan, dan kekerasan yang masif. Sang Penyelamat adalah korban dosa dan kurban tebusan sekaligus!

Laki-laki Bersandal itu sempat diliputi kesedihan yang amat sangat (26.38). Sangat bisa dimengerti. Tapi Ia tahu persis, itulah kehendak Bapa-Nya. Itulah "cawan" yang telah disediakan bagi-Nya, dan Ia harus menerimanya. Suatu misteri besar, tentu. Dalam gamang, sampai tiga kali Ia coba "menawar" keharusan itu.

Menyebut Allah “Bapa-Ku” (alih-alih “Bapa kami,” 6.9), pertama-tama Ia berkata, “Jika mungkin, lewatkanlah cawan ini daripada-Ku” (parelthatô ap’ emou to potêrion touto, 26.39a; TB2-LAI: “Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku”). Tapi Ia segera menyambungnya dengan kata-kata, “Namun jangan sebagaimana yang Aku kehendaki, melainkan sebagaimana yang Kau [kehendaki]” (plên ouch hôs egô thelô all hôs su, 26.39b).

Kali kedua, juga dengan menyebut Allah “Bapa-Ku,” Ia berkata, “Jika cawan ini tidak mungkin lewat daripada-Ku kecuali Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu” (ei ou dunatai touto to potêrion parelthein ap’ emou, ean mê auto piô, genêthetô to thêlema sou, 26.42). Kali ketiga Ia mengucapkan doa itu lagi.    

Kita tahu, Dia mengajar para murid berdoa, "Bapa kami yang di sorga, .. jadilah kehendak-Mu sebagaimana di dalam sorga demikianlah di atas bumi " (Pater hêmôn ho en tois ouranois … genêthêtô to thelêma sou, hôs en ouranô kai epi gês, 6.9, 10). Pada momen kritis itu akhirnya berketetapan hati untuk menerima yang “harus” (dei), yakni kehendak Allah, atas diri-Nya: genêthetô to thêlema sou.

Ia memutuskan untuk "meminum cawan" itu, yakni menjalani sampai tuntas segala penderitaan yang didatangkan oleh kelemahan karakter para murid dan angkara-murka para penguasa. Ia meneguhkan hati untuk diserahkan kepada manusia2 berdosa! Sebagaimana pernah dikatakan-Nya: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” (ho huios tou anthrôpou paradidosthai eis cheiras anthrôpôn, 17.22) dan “… dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan” (duo hêmeras to pascha ginetai, kai ho huios tou anthrôpou paradidotai eis to staurôthênai, 26.2).

Yesus menegakkan kepala untuk memasuki suatu situasi mengerikan, yakni dijadikan bulan-bulanan secara fisik dan mental oleh sesamanya, hingga di satu titik di mana Ia sempat tidak dapat merasakan kehadiran Allah (27.46) …  Laki-laki Bersandal itu telah menang sejak Ia memutuskan untuk ditenggelamkan di samudera penderitaan hingga ke dasar-dasarnya yang paling dalam!


Lemah Abang, 9-10 April 2020.





Tidak ada komentar: