Senin, 13 April 2020

PASKAH 2020: DARI GALILEA KE GALILEA

schoenstatt.org
Matius 28.1-10, 16-20

Rudolfus Antonius


Laki-laki dari Nazaret itu mengawali pelayanan-Nya di Galilea (Matius 4.12), wabil chusus di wilayah yang secara rasial dan keagamaan paling terpinggirkan. Itulah wilayah yang disebut oleh Nabi Yesaya dari Yerusalem sebagai “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain” (4.15; lihat Yesaya 8.23). Setelah menamatkan riwayat Kerajaan Israel (utara), penguasa Asyur mengangkut orang-orang dari berbagai bangsa yang telah ditaklukkan ke sana, dan mereka berkawin-campur dengan penduduk Israel setempat.

Semasa Yesus, wilayah itu sudah lazim dikenal sebagai tempat kediaman kaum yang tidak murni Yahudi, kaum yang pada umumnya beragama secara abangan, bahkan biasa diberi label “orang berdosa” oleh para pemuka agama. Di sana banyak orang penyakitan; para pemuka agama menuding mereka sebagai orang-orang yang dikutuk Allah. Di sana banyak orang yang kerasukan setan; para pemuka agama memandang mereka sebagai orang-orang yang dibuang oleh Allah.

Rupanya belum cukup mereka menderita karena penindasan politik yang dilakukan oleh penjajah (Kaisar) dan para kolaboratornya (macam Herodes, raja wilayah Galilea). Belum cukup juga mereka menderita pemiskinan yang sistematis yang dilakukan penjajah dan kolaboratornya (pajak, upeti), otoritas Bait Suci (aneka persembahan), dan para tuan tanah (terhadap kaum tani gurem, penggarap, dan buruh tani). Mereka juga dimarjinalkan oleh sistem keagamaan yang  mencitrakan sosok Allah yang tak lebih dari suatu proyeksi dari sikap kelas penguasa terhadap rakyat pekerja. Walhasil, massa rakyat kaum marjinal itu “lelah dan telantar seperti domba-domba yang tidak memiliki gembala” (9.36).

Yesus, yang dibesarkan sebagai putera seorang tukang (ho tektonos huios, 13.55) di Nazaret, Galilea,  tidak asing dengan penderitaan mereka. Sesungguhnya Ia begitu merasakan penderitaan mereka; hatinya senantiasa tergerak oleh belas kasihan (splanknizomai) kepada kaum yang terpinggirkan itu (9.33; 14.14; 15.32). Ia memilih untuk mengutamakan mereka. Keterpinggiran mereka menjadi dasar bagi-Nya untuk mencari mereka, “domba-domba yang binasa dari keluarga Israel” (ta probata ta apolôta oikuo Israêl, 10.6). Binasa, dalam arti lelah dan telantar (9.36), karena tidak digembalakan oleh para pemuka agama yang justru menyisihkan mereka dari akses kepada Allah. Tapi kini, “bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang” (4.16; lihat Yesaya 9.1).

Njajah desa milang kori, Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat, mewartakan Injil, dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu (4.23; 9.35). Kemudian Ia juga mengutus murid-murid-Nya untuk melayani mereka (10.1, 7-8). Ia mewartakan bahwa Kerajaan Sorga (Kerajaan Allah), yakni pemerintahan ilahi yang mentransformasikan dunia melalui perwujudan kehendak Allah di dunia ini, mulai mendatangi dunia. Terutama bagi kaum marjinal itulah Kerajaan Sorga diperuntukkan. Ia mengajak mereka bertobat (4.17), mengucapkan selamat kepada mereka (5.3-12), menggarisbawahi peran mereka yang signifikan dalam transformasi dunia (menggarami bumi dan menerangi dunia, 5.13-16), serta mendorong mereka untuk menjadikan kesucian hati, keyakinan bahwa Allah adalah Bapa, dan keinginan untuk meneladani Allah sebagai titik-tolak beragama (5.17-20, 21-48).

Yesus mengajarkan bahwa Allah adalah Bapa mereka. Ia menyebut Allah “Bapamu yang di sorga” (5.16, 45, 48; 6.1, 4, 6, 8, 14, 15, 18, 26, 32; 7.11; 10.20, 29; 18.14; 23.9). Ia juga mengajar mereka untuk menyapa Dia dalam doa “Bapa kami yang di sorga” (6.9).  

Konfrontasi di Yerusalem dengan kaum penguasa Yahudi (para kolaborator dan manipulator agama) dan penjajah memuncak dalam serangkaian kekerasan yang masif di hampir di sepanjang hari raya Paskah orang Yahudi (lihat Matius 26.17-27.44). Ia divonis mati & dieksekusi atas dengan dakwaan subversif: Inilah Yesus Raja Orang Yahudi (Inilah Yesus Raja Orang Yahudi, 27.37).

Kaum perempuan di antara murid-murid awal Yesus adalah saksi-saksi mata kematian-Nya (27.55-56, 61). Sementara itu, semua murid laki-laki telah melarikan diri meninggalkan Yesus (26.56). Yang paling vokal, yakni Simon Petrus, telah menyangkal Dia sampai tiga kali (26.75). Maria Magdalena dan “Maria yang lain,” dua di antara murid-murid perempuan itu, adalah orang-orang yang pertama kali berjumpa dengan al-Masih, Gusti Yesus, yang telah bangkit dari antara orang mati (28.9).

Dalam perjumpaan itu Gusti Yesus mengutus murid-murid perempuan itu untuk mewartakan kepada murid-murid yang lain bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati dan menunggu mereka di Galilea. Dapat dibayangkan bagaimana mereka harus meyakinkan para murid laki-laki yang telah tercerai-berai itu bahwa Gusti Yesus telah bangkit dari antara orang mati dengan menggarisbawahi bahwa bila mereka ingin berjumpa pula dengan Dia, mereka harus pergi ke Galilea karena Ia telah menunggu mereka di sana. Betapa penting peran perempuan dalam Peristiwa dan Berita Paskah!

Gusti Yesus mengawali pelayanan-Nya di antara kaum marjinal di Galilea. Ia juga memanggil dan mengutus murid-murid-Nya di Galilea (4.18-22, 10.1-5). Kemudian Ia berkonfrontasi dengan elit, kaum penguasa, di Yerusalem.  Sekarang, sebagai Mesias, dengan segala kuasa atau otoritas (exousia) di dalam sorga dan di atas bumi telah dikaruniakan kepada-Nya (28.18a), Ia kembali ke Galilea. Ia juga memanggil dan mengutus murid-murid-Nya di Galilea, supaya dari sana mereka memuridkan segala bangsa bagi-Nya (28.18b-20). Mulai lagi di Galilea, di tengah kaum terpinggirkan, untuk memuridkan segala bangsa. Dari “yang terpinggirkan” untuk seluruh umat manusia!


DUNIA TELAH BERGANTI RUPA!
SELAMAT PASKAH!


Lemah Abang, 12-13 April 2020

Tidak ada komentar: