Senin, 06 April 2020

PALMARUM 2020: ADA TEMPAT BAGI YANG TERPINGGIRKAN


Matius 20.29-34-21.17

Rudolfus Antonius


Keluar dari Yerikho, menuju Yerusalem: Gusti Yesus dan murid-murid-Nya. Orang banyak dalam jumlah besar (ochlos polus) mengikuti Dia. Syahdan ada dua orang buta di pinggir jalan. Mendengar bahwa Yesus sedang lewat, mereka berseru-seru (ekraxan, legontes): “Kasihanilah kami, Anak Daud!” Perhatikan. Anak Daud adalah sebutan untuk Mesias. Kedua orang buta itu memanggil Yesus “Anak Daud.” Dengan kata lain, mereka menyebut Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu Mesias, ahli waris sejati takhta Daud.

Massa rakyat yang mengikuti Gusti Yesus memarahi (epitimaô, TB-LAI: menegur) kedua orang buta itu. Mereka ingin keduanya diam, jangan berkata-kata lagi (siôpaô). Kita bisa mencandra. Menyebut Yesus “Anak Daud” berarti menyatakan bahwa Dia Mesias. Secara politis ini subversif. Sangat berbahaya. Tapi alih-alih bungkam, kedua orang buta itu malah makin keras berseru-seru (meizon ekraxan legontes): “Kasihanilah kami, Gusti, Anak Daud!” Dilarang keras malah bersuara makin keras. Piye jal. Benar-benar subversif.

Nyatanya, seruan mereka telah membuat Gusti Yesus menghentikan langkah-Nya. Ia memanggil mereka dan berkata, “Kamu ingin Aku melakukan apa bagimu? (ti thelete poiêsô humin;). “Gusti, supaya mata kami terbuka” (Kurie, hina anoichthôsin hêmôn hoi ofthalmoi, TB-LAI: Tuhan, supaya mata kami dapat melihat). Mendengar itu, “tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.” Splanknizomai. Ia tahu selama ini mereka telah sangat menderita. Ia merasakan penderitaan mereka. Seperti saat Ia melihat massa rakyat yang “susah dan kapiran seperti kawanan domba tak bergembala” (9.36). Persis saat Ia melihat orang banyak dalam jumlah besar (polus ochlos) mencari Dia hingga ke tempat Ia ingin mengasingkan diri setelah mendengar kabar duka kematian Yohanes Pembaptis (14.12-14). Di sana Ia menyembuhkan orang-orang yang sakit (14.14b), kemudian bermukjizat memperbanyak roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang (14.21). Seperti saat Ia melihat lebih dari empat ribu orang yang telah mengikuti-Nya selama tiga hari (15.32a). Tidak mau orang-orang itu pulang dengan lapar dan jatuh pingsan di jalan (15.32b), Ia bermukjizat memperbanyak roti dan ikan untuk memberi makan mereka (15.38). Sekarang, Ia menyentuh mata kedua orang buta itu; seketika itu juga (eutheôs) mata mereka terbuka (20.34a). Mereka pun mengikuti Dia, bersama dengan massa rakyat berjumlah besar itu (20.34b). Anak Daud, Sang Mesias, merasakan penderitaan kaum yang terpinggirkan!

Mendekati Yerusalem, massa rakyat yang mengiring dan menyambut Gusti Yesus bak tenggelam dalam euforia. Massa yang menyambut “menggelar karpet merah”: menghamparkan jubah-jubah mereka di jalan yang akan dilalui Gusti Yesus dan menyebarkan ranting-ranting pohon, yang telah mereka potong, di jalan. Massa yang mengiring, baik yang di belakang maupun yang di depan-Nya, mengelu-elukan Gusti Yesus sebagai Mesias: Anak Daud (21.9). Saat Yesus memasuki Yerusalem, seluruh kota gempar dan bertanya-tanya. Massa rakyat berkata, “Dialah Nabi Yesus, [nabi] dari Nazaret Galilea” (21.11).

Tiba di Yerusalem, Gusti Yesus memasuki Bait Suci. Ia mengusir “semua orang yang berjual beli” di sana. Kata “mengusir” (ekballô) berkonotasi keras. Paling sering kita menemukan kata ini dalam rujukan-rujukan tentang pengusiran setan (lihat Matius 8.16, 31; 9.33, 34; 10.1, 8; 12.24, 26, 27, 28; 17.19). Tidak sekadar mengusir, Yesus juga “membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati.”

Bukan tanpa sebab, dan Ia mengemukakannya dengan tandas. “Ada tertulis,” kata-Nya, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa” (ho oikos mou oikos proseuchês klethêsetai, Matius 21.13a. Lihat Yesaya 56.4-8; beytî beyt-tǝfilâh yiqrâʼ lǝcâl-hâʽamîm [ay 8]; TB-LAI: “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”).

“Tetapi,” sambung-Nya, “kamu telah membuatnya menjadi persembunyian para perampok” (humeis … auton epoiêsate spêlaion lêstôn, TB-LAI: “kamu menjadikannya sarang penyamun.” Lihat Yeremia 7.11: hamʽârat pâritsîm hâyâh habayit hazeh ʼasher-niqrâʼ-shǝmî ʽâlâyw bǝʽeyneykem, apakah  TB-LAI: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”).

Alih-alih menjadi rumah doa (oikos proseuchês), Bait Suci (rumah Allah) telah dibuat menjadi sarang penyamun (TB-LAI) atau persembunyian para perampok (spêlaion lêstôn)! Dalam transaksi jual-beli, termasuk pertukaran uang yang digelar di Bait Suci, telah terjadi perampokan. Bait Suci melegalkannya dan dengan demikian mengelabui mata umat yang datang untuk mempersembahkan kurban dalam rangka beribadah kepada Allah. Termasuk kaum miskin, yang hanya sanggup mempersembahkan kurban berupa burung merpati! Karena itu Bait Suci telah berfungsi menjadi persembunyian para perampok!  

Selanjutnya terlihatlah pemandangan yang mencengangkan. Sebagai ganti para perampok yang “terhormat” itu adalah orang-orang buta dan orang-orang timpang. Mereka datang kepada Yesus di Bait Suci, dan Laki-laki Bersandal itu menyembuhkan mereka (21.14). Kita dapat segera merasakan bahwa saat itu Bait Suci kembali menjadi rumah doa. Ya, rumah doa bagi orang-orang buta dan orang-orang timpang. Rumah doa bagi kaum yang terpinggirkan!

Dahulu kala, saat berusaha merebut kota Yerusalem, Raja Daud merasa sangat terhina ketika orang Yebus, penduduk asli kota itu, berkata kepadanya: “Engkau tidak sanggup masuk ke mari; orang-orang buta dan orang-orang timpang akan mengenyahkan engkau!” (2Samuel 5.6). Mengejek Raja Daud, mereka sesumbar bahwa ia tidak akan berhasil merebut Yerusalem: Jangankan merebut kota itu, menghadapi penduduk yang lebih paling lemah di kota itu pun Raja Daud tidak akan sanggup. Raja Daud menjadi sangat geram. Ia bilang, hatinya membenci (sâneʼ) orang-orang timpang dan orang-orang buta (ay 8b). Dengan strategi yang tepat, yakni dengan menerobos masuk melalui saluran air, ia berhasil merebut kota Yerusalem (ay 8a). Namun, entah bagaimana, orang mengatakan “orang buta dan orang timpang tidak akan masuk ke rumah itu” (ʽûr ûpisseakh loʼ yâbôʼ ʼel-habâyît, ay 8c; LXX: tufloi kai choloi ouk eiseleusontai eis oikon kuriou, orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak akan masuk ke dalam Rumah Tuhan).

Perlakuan Yesus terhadap orang-orang buta dan orang-orang timpang sangat berbeda dengan sikap Daud (dan orang-orangnya) terhadap mereka. Ia menyambut mereka di “rumah doa” dan menyembuhkan mereka. Padahal, Ia adalah Mesias, Anak Daud! Betapa Anak Daud memberi tempat kepada kaum terpinggirkan, wabil chusus orang-orang buta dan orang-orang timpang di Rumah Tuhan!

Dalam pada itu di Bait Suci juga hadir anak-anak (paidia). Mereka berseru-seru: “Hosanna bagi Anak Daud” (= “ku mohon berilah keselamatan bagi Anak Daud”, 21.15). Bait Suci benar-benar kembali menjadi rumah doa bagi kaum yang terpinggirkan.

Melihat mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus dan anak-anak yang mengelu-elukan-Nya sebagai Anak Daud, para imam kepala dan ahli-ahli Taurat menjadi naik pitam (aganakteô). Boleh jadi mereka terperangah, Yesus bermukjizat mencelikkan mata orang-orang buta dan membuat orang-orang lumpuh berjalan. Tetapi seruan yang mengelu-elukan Yesus sebagai Anak Daud alias Mesias, kedengaran sebagai deklarasi yang memaknai mukjizat-mukjizat tersebut. Sang pembuat mukjizat yang menolong kaum terpinggirkan itu adalah Anak Daud, Sang Mesias itu sendiri. Di bawah kekuasaan Romawi, kemunculan seseorang yang menyatakan diri atau diklaim oleh massa rakyat sebagai Mesias adalah subversif (bdk 27.37). Sangat berbahaya!

Para pemuka agama (dan politisi) itu berkata kepada Yesus, “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” (21.16a). Sebuah pertanyaan retorik, tujuannya untuk mengatakan kepada Yesus bahwa Ia sedang mendatangkan bahaya kepada tatanan yang mapan (sistem keagamaan yang berpusat pada Bait Suci dan sistem politik nasional yang “bekerjasama” dengan penguasa Romawi) ATAU kepada diri-Nya sendiri.

Mendengar pertanyaan retorik itu, Yesus menjawab, “Aku dengar.” Ia mengerti apa konsekensi dari tindakan-tindakan-Nya. Lalu sambung-Nya, “belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian (ek stomatos vêpion kai thêlazontôn katêrtisô ainon)? Ia mengutip Mazmur 8.2 (LXX)! Bukan hanya massa rakyat di jalanan yang menyerukan bahwa Laki-laki Bersandal itu adalah Anak Daud, Sang Mesias. Di Bait Suci, anak-anak pun melakukannya. Allahlah yang telah menaruh itu di mulut mereka. Suatu sindiran, tentu, bagi para pemuka agama dan politisi yang betah dengan status quo yang nyatanya menghisap rakyat (ingat Bait Suci telah menjadi “persembunyian para perampok”) dan memarjinalkan (orang-orang buta dan orang-orang lumpuh).

Di Minggu Palmarum, di awal Pekan Suci, kita diajak untuk melihat sosok Gusti Yesus sebagai Anak Daud alias Mesias yang memberi tempat bagi kaum yang terpinggirkan! ***


Lemah Abang, 5-6 April 2020

Tidak ada komentar: