Selasa, 05 Mei 2020

ENGKAU ADALAH PETRUS!

http://gppankas.blogspot.com
Matius 16.13-19

Rudolfus Antonius


Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Begitu Simon Barjona menjawab pertanyaan Gusti Yesus kepada para murid: “Kamu bilang, siapakah Aku?” Mendengar jawaban itu, Gusti Yesus berkata, “Berbahagialah engkau, Simon Barjona!” Mengapa? “Sebab bukan darah dan daging (=manusia) yang menyingkapkan (=menyatakan) itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”

Pernyataan Simon Barjona, bahwa Yesus dari Nazaret adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup,” adalah pernyataan yang amat sangat penting. Mengapa?

Pertama, pernyataan itu diucapkan di sebuah daerah yang bernama Kaisarea-Filipi. Dari namanya saja kita sudah bisa mencandra. “Kaisarea-Filipi,” dari “Kaisar” dan “Filipus.” Kaisar adalah penguasa tertinggi negara Romawi, super power dunia zaman itu. Seorang maharaja alias raja besar! Filipus adalah seorang raja wilayah, raja kecil. Ia adalah bawahan si raja besar. Bahwa sepenggal wilayah kekuasaan Filipus dinamai “Kaisarea-Filipi,” kita tahu maksudnya. Itulah simbol pengakuan dan penghormatan Filipus si raja kecil kepada Kaisar sang maharaja yang kekuasaannya meliputi seantero dunia.

Di wilayah kekuasaan si raja kecil Filipus yang memuja si raja besar Kaisar, Simon Barjona menyatakan bahwa Yesus, Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu, adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup.” Mesias alias Kristus adalah gelar raja agung orang Yahudi. Demikian pula “Anak Allah yang hidup,” yang memberikan sentuhan yang khas bahwa sang raja agung adalah raja terjanji dan terdamba trah kusuma rembesing madu, Wangsa Daud.

Apa implikasinya? Di wilayah kekuasaan Kaisar yang dikelola oleh raja bawahannya, seorang raja dideklarasikan. Bukan sembarang raja, melainkan raja agung yang akan berkuasa atas bangsa-bangsa di seantero bumi (lihat Mazmur 2.8). Subversif!  

Kedua, pernyataan itu menyiratkan bahwa Yesus dari Nazaret lebih dari sekadar seorang nabi. Sebelumnya Gusti Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya tentang siapa dirinya menurut khalayak ramai. Para murid, yang tidak saja ngancani Gusti Yesus tetapi juga diutus mewartakan Injil untuk menjangkau “domba-domba yang tersesat dari Keluarga Israel,” menjawab: kata orang-orang Ia adalah Yohanes Pembaptis (yang telah bangkit dari kubur sehingga sakti mandraguna, 14.2), Elia (yang kondang dengan mukjizat-mukjizatnya), Yeremia (yang dikenal berhati lembut), atau salah seorang nabi. Beragam jawaban, toh intinya sama, Yesus “hanya” seorang nabi semata.

Pandangan ini, sudah barang tentu, tidak salah. Itulah yang bisa dicapai oleh manusia atau “darah dan daging.” Lebih dari itu, yakni bahwa Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu adalah “Mesias, Anak Allah yang Hidup,” dibutuhkan penyingkapan atau pewahyuan ilahi. Itulah sebabnya, Gusti Yesus berkata kepada Simon Barjona, “[B]ukan darah dan daging (=manusia) yang menyingkapkan (=menyatakan) itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”

Ketiga, pernyataan itu berisi kebenaran yang dijadikan oleh Gusti Yesus sebagai dasar untuk mendirikan Gereja-Nya. “Engkau adalah Petrus,” kata Gusti Yesus kepada Simon Barjona. Karena pernyataan itu, Gusti Yesus mengukuhkan julukan Petrus bagi Simon Barjona. Ya, Petrus adalah julukan bagi orang yang kepadanya Allah telah menyingkapkan siapa Yesus dari Nazaret itu di mata Allah. Petrus adalah Simon Barjona yang mendeklarasikan siapa Yesus yang sesungguhnya: bukan sekadar anak tukang kayu dari Nazaret (lihat 13.55), bahkan bukan sekadar seorang nabi (lihat 21.22).

“Di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku,” sambung Gusti Yesus. Lebih jauh, karena pernyataan itu, Simon Barjona dijadikan metafora dari sesuatu yang di atasnya Gereja didirikan. Dengan kata lain, julukan Petrus adalah metafora atau kiasan dari hê petra, si batu karang. Itu berarti, setiap kali Simon Barjona atau murid-murid lainnya ingat julukan yang diberikan Gusti Yesus kepadanya, mereka diingatkan tentang hê petra, si batu karang yang di atasnya Gereja didirikan. 

Lantas, apakah yang dimaksud dengan batu karang itu? Ini: kebenaran tentang Yesus, bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Di atas kebenaran bahwa Dia adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” itulah Gusti Yesus akan mendirikan Gereja-Nya. Jelas sudah bagi kita bahwa Gereja didirikan di atas batu karang berupa kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Batu karang ini sedemikian kokoh, kebenaran ini begitu perkasa, sehingga Gereja yang didirikan di atasnya tidak akan dikalahkan atau dikuasai oleh “pintu-pintu gerbang Hades” atau “pintu-pintu gerbang dunia orang mati” alias alam maut! Tersirat sebuah sindiran kepada Kaisar si maharaja dan Filipus si raja kecil. Mereka takluk kepada kematian, suatu saat kekuasaan mereka akan ditelan oleh Maut. Tidak demikian halnya dengan Gereja, yang didirikan oleh Raja Agung di atas dasar kebenaran tentang diri-Nya!

Keempat, pernyataan itu dijadikan oleh Gusti Yesus sebagai pokok pewartaan Gereja. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga,” kata Gusti Yesus kepada Simon. Bukan Simon Barjona, tetapi Simon sebagai Petrus, metafora kebenaran tentang Yesus. Dengan jalan itu ia akan mewakili Gereja untuk menerima mandat sebagai Juru Kunci Kerajaan Sorga.

Sesungguhnya, dalam kiprah Gusti Yesus, Kerajaan itu sudah mendatangi umat manusia (Matius 12.28). Tapi untuk menjadi bagian dari Kerajaan Sorga, orang perlu mendengar kebenaran tentang Gusti Yesus dan mengambil sikap terhadap-Nya. Bukan hanya semasa pelayanan Gusti Yesus semasa di dunia, tetapi juga untuk masa seterusnya.

Nah, Gerejalah kelak, melalui mandat yang diterimanya melalui Simon sebagai Petrus, yang akan mewartakan kebenaran tentang Gusti Yesus “di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (24.14). Kita menyebutnya pekabaran Injil atau pewartaan Kabar Baik. Orang akan menanggapinya secara positif (percaya, menerima Gusti Yesus) atau negatif (menolak Gusti Yesus). Bila menanggapi kebenaran tentang Gusti Yesus secara positif, orang akan menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. Ia akan menjadi bagian dari tatanan baru, yang di dalamnya orang mengalami keselamatan, yakni kebapaan Allah dan hubungan-hubungan antarmanusia yang diperbaharui dengan kasih, kebenaran, dan keadilan yang memulihkan. Jika menanggapi secara negatif, orang tidak menghisabkan diri ke dalam Kerajaan itu. Inilah artinya, “[A]pa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Dari empat arti penting pernyataan Simon Barjona bahwa Yesus adalah Mesias, “Anak Allah yang hidup,” hendaknya kita dapat menjawab empat pertanyaan mendasar berikut ini:

Pertama, siapakah Junjungan kita yang sesungguhnya? Moga jawab kita: tiada lain, Gusti Yesus semata. 

KeduaSiapakah sesungguhnya Gusti Yesus, Junjungan kita itu? Moga jawab kita: lebih dari sekadar nabi bahkan nabi besar, Gusti Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Raja Agung yang dinobatkan Allah menjadi Penguasa atas sorga dan bumi (Matius 28.18a). 

Ketigadi atas dasar apakah Gereja didirikan? Moga jawab kita: di atas dasar kebenaran tentang Gusti Yesus. Karena kebenaran itu, Gereja tidak akan binasa. Bahkan dengan penganiayaan sehebat-hebatnya, alam maut tidak akan menguasainya! 

Keempatapakah mandat yang diamanatkan Gusti Yesus kepada Gereja? Moga jawab kita: memberitakan Injil atau Kabar Baik tentang Gusti Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, “di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa.”





Lemah Abang, 3 Mei 2020

Tidak ada komentar: