Selasa, 26 Februari 2013

MEMBACA ARTIKEL "WARIA ISTIMEWA"

Oleh: Rudolfus Antonius


“Waria Istimewa”, (18 Februari 2013)

Sempat saya tertegun membaca tulisan ini. Perihal keberadaan pesantren waria ini saya sudah mengetahui sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi sharing dari penulis laporan ini, meski singkat, membuat saya termenung. Ini mengusik penghayatan saya tentang Yesus Kristus, Junjungan saya. Lama saya tidak bisa menuangkan apa yang menggelisahkan hati dan pikiran dalam permenungan saya. Baru dua hari ini saya bisa – dengan tertatih-tatih – melakukannya. Moga sharing refleksi saya ini ada manfaatnya.

Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” adalah sebuah “tanda”. Yang ditandakan setidaknya dua sisi realitas. Kedua sisi itu bertentangan, namun yang satu mengandaikan yang lain.

Sisi yang pertama menyangkut agama arus utama, yang ortodoks, yang konvensional. Agama ini memiliki “kawasan roh” yang memproyeksikan kecurigaan bahkan kebencian patriarkis terhadap yang berbeda. “Kawasan roh” itu adalah Tuhan/Allah yang maskulin. Terhadap kaum perempuan, Tuhan yang satu ini seksis, tak jarang misoginis – suatu rekaman kegelisahan laki-laki untuk “mempertahankan” supremasi atas perempuan. Terhadap kaum yang memiliki orientasi seksual yang berbeda, Allah yang satu ini sarat dengan kutuk dan murka – suatu rasa terhina patriarkis terhadap “laki-laki” yang merendahkan “kelelakian” di satu sisi, dan merasa terancam terhadap “perempuan” yang dipandang menyangkal “keperempuanan” dan mengambil peran “kelelakian.” Perasaan terhina dan perasaan terancam ini berakar sangat dalam di rawa-rawa bawah sadar kolektif laki-laki sejak manusia mulai mengenal modus produksi yang menempatkan laki-laki di pusat proses produksi dan meminggirkan perempuan menjadi konco wingking. Tuhan/Allah adalah Laki-laki pemarah, tidak bisa menerima yang berbeda (karena itu berarti menghina dan/atau mengancam), pencemburu, dan seringkali haus darah.

Manusia menciptakan Tuhan/Allah menurut gambar dan rupanya. Tuhan/Allah adalah konstruksi sosial, yang mencerminkan pihak yang dominan dalam masyarakat. Tidak hanya itu, Tuhan/Allah diciptakan sebagai pencipta tatanan yang membuat dominasi pihak tertentu tampil sebagai sesuatu yang alami bahkan ilahi. Lebih-lebih, Tuhan/Allah diciptakan untuk mempertahankan sistem dominasi tersebut. Itulah sebabnya Tuhan/Allah tidak pernah bisa adil, sejauh keadilan itu didefinisikan oleh pihak yang dominan dalam masyarakat. Pihak-pihak yang tertindas pun, di antaranya kaum perempuan, waria, gay, dan lesbian, berhadapan dengan keadilan yang menempatkan mereka di nomor sekian dan sekian bahkan tak masuk hitungan. Code of holiness, yang tak lain dari seperangkat tabu yang menjabarkan persepsi para lelaki saleh tentang Tuhan/Allah dan laki-laki menjauhkan kaum perempuan, waria, gay, dan lesbian dari Sang Tuhan atau Sang Allah.

Agama monoteistik seperti Islam dan Kristen, adalah agama patriarkis, agama para lelaki saleh yang berusaha mengukuhkan dan mempertahankan dominasinya dengan menciptakan kawasan roh yang angker yang dilindungi dengan Code of Holiness yang sarat dengan tabu. Dilaksanakan dengan konsekuen, Agama Islam ortodoks dan Agama Kristen ortodoks tidak memiliki tempat utama bagi perempuan, bahkan tidak ada ruang di dalamnya bagi waria, gay, dan lesbian. Dengan menggunakan perspektif ini, kita memahami keberadaan Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” sebagai tanda: tidak ada tempat bagi para waria dalam ortodoksi dan agama konvensional. Jika di sana ada ruang, sulit membayangkan adanya Pesantren “Waria.” Jika ada ruang, para waria akan nyantri atau setidaknya beribadah bersama dengan manusia-manusia yang “normal.”

Sisi yang kedua adalah praksis pembebasan. Tidak beroleh tempat dalam ortodoksi dan agama konvensional tidak menghambat kerinduan para waria akan Tuhan atau Allah. Memang kita bisa bertanya, apakah Tuhan/Allah ini tetap sosok Laki-laki? Boleh jadi. Tapi toh Dia bukan lagi Laki-laki pemarah dan pencemburu. Laki-laki ini bisa menerima yang berbeda. Laki-laki ini tidak haus darah. Mungkin juga, dalam kawasan roh para waria ini, Tuhan/Allah adalah seorang Waria – karena Tuhan/Allah toh proyeksi manusia – yang dengan compassion-Nya bisa menerima mereka apa adanya. Atau tidak berjenis kelamin? Secara formal, semua agama monoteistik mengatakan hal yang sama. Tapi itu abstrak, dan yang abstrak terlalu sukar untuk menjadi sasaran devosi – karena devosi toh ekspresi konkret personal dan manusia yang konkret personal. Andaipun abstrak secara konseptual, toh harus konkret secara devosional. Dalam konteks ini, bahasa menjadi kendaraan proyeksi dan menjadi alat untuk menciptakan Tuhan/Allah yang konkret personal. Teoretis, tanpa manusia tidak ada Tuhan/Allah; tanpa bahasa Dia tidak ada. Tuhan/Allah ada sejauh manusia membahasakannya – tidak hanya dalam teologi tapi juga dalam devosi.

Pesantren Waria Senin Kamis “Al Fatah” adalah suatu tanda pembebasan. Kaum Waria telah memilih Tuhan/Allah mereka. Mereka mengalami penerimaan sebagai manusia. Mereka berdevosi kepada-Nya, Laki-laki Luhur atau Waria Agung yang tidak mengasingkan mereka karena keberbedaan mereka. Ini menolong mereka dalam mengisi dan memaknai hidup mereka. Keberlainan telah menciptakan Transendensi. Transendensi telah memberikan makna kepada keberlainan. Dengan jalan itu, Transendensi menjadi Imanensi. Tuhan/Allah hidup dalam hidup para waria.

Andaikata Yesus dari Nazaret hidup di sini dan kini, bagaimanakah sikap-Nya terhadap para waria? Seperti FPI yang dengan paksa membubarkan seminar HAM para waria beberapa tahun yang lalu? (Depok, 30 April 2010, lihat Dewi Safitri, "FPI Serbu Seminar Waria", http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2010/04/100430_wariaseminar.shtml). Atau seperti alm. KH Hamroeli Harun yang justru berlaku laksana Orang Samaria yang Berbelarasa? Mungkin kita hanya bisa menduga-duga. Tapi dugaan kita kiranya tidak meleset bila kita mempertimbangkan “kawasan roh” Yesus dari Nazaret.

Sepintas, “kawasan roh” Yesus dari Nazaret tidak beda dengan orang-orang sezaman, termasuk para Farisi dan kaum alim-ulama Yahudi. Sama-sama memuja Yahweh, Allah Israel. Tapi Yahweh-Nya Yesus beda radikal dengan Yahweh-nya para alim-ulama. Kita mahfum, bahwa Yahweh-nya para alim ulama menyisihkan begitu banyak orang (am-haarets alias abangan, perempuan, orang berdosa [termasuk pelacur, pemungut cukai, gembala, dsb], orang yang kerasukan setan, orang yang mengidap penyakit akibat dikutukmurkai-Nya) dari sisi-Nya, dan hanya menerima segelintir orang (yang saleh karena setia melaksanakan syariah sampai ke titik-komanya dan setia dengan aneka ritus dari yang gratis sampai yang berbiaya mahal). Laki-laki ini punya dua pintu rahasia, di balik benteng Code of Holiness-nya: neraka bagi kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan, dan sorga bagi para lelaki saleh yang sanggup memabukkan diri dengan syariah.

Yahweh-Nya Yesus persis kebalikannya. Revitalisasi dari Yahweh-nya kaum eks budak dan tani Kanaan yang membebaskan diri dari dominasi Mesir dan raja-raja negara-kota Kanaan penganut Modus Produksi Asiatik (yang supereksploitatif itu), Yahweh-nya Yesus adalah Sang Belarasa dan Pembebas. Yahweh-Nya Yesus berbelarasa, memilih untuk mengutamakan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Dia memerdekakan (= membebaskan) mereka dengan mengaruniakan kepada mereka Kerajaan-Nya. Ya, Kerajaan Allah, pemerintahan Allah yang menyelamatkan, yang dengan belarasa dan keadilan-Nya mengaruniakan shalom kepada orang-orang berdosa yang sekaligus juga para korban dari struktur-struktur sosial yang berdosa.

Terhubung akrab dengan “kawasan roh” itu, Yesus terserap ke dalam jiwa dan semangat Yahweh-Nya. Premis nilai Yahweh-Nya menjadi premis nilai-Nya sendiri. Kerajaan Allah Yahweh-Nya menjadi summum bonum-Nya sendiri. Pilihan Yahweh-Nya untuk mendahulukan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan menjadi pilihan-Nya pula. Ia mewartakan Kabar Baik kepada kaum berdosa yang sekaligus juga korban dari struktur-struktur sosial yang berdosa, dalam sikap, ajaran, maupun mukjizat-mukjizat-Nya (yang tidak sekadar bertemakan keajaiban, tetapi pemanusiawian [memulihkan harkat dan martabat manusia] dan dengan demikian berdimensi sosial). Ia menerima mereka dan mencita-citakan sebuah komunitas alternatif, di mana Allah adalah Bapa (ungkapan patriarkis yang masih “tersisa” dalam bahasa Yesus, namun kerap dimaknai-Nya secara feminin: memelihara, merawat, mengasuh) bagi semua dan semua adalah saudara-saudari seorang dengan yang lain.

Kerajaan itu ditujukan terutama bagi mereka yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Tapi kaum kaya dan berkuasa juga diberi kesempatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah – yakni bila mereka bersedia bertobat: (1) mengakhiri penindasan, penghisapan, dan kesewenang-wenangan mereka; (2) menggunakan kekayaan dan kekuasaan mereka untuk melayani yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan; serta (3) turut serta dalam praksis keadilan dan pemerdekaan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan. Meminjam ungkapan Almilcar Cabral: melakukan bunuh diri kelas.

Bila benar begitulah kawasan roh, summum bonum, dan praksis Yesus dari Nazaret, agaknya sama sekali tidak berlebihan bila kita menduga bahwa bila Dia hidup di sini dan kini, Yesus dari Nazaret tidak akan mengambil posisi ortodoksi atau agama konvensional atau agama arus utama perihal para waria. Kalau begitu, tak sulit pula mencandra bahwa Yesus dari Nazaret akan menempuh jalan seperti yang ditempuh oleh alm. KH. Hamroeli Harun. Bukan tidak mungkin Yesus dari Nazaret akan mendirikan pesantren atau padepokan yang di dalamnya kaum waria diterima dengan tangan terbuka, bersama-sama dengan kaum yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan lainnya.

Gereja, sebagai wujud sosiologis Kekristenan, perlu “meluangkan” waktu untuk menggumuli para liyan ini. Masalahnya, sementara ortodoksi semakin kental dan formalisme semakin membatasi dinamika Jiwa dan Semangat Yesus dari Nazaret (yang coba dikomunikasikan kepada Gereja dan orang Kristen melalui Roh Kudus) dan kesibukan untuk asyik dengan diri sendiri semakin padat (kegiatan gerejawi dari Minggu ketemu Minggu tiada putus-putusnya, yang sebagian terbesar berorientasi memelihara monumen-monumen perjuangan masa silam), jangan-jangan Gereja semakin kerasan di zona nyamannya. Sejauh Code of Holiness dan Laki-laki pemarah (yang tidak bisa menerima yang berbeda, pencemburu, dan seringkali haus darah) tidak diganggu-gugat, sepertinya semua baik-baik saja. Agaknya, suara-suara kenabian, kendati seperti seruan di padang belantara, harus terus dikumandangkan. ***

Jumat, 09 November 2012

SPARTAKUS Dideklarasikan

DEKLARASI SPARTAKUS

Hari ini, 17 Oktober 2012 hari yang bersejarah. Bila 60 tahun yang lalu, tentara berusaha melakukan kup terhadap parlemen dengan memaksa Bung Karno membubarkan parlemen sementara moncong-moncong meriam diarahkan ke istana, hari ini kami berikrar untuk berjuang bersama rakyat pekerja Indonesia meraih kemerdekaannya dan kedaulatannya: berjuang demi demokrasi partisipatoris dalam bidang politik dan ekonomi; berjuang menuju Masyarakat Sosio-demokratik Indonesia alias Masyarakat Sosialis Indonesia.

Ya, hari ini kami mendeklarasikan SPARTAKUS (Serikat Perjuangan Pemuda Kristen Untuk Sosialisme).

Jalan hidup Yesus dari Nazaret adalah praksis pembebasan. Premis nilainya jelas: preferential option for the poor and the oppressed. Kematian-Nya di kayu salib memeteraikan kesetiaan-Nya terhadap kaum miskin dan tertindas. Kebangkitan-Nya memeteraikan keyakinan-Nya bahwa Kerajaan Allah pertama dan terutama diperuntukkan bagi kaum miskin dan tertindas, sekaligus memastikan bahwa perjuangan kaum miskin dan tertindas – rakyat pekerja – demi pemerdekaan dan tatanan perikehidupan yang lebih adil-manusiawi tidak akan sia-sia! Bagi SPARTAKUS, inilah hakikat Kekristenan Liberatif.

Dengan asas Kekristenan Liberatif, yang berkomitmen pada Injil Pembebasan sebagaimana diwartakan oleh Yesus dari Nazaret, dan berdialog kritis-terbuka dengan Sosialisme Ilmiah, SPARTAKUS mengajak para pemuda Kristen untuk bergabung, menempa diri dalam teori dan praksis Kekristenan Liberatif, melakukan kerja-kerja konsientisasi, organisasi, dan mobilisasi di kalangan rakyat pekerja.

Semoga Junjungan kami, Yesus Kristus, menyertai dan memberkati perjuangan ini! Amin! ***

Sabtu, 28 Januari 2012

LIDAH TAK BERTULANG

LIDAH TAK BERTULANG

Oleh: Pandu Jakasurya

Memang lidah tak bertulang. Barangkali itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan pernyataan Ketua Komisi III DPR, Benny K. Harman, menyusul terjadinya “kerusuhan” dan pembakaran kantor bupati di Bima. (Baca TRIBUNNEWS.COM, “Kapolri Diminta Tegas terhadap Anarkisme”, Jumat, 27 Januari 2012, http://id.berita.yahoo.com/kapolri-diminta-tegas-terhadap-anarkisme-050152635.html)

Setidaknya ada tiga hal yang dikemukakan politisi Partai Demokrat ini, Jumat, 27 Januari 2012, di gedung DPR, Jakarta.

Pertama, ia meminta Kapolri untuk tidak segan-segan dalam mengambil tindakan tegas terhadap semua tindakan anarkis yang terjadi di Indonesia. Ini dikatakannya menyusul terjadinya kerusuhan dan pembakaran kantor Bupati di Bima, NTB. Katanya, “Kami meminta Polri mengambil langkah tegas atas tindakan anarkis masyarakat. Kapolri jangan segan-segan mengambil langkah tegas dalam tindakan anarkis karena Polisi adalah penegak hukum.”

Kedua, ia memperingatkan kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak berperilaku anarkis dalam menyampaikan aspirasi mereka. Dia bilang, "Kalau masyarakat protes silakan ke pengadilan jangan melakukan tindakan anarkis.”.

Ketiga, ia meminta masyarakat agar tidak melulu menyalahkan kepolisian. "Saya meminta masyarakat tidak mengkambing hitamkan pihak kepolisian atas kegagalan pemerintah setempat dalam pengelolaan sumber alam,"pungkasnya.

Di mana letak kebenaran pepatah “Memang lidah tak bertulang” dalam pernyataan anggota dewan “yang terhormat” ini?

Dengan pernyataan yang pertama, ia menempatkan Kapolri (dan jajarannya) dalam posisi buah simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu yang mati. Tindakan tegas macam apa yang bisa dilakukan aparat kepolisian kecuali represi terhadap para demonstran? Bila Benny K. Harman benar, maka pembantaian Sape, Bima, di akhir tahun yang lalu, adalah tindakan yang patut dipuji. Tapi bukankah tempo hari para anggota DPR “yang terhormat” justru ramai-ramai turut paduan suara yang menyanyikan tudingan kepada Kapolri (dan jajarannya). Bertindak tegas (a.k.a represif) salah, tidak bertindak tegas juga salah. Moga saja bila nanti aparat bertindak tegas, Benny K . Harman menjadi orang pertama yang membela Kapolri dan kepolisian.

Dengan pernyataan yang kedua, Benny K. Harman menelanjangi dirinya sebagai oknum “wakil rakyat” yang tidak bersentuhan dengan realitas. Berkali-kali kita menyaksikan bahwa cara-cara yang “tidak anarkis” dalam menyampaikan aspirasi tidak ada hasilnya sama sekali. Para petani yang menggelar demonstrasi damai di depan gedung DPR dengan menjahit mulut, misalnya. Apakah DPR dan pemerintah memperhatikan aspirasi mereka? Kawan Sondang Hutagalung menjadi martir dengan membakar dirinya sendiri demi menyuarakan keadilan. Apakah DPR dan pemerintah menghiraukannya? Kebangkrutan burjuis nasional Indonesia sudah sedemikian parahnya. Bila di zaman Orba Soeharto, setiap pemikiran kritis diberangus dengan kekerasan, maka di era pasca tergulingnya Soeharto, setiap aspirasi “damai” ibarat masuk kuping kanan keluar kuping kiri bagi para pemangku kekuasaan. Silakan ngomong apa saja, emang gue pikirin!

Silakan ke pengadilan? Bukan bermaksud pukul rata. Baik logika maupun kenyataan yang kita saksikan berkali-kali menyampaikan pesan yang sangat jelas: bila rakyat kecil berperkara di pengadilan, apalagi berhadapan dengan kaum kaya dan kuat kuasa, kekalahanlah yang menjadi bagian mereka. Benar tidak selalu sama dengan adil. Hukum positif tidak selalu memadai untuk memenuhi tuntutan keadilan rakyat. Lebih-lebih hukum dalam masyarakat klas. Tak terkecuali negara klas burjuis yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia. Ada banjir uang di sana, yang memungkinkan si kaya dan kuat kuasa menyewa pokrol-pokrol bambu yang ahli bersilat lidah dan mencari celah dalam hukum positif, pula saksi-saksi ahli yang siap memberikan kesaksian palsu dengan mendustai rakyat dan Tuhan (bila Dia memang ada) dengan “bukti-bukti ilmiah” seturut pesanan si kaya dan kuat kuasa. Kecuali kita mengidap amnesia, tentulah kasus Lapindo masih segar dalam ingatan kita.

Seharusnya “wakil rakyat yang terhormat” itu menyadari bahwa apa yang dilakukan sepuluh ribuan warga Bima, yakni menduduki kantor bupati dan membakarnya, merupakan indikasi yang teramat jelas bahwa cara “yang tidak anarkis” atau “jalan damai” sudah terbukti tidak ada gunanya lagi bagi mereka. Sebelum rakyat bergerak menuntut haknya dengan “cara kekerasan”, adakah pemerintah dan parlemen menanggapi dengan respek cara santun dan damai yang mereka gunakan saat mereka mengajukan aspirasi mereka?

Pernyataan ketiga, yang meminta masyarakat untuk tidak melulu menyalahkan kepolisian atas kegagalan pemerintah setempat dalam pengelolaan sumber alam, juga menunjukkan bahwa manusia yang satu ini (sebenarnya banyak) tidak berpijak pada realitas, atau sedang membohongi rakyat. Benarkah rakyat, khususnya rakyat Bima, melulu menyalahkan kepolisian? Nonsense! Rakyat Bima jelas menggugat bupatinya. Dalam demonstrasi yang digelar pada bulan Desember, bahkan rakyat berupaya berdialog dengan aparat. Rakyat Bima baru menyalahkan kepolisian (andaikata ini istilah yang tepat), setelah aparat bertindak represif dan membunuh beberapa orang demonstran.

Memang lidah tak bertulang. Itulah lidah Benny K. Harman, dan sangat tidak mustahil, lidah kebanyakan pejabat di Republik Indonesia. Kenyataan ini menyiratkan setidaknya dua hal. Pertama, klas penguasa Indonesia, baik burjuis nasional maupun wakil-wakilnya di DPR dan pemerintahan, adalah para komprador, kapitalis birokrat, dan kapitalis kroni. Wataknya setali tiga uang: pandir dan culas.

Kedua, rakyat Indonesia, khususnya rakyat pekerja (buruh, tani, dan kaum miskin kota) tidak bisa berharap kepada para kaum komprador, kapbir, dan kapkron itu. Alih-alih memenuhi harapan-harapan rakyat pekerja, mereka justru merintanginya entah demi kepentingan pribadi, kepentingan klasnya sendiri, maupun kepentingan burjuis imperialis yang selalu mereka bela dengan berbagai cara. Mereka justru musuh-musuh rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya. Bila rakyat menginginkan keadilan, kemerdekaan, dan kesejahteraan, rakyat harus merebutnya dengan tangan mereka sendiri. Itu berarti, rakyat pekerja harus bersatu guna menyingkirkan mereka dari kursi-kursi kekuasaan dan menyeret mereka ke hadapan pengadilan sejarah, mengakhiri kapitalisme, yakni sistem yang selama ini menggendutkan perut mereka dengan menghisap darah rakyat pekerja, dan mendirikan negara rakyat pekerja guna membangun masyarakat sosialis sepenuhnya.


Buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci nan mulia
Hari-hari esok adalah milik kita
Terbebaskannya massa rakyat pekerja
Terciptanya tatanan masyarakat
Sosialis sepenuhnya
Marilah Kawan, mari kita pekikkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah Kawan, mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan!

Pesanggrahan, 28 Januari 2012












Selasa, 25 Oktober 2011

Serial “Sosialisme dari Bawah” (8, Selesai)

DELAPAN: SOSIALISME DARI BAWAH

Dalam periode setelah Perang Dunia II, sosialisme revolusioner atau Sosialisme dari Bawah telah mengalami kemunduran di mana-mana. Pada umumnya, yang tampil mengklaim “sosialisme” adalah doktrin-doktrin yang elitis dan otoritarian, yang pada dasarnya sama dengan visi-visi anti-demokratik Sosialisme dari Atas. Memang ada perjuangan-perjuangan pembebasan nasional yang megah, seperti yang terjadi di Tiongkok dan Kuba. Perjuangan-pejuangan itu membebaskan bangsa-bangsa jajahan dari cengkeraman dan penindasan kekuatan-kekuatan utama dunia. Sebagai kemenangan-kemenangan atas imperialisme, gerakan-gerakan ini layak kita dukung. Tapi, seperti halnya Uni Soviet dan rezim-rezim Stalinis lainnya, klaim Tiongkok dan Kuba bahwa mereka “sosialis” telah mencemari citra Sosialisme yang sejati di mana-mana.

Gerakan pembebasan nasional di Tiongkok dipimpin oleh pasukan gerilya yang tidak mempunyai basis di kalangan klas buruh yang terorganisir. Ketika pasukan Mao Tse-tung bergerak memasuki kota-kota utama Tiongkok, kaum buruh diperintahkan untuk tetap bekerja dan mematuhi perintah manajer-manajer mereka. Beberapa pemilik dan manajer digantikan oleh pejabat-pejabat dari pemerintahan yang baru. Klas buruh sama sekali tidak membentuk ulang masyarakat dari bawah. Di Kuba, sekelompok kecil gerilyawan berhasil mengalahkan sebuah rezim yang sangat korup. Lagi, kaum buruh tidak memainkan peran yang serius dalam Revolusi Kuba 1959. Jujur, kita tidak bisa mengatakan bahwa Revolusi Tiongkok dan Revolusi Kuba merepresentasikan gerakan klas buruh dalam membebaskan dirinya sendiri.

Apalagi, baik di Tiongkok maupun di Kuba, rezim-rezim yang baru memodel diri mereka seturut dengan struktur negara totalitarian Rusia. Sebuah negara dengan satu partai diciptakan. Partai-partai oposisi – termasuk partai-partai buruh – dilarang. Serikat-serikat buruh ada di bawah kontrol ketat negara. Sensor ketat terhadap media juga diberlakukan. Para pengeritik dari Sayap Kiri dijebloskan ke dalam penjara. Semua industri dan keuangan diletakkan pada tangan negara. Tidak ada organ kontrol-sosial demokratik yang diperbolehkan. Fakta bahwa diktatur-diktatur kapitalis-negara ini menampilkan diri mereka sebagai “sosialis” merupakan pencemaran terhadap gerakan yang paling demokratik dan revolusioner yang pernah ada.

Syukurlah, kaum buruh segera menyadari kebohongan dan kepura-puraan rezim-rezim Stalinis itu. Dimulai di Jerman Timur pada 1953, yang berlanjut dengan Hungaria dan Polandia pada 1956, Tiongkok pada 1967, Czechoslovakia pada 1968 dan Polandia lagi pada 1970, 1976, dan 1980, hantu kekuatan buruh kembali menghantui Roh Stalin. Lebih-lebih, pembangkangan-pembangkangan kaum muda semakin tiba pada kesadaran tentang natur sejati dari rezim-rezim kapitalis-negara yang di dalamnya mereka hidup – dan mengafirmasi Sosialisme dari Bawah.

Pendekatan itu disajikan dengan sangat jelas dalam surat terbuka kepada Partai Komunis Polandia yang ditulis pada tahun 1964 oleh dua pemberontak muda, Jacek Kuron dan Karol Modzelewski. Kuron dan Modzelewski memberikan argumen yang meyakinkan bahwa klas buruh Polandia dieksploitasi oleh “birokrasi politik sentral” yang mengontrol perekonomian seturut dengan kepentingan persaingan negara:

... semua alat produksi dan pemeliharaan telah menjadi atau disentralkan sebagai ‘kapital nasional.’ Kekuatan material birokrasi, cakupan otoritasnya atas produksi, posisi internasionalnya (yang sangat penting bagi suatu klas yang diorganisir sebagai suatu kelompok yang mengidentifikasikan diirnya dengan negara) semuanya ini bergantung pada ukuran kapital nasional.

Konsekuensinya, birokrasi ingin meningkatkan kapital, untuk memperbesar apparatus produksi, untuk berakumulasi. Kuron dan Modzelewski tahu bahwa, bila posisi ini harus diubah dan sosialisme sejati diciptakan, kesimpulannya tak terelakkan:

Revolusi yang akan menggulingkan sistem birokratik akan merupakan sebuah revolusi proletarian.
Jadi, di Eropa Timur, aksi klas buruh telah mengekspos kebohongan-kebohongan dan kemunafikan-kemunafikan negara-negara “sosialis”. Pada saat yang sama, kapitalisme Barat telah mengekspos wajahnya yang keras, militeristis, dan tidak berperikemanusiaan. Kegilaan militer telah muncul kembali dalam skala yang mengerikan. Sekarang dunia membelanjakan $1.3 juta per menit demi alat-alat pemusnah kehidupan manusia. Amerika Serikat membangun persenjataan terbesar di masa damai di sepanjang sejarah. Rusia juga dengan gila-gilaan berusaha menyainginya. Dengan perlombaan senjata yang semakin memanas, ancaman perang, yakni perang nuklir global – membayang-bayangi umat manusia.

Pada saat yang sama, sistem kapitalis dunia tergelincir lagi ke dalam depresi. Di negeri-negeri kapitalis utama, krisis ekonomik ini berarti pengangguran yang masif, khususnya bagi kaum muda; ini berarti suatu kehidupan dalam kemelaratan dan keputusasaan bagi jutaan orang. Pada bangsa-bangsa yang berkembang dan terbelakang, krisis berarti kematian – dalam skala yang mengerikan. Menurut Bank Dunia, sekitar 800 juta orang sekarang ini hidup dalamkeadaan “kemiskinan absolut”. Setiap hari kelaparan dan penyakit-penyakit yang terkait dengannya membunuh 41 ribu orang. Itu berarti 28 orang korban kelaparan setiap menit – duapertiga di antara mereka adalah kanak-kanak – sementara lebih dari sejuta dollar per menit dibelanjakan untuk persenjataan.

Sebenarnya ini tidak harus terjadi. Sarana untuk melenyapkan kelaparan dan kemelaratan untuk selama-lamanya sudah ada. Kekayaan yang diabdikan setiap tahun untuk memproduksi senjata pemusnah dapat dengan mudah menyelesaikan masalah produksi pangan. Persoalannya tidak bersifat material, tapi berwatak sosial; ini adalah suatu akibat dari prioritas-prioritas barbar dari sebuah sistem yang dibangun di atas persaingan ekonomik dan militer.

Hal yang sama terjadi pada sekian banyak masalah lainnya yang mengancam kehidupan, yang mendistorsi dan merusakkan keberadaan manusia. Apakah ini timbulnya tanda-tanda bahaya dalam kecelakaan-kecelakaan industri dan wabah penyakit, meluasnya tenaga nuklir dengan cara yang mengerikan, atau penghancuran yang nyaris katastrofik yang sedang melanda lingkungan hidup kita, sebab-musabanya – yakni pengorganisasian kapitalis atas masyarakat dunia – tetap sama.

Solusinya juga tetap sama. Restrukturisasi masyarakat secara sosialis dan demokratik tetap, sebagaimana pada masa Marx, merupakan tugas yang paling mendesak yang mengkonfrontir umat manusia. Dan penataan ulang masyarakat hanya dapat mengambil tempat di atas dasar prinsip-prinsip Sosialisme dari Bawah. Sekarang, lebih daripada yang sudah-sudah, pembebasan umat manusia bergantung pada emansipasi-diri klas buruh dunia. Dan transisi menuju sebuah masyarakat baru yang bebas dan berkelimpahan bergantung pada konstruksi atau pembangunan sebuah federasi negara-negara buruh, yang masing-masing berdasakan prinsip-prinsip demokrasi buruh.

Tugas vital yang mengkonfrontir semua orang yang menginginkan penciptaan masyarakat baru tersebut adalah mengibarkan panji Sosialisme dari Bawah, untuk mendirikan sekali lagi dalam kesadaran populer hubungan yang tak terpisahkan antara Sosialisme dan demokrasi. Tantangannya adalah memulihkan Sosialisme kepada esensi demokratiknya, keprihatian atau kepedulian belarasanya dengan kebebasan umat manusia.

Dan Sosialisme yang dengannya kita menghadapi pertempuran-pertempuran masa depan tidak boleh hanya membangun di atas perjuangan-perjuangan heroik masa lalu. Ia juga harus menggabungkan prakarsa-prakarsa yang segar dari perjuangan kontemporer untuk mematahkan rantai-rantai penindasan.

  • Emansipasi Sosialis di dunia modern harus juga merupakan pembebasan perempuan. Ia harus memeluk perjuangan kaum perempuan untuk membebaskan diri mereka dari keberadaan sebagai klas kedua, dari ikatan-ikatan yang membelenggu mereka pada pekerjaan rumah tangga yang membosankan dan tiada akhirnya, dari gambaran-gambaran dan ideologi yang berusaha mereduksi mereka menjadi obyek-obyek seks yang tak punya pikiran.
  • Emansipasi Sosialis harus juga merupakan pembebasan kaum kulit hitam. Ia harus secara sentral melibatkan pertempuran-pertempuran kaum kulit hitam melawan diskriminasi dan ketidakadilan yang terlembaga, melawan pelecehan rasial dan keberadaan ghetto.
  • Emansipasi Sosialis harus juga merupakan pembebasan kaum gay. Ia harus meliputi perjuangan-perjuangan kaum gay laki-laki dan perempuan untuk menjalani hidup mereka yang bebas untuk mencintai siapa saja yang mereka pilih, bebas dari ketakutan akan mengalami siksaan dan viktimisasi.
Sekali lagi ada tanda-tanda bahwa klas buruh internasional sedang meregangkan otot-ototnya dan membuat kekuatannya dapat dirasakan. Mungkin dalam skala kecil. Tapi entah itu berupa pemogokan umum melawan militer di Chile, pemogokan buruh tambang di Afrika Selatan dan Inggris, atau uji kekuatan kaum buruh di Amerika Utara dan Australia, kaum buruh sedunia kembali sedang bergerak menuju pusat pentas sejarah dunia. Dalam dekade yang sedang dilanda krisis ini, kita diperhadapkan lagi pada pilihan yang dilontarkan lebih dari 80 tahun yang lalu oleh Rosa Luxemburg: Sosialisme atau barbarisme.

Kali terakhir umat manusia memasuki suatu periode krisis yang serupa, selama tahun-tahun 1930-an, hasilnya adalah fasisme di Eropa dan penderitaan tak terukur dan barbarisme dari sebuah perang dunia yang menyaksikan ledakan bom nuklir pertama. Tapi masih ada sebuah alternatif. Demokrasi buruh, akhir bagi kemiskinan dan penindasan – inilah prospek-prospek yang terus coba diperjuangkan menuju sosialisme internasional.

Visi itu, impian akan sebuah dunia baru kebebasan yang lebih adil lebih dari sekadar impian kosong di siang bolong. Sebagaimana ditulis William Morris seabad yang lalu:

[Perjuangan-perjuangan] kita bukan mimpi. Laki-laki dan perempuan telah mati untuknya, bukan di zaman kuna, tapi di waktu kita; mereka berbaring di penjara karena itu, bekerja di pertambangan, dibuang, dihancurkan karenanya; percayalah kepadaku ketika hal-hal itu; menderita karena mimpi-mimpi, mimpi-mimpi yang pada akhirnya menjadi kenyataan.
Kita adalah kaum sosialis internasional, dan, terhubung dengan kelompok-kelompok sosialis revolusioner di bagian-bagian lainnya di dunia, kita berdedikasi mewujudkan impian itu untuk menjadi kenyataan, untuk merealisasikan prinsip-prinsip “Sosialisme dari Bawah”. Kita masih kecil. Tapi visi kita besar. Kita memiliki kesempatan membangun sebuah gerakan yang dapat mengubah dunia. Apakah Anda tidak akan bergabung dengan kami? Dalam semuanya itu, kami memiliki dunia untuk dimenangkan. ***

Disadur oleh Rudolfus Antonius dari David McNally, Socialism from Below (Chicago: International Socialist Organization, c.u. 1986) Marxism Page, http://www.anu.edu.au/polsci/marx/contemp/pamsetc/socfrombel/sfb_main.htm

Rabu, 22 Juni 2011

RUYATI: KORBAN DUA REZIM

Oleh: Pandu Jakasurya





Wanita paruh baya itu bernama Ruyati. Ia adalah salah seorang perempuan Indonesia yang menjadi buruh migran di Saudi Arabia. Sabtu, 18 Juni 2011 yang lalu ia dihukum pancung. Ia dinyatakan terbukti bersalah telah membunuh majikannya, seorang warga Saudi, Khairiya Hamid binti Mijlid. Perihal kekerasan fisik dan mental yang dialami Ruyati dari majikannya, yang melatarbelakangi pembunuhan yang dilakukannya, tidak diperhitungkan. Nyawa ganti nyawa. Qishash.

Ketika berita tentang pemancungan terhadap Ruyati merebak di media massa, reaksi yang timbul berkisar pada kecaman dan pembelaan diri. Di satu sisi kecaman keras datang dari masyarakat, termasuk LSM Migrant Care, para moralis intelektual, dan tokoh-tokoh oposisi. Tak ketinggalan salah satu media yang menjadi corong sebuah ormas burjuis terkemuka di negeri ini. Pemerintah dinilai abai atau lamban bertindak, dan harus bertanggungjawab. Keluarga almarhumah juga menuntut Presiden SBY bertanggungjawab, termasuk memulangkan jenazah Ruyati. Muncul pula seruan-seruan untuk menarik seluruh TKW dari Saudi Arabia dan menghentikan pengiriman TKW ke negeri itu.

Di sisi lain pembelaan datang dari jajaran pemerintah, dari Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Juru Bicara Kemenakertrans Suhartono Sail, dan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat. Isi pembelaan mereka beragam. Kemenakertrans menampik disebut kecolongan, sedangkan Kepala BNP2TKI merasa kecolongan. Patrialis sesumbar negosiasi pihaknya dengan pemerintah Saudi berhasil, hanya saja hasil akhir ditentukan oleh keluarga alm. Khairiya, yang menolak memaafkan Ruyati. Sementara itu Marty Natalegawa mengeluhkan pihak Saudi yang sering tidak ngomong-ngomong kalau ingin mengeksekusi warganegara orang lain… Lantas pemerintah RI menyatakan akan mengirimkan nota protes terhadap Saudi Arabia…

Bagaimana kita selaku kaum sosio-demokratik revolusioner menyikapinya?

Pemancungan terhadap Ruyati telah menambah panjang deretan para buruh migran Indonesia yang menjadi korban di mancanegara, khususnya di Timur Tengah. Gaji yang tidak dibayar, pemerkosaan, penyiksaan, bahkan pembunuhan sudah terlalu sering terjadi melanda kaum buruh perempuan migran kita. Para pelaku yang notabene majikan atau keluarga majikan bisa melenggang tanpa hukuman. Pasalnya, pengadilan Saudi siap memvonis mati dan mengeksekusi kaum buruh perempuan yang bangkit berlawan untuk mempertahankan harkat-martabat bahkan nyawanya dari rudapaksa dan kebiadaban para tuan/nyonya majikan, tapi menutup mata dan telinga terhadap kekejian para tuan/nyonya penindas yang notabene warganegara mereka sendiri. Pada saat yang sama, pemerintah Republik Indonesia nampak tidak peduli (kecuali sesudah kecaman masyarakat merebak di mana-mana) terhadap kaum buruh migran perempuannya, pula tidak pernah serius mencari upaya untuk mengakhiri kekejian tersebut. Mengapa?

Saudi Arabia adalah sebuah negeri yang dikendalikan oleh rezim diktator monarkis yang berkelit-kelindan dengan suatu bangunan keagamaan dalam bentuknya yang fundamentalistik dan paling reaksioner. Rezim dan bangunan keagamaan yang lazim dikenal sebagai Wahabi itu hidup dalam simbiosis mutualisme. Wahabi memberikan legitimasi dan justifikasi teologis bagi kekuasaan rezim, sedangkan rezim membuat Wahabi menjadi ortodoksi resmi dan menopang perkembangannya. Dalam kenyataannya, rezim diktator monarkis menggunakan bangunan agama (lengkap dengan perangkat hukumnya) baik sebagai mesin pengontrol yang bersifat totalitarian terhadap rakyat, maupun sebagai instrumen kekuasaan hegemonik yang memastikan cara berpikir dan nilai-nilai apa yang harus tertanam di dalam kesadaran mereka.

Dengan penalaran ini kita dapat mencandra bahwa perlakuan keji yang dialami Ruyati, Darsem, Sumiyati, dan sekian banyak buruh migran perempuan kita lainnya ada di dalam matriks ekonomi-politik sebagai basis dan religio-politik sebagai bangunan atasnya. Kekuasaan ekonomi politik Keluarga Saud memerlukan Wahabi untuk melegitimasi dan menjustifikasi kekuasaannya, memaksakan ketaatan mutlak rakyat kepadanya, dan membentuk nilai-nilai mereka. Dalam konteks ini, para buruh migran perempuan Indonesia (dan yang berasal dari negeri-negeri lainnya) adalah korban dari suatu sistem ekonomi-politik dan religio-politik rezim diktator monarkis Saudi Arabia. Betapa tidak! Dengan menutup mata terhadap kekejaman para majikan yang notabene warganegara Saudi di satu sisi dan bertindak keras terhadap para buruh migran perempuan yang melakukan perlawanan di sisi lain, rezim setidaknya melakukan dua hal. Pertama, rezim melestarikan cara pandang tertentu terhadap para buruh migran perempuan (bahwa mereka tidak lebih dari para budak yang boleh diperlakukan semaunya dan tidak boleh melakukan perlawanan terhadap tuan/nyonya majikan mereka); dan kedua, rezim menjamin loyalitas rakyat terutama kaum tuan/nyonya majikan kepada dirinya.

Bagaimana dengan pemerintah Republik Indonesia? Kita semua sudah mafhum bahwa rezim SBY adalah sebuah rezim “demokratis” yang sangat korup, suka berbohong, dan kapitalis yang berwatak komprador. Bagi rezim ini, pengiriman buruh migran perempuan (dalam jumlah besar!) adalah jalan keluar dari keharusan menciptakan lapangan kerja sekaligus cara mudah untuk meraup keuntungan. Bertali-temali dengan perusahaan-perusahaan penyalur tenaga kerja, rezim mengeksploitasi para buruh migran perempuan dengan mengambil dari hasil jerih payah yang mereka dapatkan dengan merisikokan harkat dan martabat bahkan nyawa mereka sendiri. Pada saat yang sama, rezim burjuis kleptokratik ini tidak tahu berterimakasih terhadap para “pahlawan devisa”. Rezim abai terhadap pemenuhan hak-hak para buruh migran perempuan. Rezim juga tampil tidak bermartabat di hadapan negara yang telah melakukan pencideraan terhadap para pahlawan devisanya. Sulit untuk menghindar dari kesan bahwa rezim tidak memandang kaum buruh migran perempuan sebagai komoditas semata. Ditilik dari Mukadimah UUD 1945, yang mengamanatkan negara untuk melindungi segenap rakyat Indonesia, rezim pendusta ini gagal total. Alih-alih, rezim ini seakan malah mengukuhkan tesis sosio-demokratik revolusioner bahwa negara ada bukan untuk kepentingan seluruh rakyat, tetapi untuk kepentingan klas yang berkuasa. Buktinya, setelah sesumbar pada Sidang ILO di Jenewa tentang kemajuan Indonesia dalam perlindungan terhadap buruh, SBY dan rezimnya malah menuai ironi yang memuakkan dengan menelan penghinaan untuk kesekian kalinya dari sebuah negara yang berhasil mengawinkan politik dan bangunan keagamaan yang sama-sama ultra-reaksioner – di atas jenazah buruh migran perempuan, Ruyati.

Lalu bagaimana?

Masalahnya terletak pada watak klas penguasa di masing-masing negara. Baik Saudi Arabia maupun Republik Indonesia sama-sama memandang rendah kaum buruh migran perempuan Indonesia. Yang satu memperlakukannya sebagai budak demi melestarikan kekuasaan otokratiknya, dan yang satu memperlakukannya sebagai komoditas yang nilai jualnya dapat mengisi pundi-pundi devisa negara. Yang satu jumawa, sedangkan yang lain tidak merasa memiliki harkat dan martabat. Tapi jelas, betapapun beda, keduanya adalah rezim-rezim yang hidup berdasarkan penindasan dan penghisapan.

Menghadapi kedua rezim penindas ini, tentu tidak salah bila kaum sosio-demokratik revolusioner terjun bersama-sama dengan masyarakat yang masih berhatinurani mengecam keras rezim “demokratis” kleptokratik, pembohong, dan kapitalis komprador SBY serta mengutuk rezim diktator monarkis Saudi Arabia. Tidak salah pula bila kita menuntut keadilan bagi alm. Ruyati dan kaum buruh migran perempuan lainnya yang telah menjadi korban, dan menggalang dukungan bagi Darsem dan kaum buruh migran perempuan lainnya yang saat ini terancam nyawa dan kehormatannya. Kaum sosio-demokratik revolusioner jelas berada di pihak kaum buruh migran perempuan. Kaum sosio-demokratik revolusioner tidak bisa menerima pencideraan terhadap klas buruh, yang tak lain merupakan klas pencipta riil kekayaan masyarakat.

Tapi, justru karena keberpihakan dan komitmennya kepada klas buruh termasuk kaum buruh migran perempuan Indonesia, kaum sosio-demokratik revolusioner harus melangkah lebih jauh. Kerja-kerja menggugah kesadaran kritis (agitasi dan edukasi) klas buruh dan mengorganisirnya menjadi kekuatan sejati yang membuat klas buruh bergerak sebagai subyek sejarah untuk membebaskan dirinya sendiri melalui revolusi sosio-demokratik (Marx: “class for itself”) semakin mendesak untuk diperdalam dan diperluas. Tragedi Ruyati dan kaum buruh migran perempuan Indonesia lainnya memanggil kita, kaum sosio-demokratik revolusioner, untuk bekerja lebih giat lagi. Ya! Mengerjakan agitasi, edukasi, dan organisasi lebih militan lagi.

Rezim “demokratis” pencuri, pembohong, dan komprador, menurut wataknya, tidak mungkin bisa “diperbaharui”. Demikian pula rezim diktator monarkis. Jatah yang tepat untuk mereka adalah revolusi, bukan reformasi. Seperti dikatakan Kautsky, revolusi akan menggulingkan klas penguasa dan menggantikannya dengan klas yang semula tertindas, sedangkan reformasi sekadar mengadakan perubahan sana-sani sementara klas penguasa yang sama tetap bercokol. Ya, bercokol untuk terus melanjutkan penindasan dan penghisapan terhadap massa-rakyat! Sementara badai krisis-krisis dalam kapitalisme cepat atau lambat akan melanda rezim-rezim ini, kita siapkah faktor subyektif yang mahadahsyat menurut prinsip sosio-demokratik revolusioner: self-emancipation of the workers!


Hidup Ruyati!
Hidup kaum buruh migran perempuan Indonesia!
Kaum buruh sedunia, bersatulah!


21-22 Juni 2011





















Kamis, 03 Februari 2011

REVOLUSI DI TANAH ARAB

REVOLUSI DI TANAH ARAB
Sebuah Tinjauan Awal
Oleh: Pandu Jakasurya

Revolusi melanda Dunia Arab! Itulah yang memenuhi hati dan pikiran saya hari-hari ini. Api telah menyala. Kobarannya dimulai di Tunisia, dan terus menjalar ke Negara-negara Arab lainnya. Massa-rakyat, ya, kaum tertindas, telah bangkit. Mereka telah menggulingkan diktator Tunisia, Zine el Abidine Ben Ali. Mesir pun bergejolak. Massa-rakyat menuntut Hosni Mubarak turun, sementara sang diktator bersikukuh untuk bertahan dan menjawab tuntutan itu dengan represi. Massa-rakyat juga telah bangkit di Aljazair, Maroko, Mauritania, Yaman, Libya, Yordania, Syria, bahkan Saudi Arabia ....

Kita mafhum, Negara-negara Arab pada umumnya dikuasai oleh rezim komprador dengan kepemimpinan otokratik, korup, dan represif.

Komprador, karena rezim memposisikan diri sebagai “sahabat” (baca: “pelayan yang baik”) bagi kaum imperialis dengan kepentingan ekonomi-politiknya. Rezim-rezim komprador di Dunia Arab meliberalisasi perekenomian mereka sesuai dengan tata-ekonomi Neoliberal yang berkendaraan lembaga-lembaga keuangan internasional macam IMF dan Bank Dunia serta lembaga perdagangan dunia WTO. Dengan ramah mereka “membuka diri” terhadap tata-ekonomi Neoliberal, melakukan “market reforms” sebagaimana didiktekan oleh lembaga-lembaga tersebut. Dalam kasus Tunisia, perekonomiannya bergantung hampir 80% dari pemasukan dan investasi dari negeri-negeri dan perusahaan-perusahaan Uni Eropa. Faktnya, Tunisia adalah “sahabat” Prancis. Hasilnya “menakjubkan.” Sementara segelintir orang, yakni mereka yang terhisab dalam klas-penguasa (burjuasi, termasuk para kapitalis-kroni), menikmati kekayaan berlimpah-limpah, massa-rakyat mendapatkan “jatah” berupa kemiskinan yang parah, harga-harga barang kebutuhan pokok yang mencekik leher, dan tingkat pengangguran yang sangat tinggi. Di kota Sidi Bouzid, Tunisia, misalnya (tempat Mohamed Bouazizi membakar diri setelah dagangannya diobrak-abrik petugas dan dirinya dianiaya aparat ketika hendak menyampaikan aspirasinya kepada gubernur), 44 % lulusan perguruan tinggi tidak mempunyai pekerjaan (Bouazizi, juga lulusan perguruan tinggi, yang berniat mencari nafkah dengan membua kios kecil sayur-mayur dan buah-buahan malah diperlakukan semena-mena).

Kepemimpinan yang otokratik, karena rezim dipimpin oleh seorang diktator dengan legitimasi pseudo-konstitusional dengan kosmetik pemilu-pemilu yang sarat rekayasa. Ben Ali berkuasa selama 23 tahun, Mubarak, lebih dari 30 tahun. Sementara raja-raja Saudi Arabia, tentu saja, memerintah seumur hidup. Korup, karena kepemimpinan otokratik dan birokrasinya dijangkiti korupsi akut. Dalam kasus Tunisia, keluarga “Trabelsi”-nya Ben Ali mengeduk keuntungan besar dengan menguasai pemerintahan, institusi-institusi Negara, dan perekonomian. Belum lagi para birokratnya. Represif, karena kepemimpinan otokratik tidak mentolerir suara kritis apalagi oposisi. Sebagaimana dikemukakan Al Jazeera, kebanyakan masyarakat Arab dicirikan oleh kemiskinan, pengangguran, dan represi politik. Sedangkan menurut pakar ekonomi Samir Yousif, Saudi Arabia dikuasai oleh “sebuah rezim otoriter yang didasarkan pada ideologi agamawi dengan distribusi pendapatan yang paling buruk di dalam sejarah.” Kata Yousif, para pemimpin agama yang berpengaruh adalah pegawai-pegawai Negara. Kemiskinan, lanjutnya, meluas, dan gerakan-gerakan reforma politik dengan ketat dilarang.

Untuk beberapa tahun atau dekade lamanya, rezim-rezim komprador yang otokratik, korup, dan represif bisa bertahan. Piranti-piranti kekerasan (hukum dan perundang-undangan, lembaga peradilan, kepolisian, tentara, penjara, bahkan gang-gang dari lumpenproletariat) dan pembangun kesadaran palsu (ideologi nasionalisme, “hasil-hasil pembangunan”, juga legitimasi teologis dari ajaran-ajaran agama) adalah alat-alat dari klas yang berkuasa untuk melestarikannya. Massa-rakyat takut berhadapan dengan kekerasan rezim, dan pada saat yang sama mengakui keabsahan rezim dengan segala sesuatu yang diperbuatnya. Mereka pun tunduk kepada rezim.

Tetapi dialektika mengajarkan kepada kita “kesatuan dari hal-hal yang bertentangan.” Dalam sikap tunduk massa rakyat terhadap rezim, terdapat pula rasa tidak puas, kemarahan, bahkan kebencian terhadapnya. Selama bertahun-tahun atau berdekade-dekade, kedua hal yang saling bertentangan itu berakumulasi. Sementara itu krisis-krisis yang secara inheren menjangkiti kapitalisme (tidak terkecuali bahkan apalagi kapitalisme-kroni dan Neoliberalisme!) selalu terjadi dari waktu ke waktu. Krisis keuangan 2008 yang melanda Eropa, misalnya, tidak bisa tidak turut memukul Tunisia, karena sebagian terbesar perekonomiannya bergantung pada Uni Eropa. Krisis ini, yang termanifestasi sebagai tingginya angka pengangguran, semakin meluas dan parahnya kemiskinan, serta meroketnya harga-harga barang kebutuhan pokok, membuat “kesetimbangan” sikap tunduk di satu sisi dan ketidakpuasan di sisi lain bergeser. Rasa tidak puas menjadi lebih kuat daripada sikap tunduk. Dalam keadaan demikian, kehadiran suatu pemicu akan mengubah akumulasi ketidakpuasan, kekecewaan, dan kebencian massa-rakyat menjadi perlawanan. Peralihan kualitatif, yakni kuantitas menjadi kualitas tak terelakkan lagi. Dalam konteks Tunisia dan Dunia Arab, “kemartiran” Mohamed Bouazizi adalah pemicu perlawanan massa-rakyat. Sikap tunduk teratasi, ketidakpuasan, kekecewaan, dan kebencian kepada rezim bertransformasi menjadi perlawanan hidup dan mati terhadap Ben Ali dan rezimnya. Dengan kata lain, revolusi sosial.

Demikianlah, pada 14 Januari 2011 diktator Tunisia Zine el Abidine Ben Ali terguling dari tampuk kekuasaannya. Tapi tergulingnya Ben Ali (yang kemudian lari dan diterima oleh pemerintah Saudi Arabia, setelah “sahabat”-nya presiden Prancis Sarkozy menolak kedatangannya) tidak berarti berakhirnya rezim yang sekian lama telah menyengsarakan rakyat. Pemimpin otokratik-korup-dan-represif itu sudah pergi, tapi rezim komprador yang birokratik-korup-dan-represif masih berdiri utuh. Rezim bisa memilih pemimpin baru sembari melakukan “reformasi” (tambal-sulam) di mana perlu, yang pada galibnya merupakan trik-manipulatif atau upaya membajak aspirasi revolusioner massa-rakyat untuk mempertahankan kekuasaan klas alih-alih menyerahkan kekuasaan kepada massa-rakyat. Trik-manipulatif itu dilakukan misalnya dengan membubarkan kabinet yang sekarang dan membentuk kabinet baru dengan menaruh orang-orang yang diperhitungkan dapat bekerjasama demi kemaslahatan rezim (termasuk guna menarik dukungan dari “sahabat” imperialisnya).

Dalam kasus Mesir, Mubarak membentuk kabinet baru dengan menempatkan Racheed Mohamad Racheed sebagai perdana menteri. Perlu diketahui, Racheed adalah seorang milyuner dan eks menteri investasi, perdagangan, dan industry. Orang ini teridentifikasi dengan reformasi-reformasi Neoliberal yang telah menyusahkan rakyat dengan meroketnya harga-harga hingga mencekik leher, pengangguran, dan kemiskinan yang parah. Mubarak juga mengangkat Omar Suleiman menjadi wakil-presiden (sesuatu yang janggal karena selama ini Mubarak tidak ber-wapres). Mubarak mengabdi kepadanya selama 18 tahun sebagai kepala badan intelijen Negara, yang berlumuran darah massa-rakyat Mesir – namun disukai Amerika dan CIA karena keterlibatannya dalam proses “perdamaian” Israel-Palestina.

Atau, bisa juga dengan membentuk provisional government (pemerintahan sementara) dan mengumumkan penyelenggaraan pemilu dalam waktu dekat – sementara pada saat yang sama memberlakukan jam malam, meneruskan tindakan represif terhadap massa-rakyat, bahkan mengerahkan gang-gang lumpenproletariat untuk melakukan berbagai aksi-kriminal guna menimbulkan kesan di hati massa-rakyat bahwa rezim komprador yang birokratik, korup, dan represif itu masih sangat dibutuhkan. Di Tunisia, Mohammad Al-Ghannoushi, eks perdana menterinya Ben Ali, menduduki kursi kepresidenan, membubarkan kabinet yang lama, dan membentuk kabinet baru dengan mengikutsertakan sejumlah menteri dari kabinet yang lama – dan para reformis blandis...

Tapi, di Tunisia, massa-rakyat konsisten menolak provisional government yang diawaki oleh eks kaki-tangan Ben Ali. Tentu, Ghannousi dan konco-konconya. Karena itu, sementara provisional government berusaha berkonsolidasi, massa-rakyat mengorganisir komite-komite perjuangan. Perlawanan massa-rakyat terus berlanjut, sementara para blandis (“reformis”) di tataran elit mengambil langkah-langkah yang memadukan persuasi dan represi, serta membajak aspirasi massa-rakyat dengan mengangkat orang-orang yang sama sekali tidak dikehendaki rakyat untuk duduk dalam pemerintahan. Dual power (kekuasaan ganda): di satu sisi kekuasaan massa-rakyat dengan komite-komite perjuangannya, dan di sisi lain pembajakan kekuasaan oleh para blandis burjuis di tataran elit. Tunisia hari ini barangkali mirip dengan Rusia sejak Revolusi Februari 1917.

Kebangkitan massa-rakyat di Dunia Arab tidak ada kena-mengenanya dengan agama (Islam), tidak juga ada kait-mengaitnya dengan kaum fundamentalis Islam. Ini murni gerakan massa-rakyat yang tertindas. Tiada teriakan “Allahu Akbar”, tiada slogan-slogan islami. Di Tunisia, beberapa waktu setelah Ben Ali hengkang, Rashid Ghannoushi, seorang pemimpin fundamentalis, kembali dari pengasingan. Tampil di media Tunisia, ia coba mengadu peruntungannya. Tetapi massa-rakyat rupanya menginginkan tatanan yang demokratik dan menyejahterakan alih-alih pemerintahan dengan Shariah Islam. Banyak yang menandaskan: “Kita tidak menendang-keluar Ben Ali untuk mendapatkan para Islamis!” Di Suez, Mesir, massa-rakyat tidak mengindahkan seruan para imam untuk tidak berdemonstrasi. Kesan yang coba ditimbulkan rezim Mubarak dan media Barat tentang peran Ikhwan al-Muslimin dalam gelombang massa-rakyat anti-Mubarak juga merupakan sesuatu yang dicari-cari untuk menjadi pretext bagi kekuatan imperialis pimpinan AS untuk memberikan dukungan kepada Mubarak. Kenyataannya, Ikhwan al-Muslimin alias Muslim Brotherhood tidak mengorganisir massa-rakyat. Mayoritas aktivis atau demonstran adalah kaum muda, termasuk para pemuda tunakarya dari kawasan-kawasan kumuh di Kairo dan Aleksandria. Mereka tidak berjuang demi atau untuk pemberlakuan Sharia, tetapi kebebasan dan pekerjaan alias demokrasi dan keadilan sosial. Meski demikian, perlulah kiranya kaum revolusioner waspada supaya revolusi sosial ini tidak dibelokkan ke jurusan yang sama sekali berbeda. Revolusi Iran 1979 adalah pelajaran pahit yang perlu dicamkan. Rezim Shah Reza Pahlevi jatuh bukan karena kaum Islamis pimpinan Ayatollah Khomeini, melainkan karena aksi golongan-golongan Kiri. Namun Partai Tudeh, yang menganut Teori Dua Tahap Revolusi malah menyerahkan kepemimpinan kepada Khomeini setibanya sang imam pulang dari pengasingan. Rezim Shah tumbang, namun berganti dengan rezim para mullah yang tak kalah reaksioner dan represifnya.

Dalam pada itu, perlulah juga kaum revolusioner mewaspadai pihak militer. Militer adalah piranti kekerasan Negara burjuis. Dengan kata lain, mereka adalah “alat pemukul” di tangan klas-penguasa (burjuasi). Rezim komprador “demokratis” bisa berlalu, untuk kemudian digantikan dengan rezim komprador “militer”. Kedua rezim tersebut sama-sama melayani kepentingan klas-penguasa dan menjadi “sahabat” kaum imperialis. Di Tunisia mereka terlihat terpecah, di antara yang bersikap ramah terhadap rakyat, dan yang lain represif. Terutama pimpinan-pimpinan tinggi tentara, mereka menyadari betul kemungkinan untuk berkuasa dalam situasi revolusioner. Mereka adalah kekuatan kontra-revolusi. Tentu di kalangan militer, kaum revolusioner perlu melakukan pendekatan terhadap para prajurit rendahan. Pada umumnya para prajurit itu berasal dari keluarga buruh, tani, kaum miskin-kota... Perlu ada komite-komite buruh, tani, mahasiswa, kaum-miskin kota, dan prajurit rendahan untuk menuntaskan revolusi.

Sementara revolusi sosial terus bergulir, bergejolaklah kerinduan di hati saya bahwa revolusi tersebut akan menghantar Dunia Arab ke jurusan tertentu. Bukan sekadar berakhirnya pemerintahan otokratik, tapi berdirinya pemerintahan-pemerintahan rakyat yang melaluinya demokrasi politik dan demokrasi ekonomi terwujudkan. Pemerintahan-pemerintahan rakyat yang bertulangpunggungkan dewan-dewan rakyat-pekerja atau komite-komite rakyat-pekerja, yang akan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan dan mendemokratiskan kepemilikan, akses, dan kontrol terhadapnya, serta membangun-kembali Dunia Arab melalui perencanaan ekonomik dan proses politik yang demokratis-partisipatoris. Dengan kata lain: terciptanya tatanan masyarakat sosialis sepenuhnya. Bukan hanya di Tunisia, bukan hanya di Mesir. Tapi di seluruh Dunia Arab: Federasi Sosialis Arab.

Tapi untuk itu, massa-rakyat membutuhkan kepemimpinan revolusioner. Massa-rakyat membutuhkan sebuah vanguard party yang dengan setia tanpa kompromi memimpin, mendampingi, dan mendorong massa-rakyat untuk menyelesaikan tugas-tugas demokratik dan mengembangkannya menjadi tugas-tugas sosialis. Tanpa kehadiran sebuah vanguard party, yang terdiri dari para revolusioner sejati yang diperlengkapi dengan teori, program, metode, dan tradisi revolusioner yang mantap, kebangkitan massa-rakyat akan mudah dibajak, diselewengkan, atau malah ditumpas oleh kaum kontra-revolusioner – baik para “reformis”, blandis, kaum fundamentalis agama, elit militer, maupun intervensi pihak imperialis.

Saya berharap, revolusi sosial yang sedang dimulai di Dunia Arab akan berkembang menjadi revolusi sosialis ... seperti yang pernah terjadi pada abad yang silam, Revolusi Rusia Februari dan Oktober 1917... !

  • Solidaritas saya untuk massa-rakyat Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Yaman, Libya, Yordania, Syria, Saudi Arabia, dan seluruh Dunia Arab!
  • Hidup massa-rakyat di seluruh Dunia Arab!
  • Gulingkan rezim-rezim komprador, otokratis, birokratis, korup, dan represif di seluruh Dunia Arab!
  • Kembangkanlah revolusi sosial menjadi Revolusi Sosialis, baik di masing-masing negeri maupun di seluruh Dunia Arab!
  • Demi tatanan-baru yang adil-manusiawi, tatanan masyarakat yang demokratik secara politik dan ekonomik!
  • Hidup Sosialisme!
  • Kaum buruh sedunia, bersatulah! ***


3 Februari 2011

Minggu, 05 Desember 2010

MAGNIFICAT ANAK DARA MARIA

Oleh: Pandu Jakasurya

Revolusioner! Begitulah kiranya kesan kita ketika membaca Magnificat Anak Dara Maria. Betapa tidak! Simak saja:

Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa

”Orang-orang yang takut akan Dia”, ”orang-orang yang rendah”, dan ”orang yang lapar” ada di pihak yang satu; sedangkan ”orang-orang yang congkak hatinya”, ”orang-orang yang berkuasa”, dan ”orang yang kaya” ada di pihak yang lain. Keduanya berseberangan, berhadap-hadapan. Allah berdiri di pihak yang pertama; Dia berdiri sebagai lawan pihak yang kedua. Sebuah revolusi sosial, dengan aspek-aspeknya yang teologis, politik, dan ekonomik. Barangkali sebuah revolusi Marxis dengan theistic point of reference; atau setidak-tidaknya praksis aspirasional dari theology of liberation.

Sangat menarik. Secara naratif kidungan revolusioner ini dinyanyikan oleh Anak-Dara Maria. Biasanya kita membayangkan sang anak-dara sebagai seorang gadis polos lugu nan lemah-lembut, penuh kesalehan yang serba pasrah kepada Yang Mahakuasa. “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu,” begitu katanya kepada Gabriel sang pesuruh sorgawi. Tapi, demikian Narasi Lukas, Maria yang taat-beriman adalah Maria yang sama dengan Anak-Dara yang revolusioner.

Keduanya, yakni sikap taat-beriman dan watak-revolusioner tidaklah bertentangan. Bahkan justru karena sikap taat-berimanlah kiranya Sang Anak-Dara menjadi revolusioner. Persoalannya terletak pada siapa dan/atau apa yang diimani dan ditaati. Bila yang diimani dan ditaati adalah sosok ilahiah tetiron macam Mamon (simbol tatanan-ekonomik yang eksploitatif), Kaisar (simbol tatanan-politik yang represif), dan Kenisah (simbol tatanan-agamawi yang eksklusif, diskriminatif, memarjinalkan, dan menghamba kepada Mamon dan Kaisar), watak-revolusioner merupakan suatu kekejian. Tapi bila yang diimani dan ditaati adalah Allah-nya kaum yang miskin-tertindas, seperti Allahnya Maria Sang Anak-Dara, maka watak-revolusioner merupakan merupakan watak yang lahir-terbentuk dari ilham ilahi sejati dan yang diarahkan-Nya untuk mengekspresikan diri dalam praksis keadilan yang historis: Pembebasan kaum miskin-tertindas.

Di sini kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: sosok ilahiah manakah yang kita imani dan taati? Sinful Trinity Mamon-Kaisar-Kenisah (yang merupakan proyeksi dari sinful trinity Hartawan-Penguasa-Agamawan yang dikutuk habis-habisan oleh Nabi-nabi Perjanjian Lama) atau Allah-nya kaum miskin-tertindas alias kaum paupertariat, atau minjung dalit anawim? Nama boleh sama (misalnya: Yahweh, Allah, Yesus Kristus dan sebagainya). Tapi watak berbeda sangat. Seratus delapan puluh derajat. Yang satu melegitimasi, menjustifikasi, dan melestarikan tatanan yang tidak adil. Yang lain subversif, menolak tatanan yang tidak adil, memproklamirkan tatanan-baru yang adil-manusiawi (”Kerajaan Allah”), dan berinkarnasi dalam praksis keadilan atau pembebasan. Yang satu adalah bangunan-atas yang merupakan proyeksi dari basis hubungan-hubungan produksi sosial yang tidak adil; yang lain adalah bangunan-atas yang persis terbalik, yang lahir dari jeritan kaum tertindas dan menjadi kontra-proyeksi dari basis hubungan-hubungan produksi yang tidak adil. Jadi ada Yahweh, Allah, atau Yesus Kristus yang berpihak pada kaum penindas dan membenarkan penindasan; dan di sisi lain ada Yahweh, Allah, atau Yesus yang berpihak pada kaum tertindas dan memvindikasi praksis keadilan. Sekali lagi, sosok ilahiah mana yang kita imani dan taati?

Bagi Anak-Dara Maria, jawabannya sangat jelas. Sosok-ilahiah yang diimani dan ditaatinya adalah Allahnya kaum miskin-tertindas. Allah yang subversif; Allah yang revolusioner; Allah yang Kiri, the Leftist God. Tak heran bila Anak-Dara Maria berwatak revolusioner, sebagaimana terungkap dalam kidungannya. Ia mengaku dirinya sebagai “hamba Tuhan” (1.38, 48). Dalam pada itu ia juga mengakui Israel sebagai hamba Tuhan (lihat 1.54). Dengan jalan itu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Israel. Tapi Israel yang mana? Istilah-istilah yang tersaji dengan paralelisme-sinonim dan paralelisme-antitesis menolong kita untuk memahami siapakah Israel yang dengannya Sang Anak-Dara mengidentifikasikan diri. Ada tiga pasang paralelisme-antitesis:

”Orang-orang yang takut akan Dia”       vs  ”orang-orang yang congkak hatinya”
”Orang-orang yang rendah”                  vs  ”orang-orang yang berkuasa”
”Orang yang lapar”                               vs  ”orang yang kaya”

Dari paralelisme ini jelaslah: Israel tidak didefinisikan dengan “orang-orang yang congkak hatinya”, “orang-orang yang berkuasa”, dan “orang kaya”. Congkak, berkuasa, dan kaya, itu bukan Israel. Sebaliknya, Israel didefinisikan dengan “orang-orang yang takut akan Dia”, “orang-orang yang rendah”, dan “orang yang lapar.” Itulah Israel. Itulah anawim, kaum miskin-tertindas yang hanya berharap kepada Allah dan mengandalkan rahmat-Nya semata-mata. Mereka sangat miskin, melarat, sampai-sampai kelaparan. Mereka rendah, hina, dan tak berdaya, karena mereka tidak mempunyai kuasa baik ekonomik maupun politik. Tapi sosok ilahi yang sejati mempedulikan mereka, hidup di dalam mereka, menderita bersama dengan mereka, dan berjuang-dan-menang bersama mereka pula.

Dengan mengidentifikasikan dirinya dengan anawim, Anak-Dara Maria memaknai pengalamannya sebagai bagian dari rencana-aksi pembebasan ilahi atas kaum miskin-tertindas. Melalui sang pesuruh sorgawi Allahnya kaum miskin-tertindas melibatkannya dalam karya menghadirkan Sang Mesias ke dunia. Taat-beriman, ia bersedia. Elizabet sepupunya memberikan konfirmasi; dengan kuasa Roh Kudus ia berseru dengan suara nyaring demi mendengar salam Sang Anak-Dara:

”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan
dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Sebab sesungguhnya,
ketika salammu sampai kepada telingaku,
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Dan berbahagialah ia, yang telah percaya,
sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (1.42-45)

Maka Maria pun mengidungkan:

”Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang
segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (1.46-49).
Tapi ia menyusul baris-baris syair itu dengan

“Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (1.50-53)

Seakan ia berkata: Tuhan telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya, yakni aku. Itu dilakukannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku. Aku terhisab dalam ”Israel”, anawim, yakni orang yang takut akan Dia, orang-orang yang rendah, dan orang yang lapar. Sama halnya dengan aku, yang mengalami kepedulian dan perbuatan-perbuatan besar Tuhan, demikian pulalah mereka. Lihat saja. Rahmat-Nya turun-temurun atas anawim; Ia meninggikan anawim; Ia melimpahkan segala yang baik kepada anawim. Sebaliknya, Ia malah menceraiberaikan kaum-kuasa, menggulingkan mereka dari tampuk kekuasaan, dan menyuruh mereka pergi dengan tangan hampa. Mesias yang akan kulahirkan akan menjadi meterai praksis keadilan sebagai tindakan Allah yang paling menentukan: membebaskan anawim dan menghukum kaum-kuasa. Karena itu pengalamanku menjadi ibu Sang Mesias merupakan bagian dari praksis keadilan, karya pembebasan.

Dalam pandangan Sang Anak-Dara, praksis keadilan itu merupakan penggenapan janji Allah kepada Abraham dan keturunannya: ”Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya” (1.54-55). Janji apa? Janji bahwa mereka akan menjadi berkat bagi segala bangsa (Kej 12.3; 22.18;26.4;28.14). Ya, segala kaum dan bangsa yang tertindas, yang menjadi korban exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation.

Refleksi

Pertama, apa makna Magnificat bagi Gereja? Mendengar pertanyaan ini diajukan, sementara orang terdorong untuk melanjutkannya dengan pertanyaan: “Gereja yang mana yang Saudara maksudkan?” Sekilas “pertanyaan lanjutan” ini konyol. Tapi justru karena kekonyolannya, pertanyaan ini menjadi krusial. Sebagaimana Antonio Gramsci, Marxis Italia, membedakan antara Katolisisme elit dan Katolisisme populis, demikianlah kiranya ada Yahweh-Allah-Yesus tetiron jelmaan sinful-trinity Mamon-Kaisar-Kenisah di sisi Kanan dan ada Yahweh-Allah-Yesus sejati yang berkomitmen kepada kaum miskin-tertindas di sisi Kiri. Dihadapkan pada dua sosok ilahi dengan nama yang sama, respons Gereja akan memperlihatkan jati-dirinya yang sesungguhnya. Magnificat adalah salah satu batu-ujinya.

Bila Gereja ”mengharamkan” Magnificat (entah dengan mengabaikannya sebagai bagian dari Narasi Nativitas entah dengan menolaknya karena bisa menyinggung para tuan-nyonya yang terhormat) atau ”menafsirkannya secara rohani”, jelaslah jati-dirinya. Itulah Gereja Kanan, penyembah lembu emas bernama Yahweh-Allah-Yesus jelmaan sinful trinity. Bila Gereja menjadikan Magnificat sebagai inspirasi sekaligus dorongan untuk berkomitmen pada kaum miskin-tertindas bahkan mengimplementasikannya dalam revolusi sosial sampai titik-darah yang penghabisan, jelas pulalah jati-dirinya. Itulah Gereja Kiri, pengabdi Allah sejati dan Kerajaan-Nya. Tapi barangkali, menurut diferensiasi klas yang ada di dalamnya, Gereja terbelah di antara anggota-anggota jemaatnya yang berposisi Kiri dan yang berposisi Kanan dalam menanggapi Magnificat Anak-Dara Maria. Jadi di dalam satu Gereja yang ”sama” orang-orangnya menjadi Gereja-gereja yang berbeda, yang masing-masing menyembah atau mengabdi kepada Tuhan-tuhan yang berbeda meski dengan nama yang sama. Padahal kata Yesus dari Nazaret: ”Kamu tidak dapat melayani Allah sekaligus melayani Mamon.” Maka bila kita memparafrasekan kata-kata Frei Beto: ”Yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya bukanlah agamanya, tetapi di sisi mana mereka berdiri, di sisi penindas atau di sisi kaum tertindas.”

Kedua, dalam perspektif Magnificat Anak-Dara yang revolusioner itu, masa-masa jelang Natal secara khusus merupakan test case bagi Gereja dan orang-orang yang mengenakan Kristus sebagai identitas keagamaannya:

  • Kristus manakah yang dipuja bila Gereja dan orang-orang Kristen larut dalam extravaganza?
  • Kristus manakah yang disanjung bila ”Dia” kelu dalam mengajukan tuntutan ”bunuh-diri klas” seperti yang dipatuhi oleh Barnabas dan dilakukan kaum burjuis-kecil yang mengkomitmenkan hidup mereka pada praksis keadilan seperti Che Guevara, Rama Camilo Torres, Nestor Paz, Rama Rutilo Grande, Uskup Agung Oscar Romero, dan lain-lainnya?
  • Kristus macam mana yang nyaman bermahkota emas dan disemayamkan di dalam gedung gereja yang mewah gemerlap sementara pada saat yang sama Ia sanggup bertemu dengan kaum paupertariat yang berdesak-desakan di pemukiman kumuh di sekitar ”istana pualam” (baca: penjara mewah) bersalib besar?
  • Kristus macam mana yang mengatakan bahwa orang miskin selalu ada di antara para pengikut-Nya tanpa bermaksud menggugat tatanan ekonomi-politik-religius yang justru menjadi sumber sekaligus pelestari segala kemelaratan?

Ketiga, ”bunuh-diri klas”, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Mario Cabral, adalah harapan satu-satunya bagi kaum-kuasa sebelum mereka terjungkal oleh revolusi sosial yang digerakkan Allah. Para teolog pembebasan menyebutnya evangelical poverty, yang secara hakiki berarti preferential option for the poor (and the oppressed). Kita mendengar gaung bunuh-diri klas dari kidungan Magnificat yang mengontraskan anawim dengan kaum-kuasa.

Kaum burjuis jauh dari kelaparan, dan pada mereka ada kekuasaan ekonomi dan politik. Kaum burjuis-kecil mungkin tidak mengalami kelaparan, meski mereka tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik. Tapi bila benar mereka takut akan Tuhan, Allah-nya kaum miskin-tertindas, Allahnya Maria Sang Anak Dara, adakah konsistensi-etis lain kecuali melakukan bunuh-diri klas? Dengan kata lain, adakah jalan lain kecuali terlibat dalam praksis keadilan alias perjuangan pembebasan bersama dengan kaum tertindas? (Dan itu menuntut: demokratisasi kepemilikan, akses, dan kontrol terhadap alat-alat produksi massal!).

Dengan ”bunuh-diri klas” kaum burjuis dan burjuis-kecil, ya, kita, akan terhisab ke dalam anawim. Kita pun menjadi kaum revolusioner, seperti Anak-Dara Maria. Dalam perjuangan bersama dengan kaum paupertariat, kita akan membidik revolusi sosial; revolusi yang digerakkan Allah, yang tidak akan menjungkalkan kita untuk mencium debu dan menjadi debu, melainkan mengarahkan kita untuk membangun tatanan baru ekonomik, politik, dan agamawi yang adil-manusiawi sebagai replika Kerajaan Allah. ***

Semarang, Minggu II Adven 2010

Kamis, 04 November 2010

BUKAN BONAPARTISME APALAGI FASISME, TETAPI SOSIALISME!

Oleh: Pandu Jakasurya

Pak Kwik Kian Gie menulis artikel yang sangat menarik-menggelitik di Kompas.com. Judulnya, "Aku Bermimpi Jadi Presiden" (http://m.kompas.com/news/read/data/2010.11.03.08431944). Yang dibidik jelas, orang nomor satu di negeri ini yang dari ke hari semakin kelihatan pandir terbelit imperialisme, feodalisme, dan politik transaksional ("politik dagang-sapi"). Bila SBY mau meluangkan waktu membaca dan merenungkan tulisan Pak Kwik, tentulah besar faedahnya untuk ber-otokritik. Suara atau tulisan Pak Kwik patut didengar. Bukan hanya karena beliau cerdas, tetapi juga seorang yang berkomitmen kebangsaan yang jelas serta berintegritas tinggi.

Dalam pada itu, sebagai seorang sosio-demokratik, saya melihat ada bahaya dalam "impian" Pak Kwik. Saya mempersilakan Kawan-kawan menyimak lebih dulu tulisan Pak Kwik, setelah itu menimbang "kekhawatiran" dan usul saya. Monggo...

Bukan Bonapartisme Apalagi Fasisme, Tetapi Sosialisme!

"Impian" Pak Kwik untuk SBY bila menjadi kenyataan akan menggiring Indonesia ke jalan "bonapartisme populis" dan akhirnya fasisme. Lagi-lagi seorang presiden dengan kekuasaan yang nyaris mutlak. Lagi-lagi dukungan Angkatan Bersenjata. Lagi-lagi back to the original text of UUD 1945 yang cenderung bisa dijadikan apa saja untuk membenarkan penguasa.

Saya sangat menghargai Pak Kwik. Komitmen kebangsaan dan integritas moralnya tak terbantahkan. Namun cara berpikirnya merepresentasikan burjuasi-nasional yang frustrasi dengan kebobrokan klas-nya sendiri. Orang-orang dari burjuasi-nasional yang masih berharap bahwa "demokrasi ala Abang Sam" bisa membereskan negeri ini, tentu sedang berilusi. Istilah-istilah dan konsep-konsep yang mentereng pun digulirkan: "good governance", "accountability", "fit and proper test", "feasibility", "check and balance", "civil society", dsb. Tapi kaum optimists itu lupa, sengaja lupa, atau tidak mengerti bahwa itu semua ada dalam tataran "struktur-atas" dari sebuah masyarakat yang "bangunan-bawah"-nya sudah mengalami revolusi burjuis-demokratik yang tuntas. Inggris, Prancis, Amerika Serikat, disusul negeri-negeri "kapitalis-maju" lainnya. Sedangkan Indonesia? Negeri atau bangsa kita belum pernah mengalami revolusi burjuis-demokratis secara tuntas.

Proyek "revolusi nasional"-nya Bung Karno pada hakikatnya mengarah ke sana, sebagai tahapan awal sebelum tiba pada revolusi sosialis. Tapi konsepsi Menshevik (dan Stalinis) yang secara kreatif diolah oleh BK (dg bekal persatuan Nasakom) gagal total karena dikhianati bangsane dhewek. Apa yang secara riil terjadi, yakni gagalnya proyek-historis revolusi nasional BK, mengafirmasi analisis Trotskyist-Marxism bahwa sebagai klas, burjuasi di negeri-negeri yang terlambat memasuki fase kapitalisme (karena di negeri-negeri kapitalis maju kapitalismenya telah menjelma menjadi imperialisme) tidak akan mampu menuntaskan "revolusi burjuis-demokratik" atau "revolusi nasional." Pasalnya, sebagai sebuah klas, burjuasi terlalu terikat bahkan terbelenggu oleh feodalisme dan imperialisme. BK tentu saja progresif, tapi klasnya tidak. Burjuasi Indonesia pada masa BK terdiri dari burjuasi-nasional (yang menginginkan kemerdekaan bangsa dengan kedaulatan sepenuhnya), burjuasi-komprador (kaki-tangan imperialis), dan kapitalis-birokrat (burjuasi semu berwatak feodal yang menikmati kemewahan ala burjuis melalui mesin-birokratik). Bung Karno gagal total, karena klasnya (burjuasi) pecah, dan segmen klasnya (burjuasi-nasional) dihancurkan oleh segmen-segmen klas lainnya (burjuasi-komprador dan kapitalis-birokrat). Pasca Bung Karno, burjuasi-komprador, kapitalis-birokrat, dan kapitalis-kroni mendominasi Indonesia. Burjuasi-nasional lenyap.

Sampai saat ini, lebih dari satu dekade setelah Soeharto lengser, Indonesia nampaknya tidak punya segmen-klas burjuasi-nasional. Yang ada hanyalah pseudo burjuasi-nasional macam Surya Paloh (yang tampilannya sangat nasionalistis namun ya tetap komprador; tentu kita ingat iklan Exxon Mobil yang muncul saban sekian menit di Metro TV), misalnya. Pak Kwik bisalah kita golongkan ke dalam burjuasi-nasional. Tapi sebagai segmen klas yang mempunyai kekuatan signifikan, agaknya kita memang tidak punya lagi burjuasi-nasional. Sebagian terbesar terang-terangan komprador, kapbir, dan kapitalis-kroni. 

Lalu akankah Indonesia mengalami revolusi burjuis-demokratis secara tuntas? Bila diserahkan kepada burjuasi, saya kira tidak akan pernah. Pasalnya jelas, mereka terikat-kuat dalam tali-temali dengan imperialisme dan feodalisme. Impian para forza optimissima jelas-jelas ilusi.

Lantas, apakah “mimpi” Pak Kwik bisa menjadi alternatif? Dari kacamata Marxian jawabnya: ya! Persoalannya adalah alternatif macam mana. Bagi klas burjuasi, menyelamatkan sebuah bangsa yang terkurung dalam paradigma kapitalisme pada hakikatnya menyelamatkan kapitalisme itu sendiri. Ini berangkat dari asumsi bahwa kapitalisme adalah tatanan yang paling baik meski tidak sempurna. Bila dilakukan perbaikan di sana-sini, termasuk putting the right men on the right places, kapitalisme akan memberi faedah yang besar kepada semua lapisan rakyat (kendati prinsipnya tetap sama, trickle down effect). Tapi bagaimana bila “dari kepala sampai ekor” semuanya kudisan, seperti negeri kita tercinta? Usul Pak Kwik: presiden dengan kekuasaan nyaris mutlak, yang didukung Angkatan Bersenjata, dan tegaknya kembali UUD 1945. Jadilah bonapartisme (kendati populis) yang akan bertransformasi menjadi fasisme. Meminjam ungkapan Prof Steuermann (yang sering dikutip Bung Karno), Fasisme adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan kapitalisme.

Lalu bagaimana?

Menurut pendapat saya, sudah terlalu terlambat bagi Indonesia untuk mengalami revolusi burjuis-demokratis. Alasannya jelas: kla burjuasinya terikat kuat pada feodalisme (birokratik) dan imperialisme (sekarang dlm wujud neoliberalisme). Hasil-hasil Reformasi 1998 adalah konsolidasi komprador, kapbir, dan kapitalis kroni. Kecuali demokrasi-konstitusional yang serba prosedural (“teladan” Abang Sam) dan negeri yang babak-bundas habis dijarah-rayah oleh imperialisme neo-liberal dan para komprador-kapbir-kapitalis kroni, Reformasi 1998 tidak berdampak apa-apa. Malahan sekarang negeri ini makin jadi incaran Islam Transnasional, baik yang bergaya Taliban macam HTI maupun yang bergaya Irannya Ahmadinedjad dan Turki-yang-sekarang macam PKS.

Kondisi-kondisi obyektif baik di tataran internasional (krisis ekonomi yang berkepanjangan) maupun di tataran nasional (makin carut-marutnya negeri dalam pemerintahan SBY Jilid II) sudah matang, bahkan mungkin hampir membusuk. Indonesia, selaku matarantai terlemah kapitalisme Asia Tenggara, sebenarnya di ambang revolusi. Tapi revolusi tidak hanya membutuhkan kondisi obyektif untuk meledakkannya. Revolusi juga memerlukan faktor subyektif, yakni kesadaran revolusioner dari klas dan kaum yang paling disengsarakan selama ini. Mereka adalah laki-laki dan perempuan dari klas buruh, kaum tani (peasants, not farmers), dan kaum miskin kota. Mereka perlu menyingkap dan menyingkirkan tabir kesadaran palsu (termasuk yang dibikin oleh agama, tentang takdir, ketaatan kepada pemerintah, dsb), mengorganisir diri, dan bermobilisasi. Tapi kesadaran itu tidak jatuh begitu saja dari langit atau secara otomatis dari kondisi-kondisi obyektif. Kesadaran, organisasi, dan mobilisasi itu baru bisa terjadi bila ada sebuah partai-kader yang memainkan peran sebagai partai-pelopor (vanguard party). Terdiri dari para pejuang yang memiliki kesadaran revolusioner yang paling maju, komitmen preferential option for the poor and the oppressed, dan berdisplin baja, vanguard party harus melancarkan perjuangan kontra-hegemoni, memampukan massa rakyat-pekerja untuk membuang selubung ideologis kesadaran palsu mereka, menginjeksikan kesadaran revolusioner, solidaritas, dan internasionalisme, mengorganisir mereka dalam dewan-dewan rakyat-pekerja, serta memobilisir mereka dalam momentum yang tepat untuk mengakhiri rezim dan tatanan masa kini serta menggantikannya dengan tatanan baru, yang demokratik baik secara politik maupun secara ekonomik.

Partai-kader yang memainkan peran kepeloporan ini harus mempunyai garis-massa. Partai ini harus selalu memiliki kontak dengan massa rakyat-pekerja. Partai ini menjadikan demokrasi-partisipatoris (sebagai kerangka dari demokrasi-politik dan demokrasi-ekonomi) sebagai demokrasinya massa rakyat-pekerja dengan praktik di dalam dewan-dewan rakyat-pekerja. Dalam konteks demokrasi-partisipatoris, partai-pelopor menggunakan sentralisme-demokratik sebagai mekanisme kesatuan gerak-aksi untuk bermobilisasi dan memenangkan revolusi. Tentu, revolusi sosialis, atau revolusi sosio-demokratik, yakni revolusi yang menumbangkan tatanan masa kini yang kapitalistis dan membangun tatanan masa depan yang demokratik secara ekonomik dan politik.

Mimpi Pak Kwik mungkin lahir dari keluhuran budi. Namun bukan bonapartisme yang dibutuhkan Indonesia, bahkan bonapartisme-populis (seperti Bung Karno) sekalipun. Bukan pula fasisme dan ultranasionalisme. Indonesia membutuhkan Sosialisme. Sebab, di penghujung jalan kapitalisme, umat manusia, termasuk bangsa Indonesia akan diperhadapkan pada dua pilihan: Sosialisme atau Barbarisme. Demi umat manusia, dan dengan demikian demi hormat saya kepada Pencipta dan Pembebas Agung, saya memilih: Sosialisme! ***

  
PJS_Nov2010