Kamis, 23 Maret 2017

KETIKA PERSUASI DIINGKARI OLEH REPRESI

Oleh: Rudolfus Antonius

Orang bilang, salah satu ciri negara demokrasi adalah supremasi hukum.

Kami kaum Sosialis, yang berkomitmen pada demokrasi ekonomi dan politik, sepakat, sungguh sepakat. Dalam pada itu kami insyaf, oleh dan untuk kepentingan siapa hukum itu dibuat, diberlakukan, dan ditegakkan.

Dalam dinamika perjuangan kelas, kadang-kadang kelas penguasa merasa perlu memberikan kelonggaran kepada rakyat.

Kami katakan "kadang-kadang," karena kelas penguasa berkepentingan untuk mengurangi akselerasi perjuangan kelas - yang bakal menggali kubur bagi diri mereka sendiri!

Memang, dalam konteks perjuangan kelas, kelonggaran yang kadang-kadang itu efektif: menabur ilusi dalam benak rakyat pekerja dan memberi kesempatan kepada kelas penguasa untuk menarik nafas dan menyiapkan langkah-langkah yang lebih kejam untuk mencekik rakyat pekerja.

Tetapi sementara kapitalisme terus merangkak di usia senjanya, kelas penguasa ditandai dengan pertikaian antarfaksi. Pertikaian tersebut di antaranya berkisar pada

  • cara memfungsikan negara sebagai alat kekuasaan;
  • cara melestarikan eksploitasi, penindasan, dan peminggiran terhadap rakyat pekerja dan bumi tempat mereka berpijak; dan
  • cara menanggapi krisis-krisis ekonomi yang berpotensi untuk bertransformasi menjadi krisis politik yang bisa mengantar kelas penguasa ke liang kubur.

Ketika hegemoni goyah, yakni saat rakyat pekerja melakukan perlawanan, faksi-faksi kelas penguasa akan berdebat soal persuasi atau represi. Keduanya sama-sama ingin memulihkan hegemoni.Yang satu dengan wajah manis, yang satu dengan wajah bengis.

Perjuangan rakyat Kendeng mempertahankan Ibu Bumi adalah contoh cetha wela-wela tentang perlawanan rakyat pekerja terhadap hegemoni kelas penguasa.

Mahkamah Agung menanggapinya dengan persuasi: menerbitkan Putusan MA Nomor 99 PK/ TUN/ 2016, yang berintikan perintah kepada Gubernur Jawa Tengah untuk menghentikan kegiatan PT Semen Indonesia di kawasan Kendeng.

Di lain pihak, dengan lika-liku yang berujung pada pengingkaran terhadap putusan MA via SK Gubernur Jateng 660.1 Tahun 2017 (tentang izin lingkungan penambangan dan pembangunan pabrik semen PT. Semen Indonesia [Persero] Tbk di Kabupaten Rembang Provinsi Jateng), Gubernur Jawa Tengah jelas sedang bermain api. Ia merusak persuasi itu sekaligus membuka pintu lebar-lebar bagi represi.

Siapapun dengan mudah dapat menduga, ada "sesuatu" di belakang keberanian Gubernur Jawa Tengah melanggar putusan MA dan menafikan supremasi hukum. Apapun "sesuatu" itu, agaknya tidak jauh-jauh dari pertikaian antarfaksi utama dalam tubuh kelas penguasa dalam memperebutkan kawasan-kawasan penyedia bahan baku semen. Pada titik ini, penghormatan rakyat Kendeng kepada Ibu Bumi dinafikan sebagai penghambat pembangunan. Long march yang mereka lakukan, permohonan yang mereka ajukan, bahkan kematian mereka sekali pun tidak ada artinya sama sekali.

Wafatnya Ibu Padmi dalam usia yang relatif muda (48 tahun) menambah panjang deretan para martir pejuang tanpa kekerasan di hadapan negara yang tak lain merupakan alat kekuasaan kapitalis. Pengurbanan tersebut boleh jadi membuat Gubernur Jawa Tengah bahkan Presiden terenyuh. Tapi apakah bagi keduanya pengurbanan itu lebih berharga daripada eksploitasi atas Ibu Bumi, sangat mungkin tidak.

Persoalannya bukan hati manusia, tetapi suatu dunia tak berhati, yang dikonstruksi oleh kapitalisme - suatu sistem ekonomi-politik yang sejak fajar kelahirannya di akhir Abad Pertengahan hingga saat ini telah menuntut tumbal manusia tak terbilang banyaknya serta kerusakan alam yang tiada tara.

Bila itu persoalannya, rezim kapitalis yang berwajah populis seperti yang sekarang pun pada galibnya sama dengan-rezim populis yang berwajah elitis; demikian juga hakikatnya rezim kapitalis dengan facade demokratik dan rezim kapitalis yang fasistik.

Rakyat pekerja tak perlu meminta belas kasihan kepada kelas penguasa. Bersatu, bersatu, dan bersatu. Acungkanlah tinjumu. Sarangkan itu dengan telak di ulu hati kelas penguasa - untuk menjungkalkanya. Itulah jalan untuk beroleh keadilan dan memenangkan kemanusiaan bagimu!

SPARTAKUS, berjuanglah bersama rakyat Kendeng yang bangkit melawan!

Yesus Kristus, yakni Dia yang Teraniaya, ada bersama-sama dengan kaum tertindas dan semua orang yang berjuang bersama dengan mereka!

Lemah Abang, 23 Maret 2017.

Minggu, 20 Maret 2016

Minggu Palmarum 2016

People Worship Jesus in Jerusalem
in Palm Sunday

freecoloringpages.co.uk 
20 Maret 2016

HOSANA! BERILAH KIRANYA KESELAMATAN
Markus 11.1-11

Rudolfus Antonius 

Saat dibaptiskan, Yesus dinobatkan Allah sebagai Raja dan Hamba (Markus 1.11). Sebagai Raja atau Mesias, Yesus adalah Anak yang dikasihi Allah. Sebagai Hamba, Allah berkenan kepada-Nya. Dalam kenyataannya, Yesus menghayati jalan hidup sebagai Hamba. Ya, Hamba yang “datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Markus 10.45).

Yesus berusaha merahasiakan martabat rajawi-Nya dari orang banyak. Menarik, pada saat yang sama, Yesus juga berupaya membimbing murid-murid-Nya untuk tiba pada pengertian bahwa Ia adalah Raja sekaligus Hamba. Ya, seorang Raja yang melayani dan menghamba sekaligus seorang Hamba yang akan dimuliakan sebagai Raja melalui penderitaan.

Mengapa Yesus menerapkan kebijakan ganda, “menutup ke luar” dan “membuka ke dalam”?

Yesus tahu apa akibatnya bila Ia mengungkap martabat rajawi-Nya kepada orang banyak. Di tengah deraan berbagai macam sakit-penyakit dan kungkungan setan-setan (lihat misalnya Markus 1.32-34; 3.7-12; 6.53-56), ikatan-ikatan syariat agama (lihat misalnya cerita-cerita yang terpapar dari Markus 2.1-3.6), dan penindasan politik (Markus 10.42), bisa dibayangkan apa reaksi orang banyak. Mereka akan menyambut-Nya sebagai Raja atau Mesias, yang  diyakini akan memulihkan “Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud” (Markus 11.10). Bila itu terjadi, bukan tidak mungkin Ia akan berpaling dari jalan sebagai Hamba dan menempuh jalan kemesiasan yang sama sekali berbeda dengan “apa yang dipikirkan Allah” (Markus 8.31).

Yesus ingin mulai dari murid-murid-Nya, orang-orang yang terdekat dengan-Nya, yang telah dipanggil dan ditetapkan-Nya “menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3.14). Ia berharap mereka tiba pada pengertian bahwa Ia adalah Mesias yang Menghamba sekaligus Hamba yang kelak dimuliakan sebagai Mesias. Pendeknya, Ia bukan Mesias seperti yang dibayangkan oleh orang banyak, Mesias menurut “apa yang dipikirkan manusia”; Ia adalah Mesias menurut “apa yang dipikirkan Allah.” Bila murid-murid sudah tiba pada pengertian yang benar, merekalah yang akan diutus untuk memberitakan jati diri-Nya yang sesungguhnya. Saat itu, “tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap” (Markus 4.21).

Sayangnya, para murid begitu lamban untuk mengerti. Hati mereka degil (Markus 6.51-52; 8.17, 21; bdk 9.32). Simon, yang sepertinya memiliki kesadaran yang lebih maju, masih memandang Yesus sebagai Mesias seturut dengan “imajinasi sosial” orang banyak: Mesias yang jaya minus penderitaan (Markus 8.29, 32). Tiga kali sasmita Yesus tentang penderitaan dan pemuliaan Anak Manusia (Markus 8.31; 9.31; 10.33-34), ditanggapi dengan salah kaprah. Mereka bisa diibaratkan seperti orang buta yang butuh dua kali tindakan Yesus sebelum benar-benar bisa melihat (lihat Markus 8.22-26). Yang jelas, ketika mengiring Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, mereka merasa cemas, sementara orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut (Markus 10.32).

Bagi Yesus, pergi ke Yerusalem merupakan puncak dari pelayanan-Nya, yakni “menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Markus 10.45). Sang Hamba memeteraikan pelayanan-Nya dengan penderitaan dan kematian yang akan menyelamatkan banyak orang. Menyelesaikan tugas akbar “yang dipikirkan Allah” itu, Ia akan dimuliakan Allah. Ia menderita hingga mati, namun dibangkitkan “sesudah tiga hari.”

Tapi simak tanggapan orang-orang yang mengiringi Yesus memasuki Yerusalem? Baik orang-orang “yang berjalan di depan” Yesus, maupun mereka “yang mengikuti dari belakang”, berseru:

Hosana!
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,
Diberkatilah Kerajaan yang datang,
Kerajaan bapak kita Daud,
Hosana di tempat yang mahatinggi! (Markus 11.9-11).

Jelas, mereka merujuk Yesus sebagai “Dia yang datang dalam nama Tuhan.” Ya, mereka memandang Yesus sebagai Raja, sebagai Mesias.

Mereka berkata-kata tentang “Kerajaan yang akan datang, Kerajaan bapak kita Daud.” Jelas, mereka menganggap Yesus, Sang Mesias, akan memulihkan atau mendirikan kembali Kerajaan Daud. Yesus datang di Yerusalem, Kerajaan Daud dipulihkan kembali.

Mereka berseru, “Hosana!” Sebuah doa, yang artinya “Berilah keselamatan!" Suatu seruan kepada Allah, tentu. Suatu seruan agar melalui Mesias Yesus Allah mendirikan kembali Kerajaan Daud, Kerajaan Israel Raya.

Memang, Yesus datang untuk menyelamatkan. Tapi bukan dalam arti memulihkan Kerajaan Daud. Ia datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai “tebusan pengganti” (lutron anti, lihat Markus 10.45). 

Ia akan me-Raja atas “banyak orang” (=semua, sebuah gaya bahasa Ibrani/Arami) yang telah ditebus-Nya. Itu tidak sama dengan berkuasa atas sebuah negeri dan bangsa, melainkan me-Raja dalam Pemerintahan Allah – yang melampaui batas-batas kewilayahan dan kebangsaan.

Ia akan me-Raja melalui pemberitaan Injil “kepada semua bangsa” (Markus 13.10), yang akan menyambutnya dengan iman dan pertobatan (bandingkan Markus 1.15).


Demikianlah, di awal “drama Pekan Suci” menurut Injil Markus ini, kita diperhadapkan dengan dua macam pandangan tentang martabat rajawi atau kemesiasan Yesus: Mesias yang menyelamatkan melalui penderitaan dan kematian yang menebus banyak orang atau Mesias yang menyelamatkan dalam arti memulihkan satuan politik yang disebut sebagai “Kerajaan Daud.” Yang satu seturut dengan “apa yang Allah pikirkan,” dan yang satunya lagi seturut dengan “apa yang manusia pikirkan.” 

Yang manakah pandangan Saudara? ***

Terpujilah Allah!

Jumat, 18 Maret 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (V)

Blind Bartimaeus
www.lookandlearn.com
Lent V: 13-19 Maret 2016

FAIT ACCOMPLI
Markus 10.46-52

Rudolfus Antonius

Rahasia Mesias. Ditutup untuk khalayak, dibuka bagi “kalangan sendiri.” Itulah “kebijakan ganda” yang diterapkan Yesus orang Nazaret berkenaan dengan jati diri-Nya. Kepada khalayak, Ia selalu berupaya agar mereka tidak mengenali diri-Nya sebagai Mesias. Sejauh-jauhnya, publik berspekulasi bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang dari para nabi (Markus 8.28). Kepada “kalangan sendiri”, yakni ke-12 murid-Nya, Ia berusaha menyingkapkan kemesiasan-Nya. “Kepadamu,” kata-Nya kepada mereka, “telah diberikan rahasia Kerajaan Allah...” (Markus 4.11).

Ada dialektika yang diharapkan-Nya bekerja dalam antitesis ini. Saat rakyat jelata sarat dengan penderitaan – kerasukan setan, terjangkit berbagai sakit-penyakit, diberati beban-beban keagamaan, dan ditindas oleh pemerintah bangsa-bangsa – apatah rindu-damba mereka kecuali kedatangan Sang Pembebas, yang tak lain dari Mesias, Ratu Adil Erucakra?

Yesus tidak menafikan “jeritan makhluk tertindas” yang membahana di tengah dunia yang tak berhati. Tapi Ia meyakini agenda ilahi, “apa yang dipikirkan Allah”, yang harus dilaksanakan-Nya: bukan pertama-tama sebagai Mesias Sang Raja, tetapi sebagai Hamba, yang melayani hingga memberikan nyawa sebagai tebusan bagi banyak (=semua) orang. Melalui itu, Sang Raja mbabar jati diri.  

Pada saat yang sama, Ia berusaha membimbing Kelompok 12, murid-murid-Nya, untuk mengenali jati diri-Nya. Menetapkan mereka “untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3.14), sesungguhnya Ia sedang mempersiapkan mereka supaya bila sudah tiba waktunya mereka akan mewartakan jatidiri mesianik atau rajawi-Nya. Untuk itu Ia telah bersasmita, “[T]idak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu rahasia yang tidak akan tersingkap” (Markus 4.21-22).

Sayang disayang, Kelompok 12 terlalu lamban untuk mengerti. Petrus, yang sepertinya memiliki “kesadaran yang paling maju,” memang berhasil mengenali jati diri Yesus sebagai Mesias (Markus 8.20). Tapi, sebagaimana terlihat dalam reaksinya terhadap Sasmita Samsara yang Pertama, mesianisme Petrus bertolakbelakang dengan mesianisme Yesus. Mesianisme Petrus tidak mengizinkan seorang Mesias yang mengalami sengsara dan maut sebelum mencapai kemuliaan. Sasmita Samsara yang Kedua dan Ketiga ditanggapi dengan pertengkaran tentang siapa yang terbesar atau paling berkuasa di antara Kelompok 12. Semua sibuk dengan Will to Power alih-alih menyatukan diri dengan Sang Mesias menapaki jalan penderitaan.  

Jadi Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu seperti terjepit oleh kebijakan-Nya sendiri. Ke luar Ia bertahan dari godaan mengikuti mesianisme orang banyak, ke dalam Ia tidak kunjung dimengerti oleh murid-murid-Nya – yang juga menganut mesianisme orang banyak. Di satu sisi Ia menolak untuk memproklamirkan kemesiasan-Nya kepada orang banyak karena memperhitungkan jangan-jangan “apa yang dipikirkan Allah” terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia.” Di sisi lain kelihatannya Ia nyaris frustrasi (“berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?”, Markus 9.19) karena murid-murid-Nya tak kunjung beranjak dari “apa yang dipikirkan manusia” ke “apa yang dipikirkan Allah.”

Hampir tak dinyana, pada satu momen di tengah perjalanan menuju Yerusalem, Yesus “dipaksa” untuk mengungkap jati diri mesianik-Nya kepada orang banyak. Saat itu, baru saja Ia dan Kelompok 12, diiringi oleh orang banyak yang berbondong-bondong, keluar dari Yerikho (Markus 10.46). Dari pinggir jalan terdengar teriakan, “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 47). Teriakan subversif, yang menyuarakan kerinduan orang banyak yang mendambakan pembebasan, sekaligus menyulut kewaspadaan kaum penguasa. Anak Daud, gelar Sang Mesias.

Pengemis buta, ya pengemis buta itulah yang membuat bising udara dengan teriakan subversifnya. Ia melakukan itu karena mendapat informasi bahwa orang Nazaret yang Bersandal itulah yang sedang lewat. Ia ingin minta tolong, mohon Yesus mencelikkan matanya. Beberapa orang menegornya. Mereka berusaha membungkamnya (ay 48a). Tapi ia menolak bungkam. Alih-alih, ia makin keras berteriak: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 48b). Kian bisinglah udara, sementara aroma subversif merebak ke mana-mana.

Yesus tanggap ing sasmita. Ia tahu, diri-Nyalah yang dimaksud sang pengemis buta. Segera didapati diri-Nya tersudut. Selama ini dipegang-Nya teguh “kebijakan ganda” perihal Rahasia Mesias. Tertutup keluar, terbuka ke dalam. Kini, Ia diperhadapkan pada pilihan: tetap “tertutup keluar” demi menjaga agar “apa yang dipikirkan Allah” tidak terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia” dengan tidak mempedulikan teriakan-teriakan sang pengemis buta, ATAU, menyembuhkan sang pengemis buta dengan mengorbankan “kebijakan ganda” dengan “membuka keluar” – dan dengan demikian merisikokan “apa yang dipikirkan Allah” terkooptasi oleh “apa yang dipikirkan manusia.” FAIT ACCOMPLI!

Merasa di-fait accompli, Yesus butuh waktu untuk berpikir. Itulah sebabnya Ia tidak langsung menanggapi teriakan-teriakan sang pengemis buta (lihat ay 47-49). Tapi sekali membuat keputusan, yakni memilih untuk mempedulikan pengemis buta itu dan mengorbankan kebijakan ganda-Nya, Yesus melangkah dengan mantap. Berjumpalah Ia dengan sang pengemis buta.

Terjadilah percakapan singkat, yang menyiratkan jati diri Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu – bahwa Dia adalah Sang Mesias (ay 51).

Y  : Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?
PB: Rabuni (=Tuanku), supaya aku dapat melihat!

Terjadilah suatu mukjizat, yang memenuhi kerinduan sang pengemis buta sekaligus menggarisbawahi watak asli Sang Mesias – welas asih, penuh rahmat (ay 52a).

Y: Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!
Pada saat itu juga (kai euthus, dan seketika itu juga) melihatlah ia.

“Kebijakan ganda” gugur sudah. Sekarang Rahasia Mesianik dibuka keluar. Publik sudah tahu siapa Yesus: Sang Mesias. Lepas dari jenis mesianisme mereka, yang bertolakbelakang dengan mesianisme Yesus!

Sekarang, pengemis buta itu tak lagi buta, tak lagi mengemis pula. Ia mengikut Yesus, mengiringi-Nya dalam perjalanan yang menentukan ke Yerusalem (ay 52b). 

Entah dari mana mantan pengemis buta itu tahu bahwa Yesus adalah Anak Daud, Sang Mesias. Yang jelas, teriakan-teriakan subversifnya telah “memaksa” Yesus untuk menyatakan jati diri-Nya. Tak heran kiranya, bila kemudian namanya dikenang orang – satu-satunya pengecualian dalam penuturan Sang Narator: Bartimeus, anak Timeus, anak dari Kehormatan, anak yang terhormat. 

Sesuai dengan namanya, wong cilik ini beroleh kehormatan untuk membuat Mesias yang Tersembunyi menyatakan diri-Nya di hadapan publik yang merindudamba. Cetha wela-wela. ***




Terpujilah Allah! 

 







  











Jumat, 11 Maret 2016

DOA

Silent Prayer
Hari ini, 30 September 2012. Genap 37 tahun umurku. 

Kusadari sepenuhnya, bahwa panggilan jiwa dan keyakinanku menempatkanku di jalur Kiri. Aku seorang Anabaptis, aku juga seorang Sosialis. Bukan Sosialisme Utopian, tapi Sosialisme Ilmiah. Bukan Stalinis, tetapi Trotskyis. 

Dalam semuanya itu, aku berupaya menghayati apa maknanya mengiring Yesus Kristus, Junjunganku, serta bergumul tentang apa artinya kehadiran Kerajaan Allah di tengah suatu epos di mana kapitalisme mentransformasi diri menjadi imperialisme – sementara negeriku dikemudikan oleh para komprador, kapitalis birokrat, dan kapitalis kroni yang pada saat yang sama menghamba kepada imperialisme dan menyengsarakan rakyat pekerja serta memporakporandakan alam.

Ya, Tuhan di sisa hidupku, mampukanlah aku untuk setia kepada Junjunganku dan perkara Kerajaan-Mu; mampukan aku untuk konsisten sejalan dengan komitmen Junjunganku, preferential option for the poor and the oppressed; mampukan aku, untuk terus berjuang, bahu-membahu dengan rakyat pekerja – demi suatu perwujudan dari Kerajaan-Mu: “terciptanya tatanan masyarakat Sosialis sepenuhnya.” AMIN. ***

Senin, 07 Maret 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (IV)

James & John with Jesus
http://www.4catholiceducators.com
LENT IV:
6-12 Maret 2016

KEMULIAAN SALIB
Markus 10.35-45

Rudolfus Antonius

Tiga kali sudah Yesus menuturkan sasmita samsara (Markus 8.31; 9.31; 10.33-34). Makin lama makin jelas. Intinya: Ia harus menempuh jalan salib sebelum dimuliakan dalam kebangkitan. Jalan salib, jalan kemuliaan.

Tiga kali Yesus bersasmita, tiga kali pula para murid menanggapinya. Sayang, tanggapan-tanggapan itu ibarat jauh panggang dari api. Sasmita pertama ditanggapi Petrus dengan “menarik Yesus ke samping dan menegor Dia” (Markus 8.32). Sasmita kedua ditanggapi dengan pertengkaran murid-murid tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Markus 9.34). Sasmita ketiga ditanggapi oleh Yakobus dan Yohanes, yang meminta Yesus untuk memberi mereka dua tempat utama di dalam kemuliaan-Nya (Markus 10.37). Gagal tanggap ing sasmita, murid-murid sibuk dengan “apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8.33).

Mengetahui lobby pribadi Yakobus dan Yohanes, bangkitlah kemarahan kawan-kawannya (Markus 10.41). Sepertinya itu bukan karena mereka lebih tanggap ing sasmita. Mereka memiliki ambisi yang sama dengan keduanya, meski takut atau sungkan unnntuk mengemukakannya. Mereka semua marah kepada Yakobus dan Yohanes karena mendapat saingan berat, yang bahkan lebih dulu menggelar lobby untuk meraih kekuasaan. Sebelas-duabelas, setali tiga uang. 

Membaca situasi itu, Yesus memanggil mereka. Kata-Nya,

Kamu tahu bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kekuasaannya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya (Markus 10.42-44).

Yesus tahu, semua murid ingin menjadi besar dan terkemuka. Ya, semuanya ingin berkuasa. “Kehendak untuk berkuasa” membuncah di hati mereka. Yesus tidak menentang hal itu. Tapi Ia berusaha memberi jiwa dan arah yang baru.

Yesus mengajak murid-murid-Nya mengamati bagaimana pemerintah bangsa-bangsa dan pembesar-pembesarnya berkuasa. Bukankah mereka memerintah rakyat dengan tangan besi? Bukankah mereka menjalankan kekuasaan dengan keras atas rakyat? Kekuasaan mereka adalah kekuasaan dengan pemaksaan, kekuasaan dengan kekerasan. Kekuasaan yang semena-mena! Berkuasa dengan “membawahkan” orang lain, itukah yang diinginkan Yakobus, Yohanes, dan kawan-kawan mereka?

“Tidaklah demikian di antara kamu,” kata Yesus. Maksud-Nya jelas: kekuasaan yang berlaku di antara murid-murid Yesus memiliki watak yang sangat berbeda dengan kekuasaan yang berlaku di antara bangsa-bangsa. Ingin menjadi besar, orang harus menjadi pelayan (diakonos). Ingin menjadi yang terkemuka, orang harus menjadi hamba (doulos). Menjadi besar dengan melayani, menjadi terkemuka dengan menghamba. Berkuasa karena mengutamakan kepentingan umat  ketimbang kepentingan sendiri, sangatlah berbeda dengan “memerintah rakyat dengan tangan besi.” Berkuasa karena dengan rendah hati menempatkan diri sebagai hamba umat, sangatlah berlainan dengan “menjalankan kekuasaan dengan keras atas rakyat.” Kekuasaan yang melayani kepentingan umat dan menghamba kepada umat, itulah yang seharusnya yang diinginkan Yakobus, Yohanes, dan kawan-kawan mereka.

Yesus sendiri rupanya menghayati “filosofi kekuasaan” itu. Ia sudah dan sedang menghidupinya. Kata-Nya,

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10.45).    

Bukan dilayani, melainkan melayani. Sejak baptisan yang menahbiskan diri-Nya sebagai Raja dan Hamba (Markus 1.11), jalan hidup sebagai Pelayan dan Hamba-lah yang ditempuh Yesus. Melalui Injil yang diberitakan-Nya dengan perkataan dan perbuatan, Yesus melayani dan menghamba. Puncak dari jalan hidup itu adalah “menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dengan jalan itulah Ia menjadi Raja.

Pada titik ini Yesus tidak saja memberi diri sebagai Teladan bagi murid-murid-Nya mengenai “kehendak untuk berkuasa.” Ia juga memberi bingkai bagi tiga sasmita samsara-Nya. Penderitaan dan kematian-Nya adalah puncak atau mahkota dari jalan hidup-Nya sebagai Pelayan dan Hamba, yang mendatangkan keselamatan bagi banyak (=semua) orang dan mengantar-Nya kepada kemuliaan yang sesungguhnya.

Bila salib adalah penderitaan dan kematian, maka melalui salib itu Yesus (1) memahkotai pelayanan dan penghambaan-Nya, (2) mendatangkan keselamatan bagi banyak orang, dan (3) mengantar-Nya kepada kemuliaan yang sesungguhnya. Itulah kemuliaan salib. ***

Terpujilah Allah!

Jumat, 04 Maret 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (III)

LENT III:
27 Februari-5 Maret 2016

SYARAT HIDUP YANG KEKAL
Markus 10.17-27

Rudolfus Antonius

Orang itu tampak begitu serius dengan ihwal keagamaan. Tergopoh-gopoh ia menemui Yesus, orang Nazaret yang kontroversial itu. Lihat, ia sampai bertelut di hadapan-Nya. Ia ingin bertanya kepada Yesus, dengan berharap orang Nazaret itu memberikan jawaban yang sanggup meredakan kegalauan hatinya.

Kegalauan hati?

Ya. Ia mendambakan “hidup yang kekal.” Selama ini, “segala perintah Allah” telah diturutinya, bahkan sejak masa mudanya. Namun masih juga gundah hatinya, apakah ia sungguh-sungguh telah beroleh apa yang didamba.

“Guru yang baik,” begitu sapanya. “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kesantunan dan urgensi bergema dalam sikap dan pertanyaannya.

“Mengapa kau katakan Aku baik?” Orang Nazaret itu ganti bertanya. “Tiada yang baik kecuali Allah,” sambung-Nya, “Allah yang baik itu telah bertitah. Sudah barang tentu engkau telah mengetahui semuanya:

Jangan membunuh
Jangan berzinah
Jangan mencuri
Jangan mengucapkan saksi dusta
Jangan mengurangi hak orang
Hormatilah ayahmu dan ibumu.”

Sejurus waktu orang itu terperangah. Pertama, rasa-rasanya baru saja Yesus mengoreksi ungkapan yang ia gunakan untuk menyapa-Nya: “Guru yang baik.” Tanggap ing sasmita, ia meralat sapaannya: “Guru.” Tanpa “yang baik.”

Kedua, kedengarannya jawaban Yesus sekadar merujuk pada titah-titah Allah yang sudah diketahuinya. Tidak ada yang baru, “standard.” Manakah hal istimewa, yang diharapnya terungkap dari orang Nazaret itu?

“Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku,” sahutnya.

Yesus memandang orang itu. Ia mengasihinya (êgapêsen auton). Amboi, alangkah beruntungnya orang itu! Begitulah agaknya kesan yang ingin diberikan Narator kepada kita. Betapa tidak! Bukankah di sepanjang ceritanya hanya dalam “episode” inilah ia mengungkap secara eksplisit perihal Yesus mengasihi seseorang? Lantas bagaimana kasih itu dijabarkan?

“Hanya satu lagi kekuranganmu,” kata-Nya.

Ah! Barusan Yesus berkata-kata tentang “segala perintah Allah.” Sekarang, setelah mendengar bahwa aku telah menuruti semuanya itu sejak masa mudaku, Ia menyatakan masih ada yang kurang! Opo tumon? Begitulah mungkin orang itu bergumam.

Mari perhatikan ungkapan “yang baik,” modifier bagi sapaan “guru” (yang disematkan orang itu kepada Yesus, namun dipertanyakan-Nya dengan menyebut Allah sebagai satu-satunya “yang baik”). Bukankah Allah “yang baik” telah bertitah? Simak, titah-titah-Nya menyangkut hubungan antarmanusia. Jangan begini, jangan begitu, lakukan ini dan itu. Orang itu mengatakan bahwa ia telah menuruti semua titah itu sejak mudanya. Kalau memang demikian, bukankah ia sudah berhak atas hidup yang kekal!

Tapi “guru” yang barusan mengkritisi sapaan “yang baik” itu sekarang tampil seolah-olah Dialah Allah “yang baik” itu sendiri. Ia bertitah! Bila memenuhi titah itu, lengkaplah sudah “penurutan” orang itu pada seluruh titah Allah yang baik!

Inilah titah-Nya:

Pergilah,
juallah apa yang kau miliki
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
maka engkau akan beroleh harta di sorga,
kemudian datanglah ke mari,
dan ikutlah Aku.

“Kurang ajar” betul Laki-laki Bersandal dari Nazaret ini. Mengkritisi sapaan “guru yang baik,” sekarang Ia malah menempatkan diri dalam posisi “Allah yang baik” – yang bertitah!

Orang itu pun diperhadapkan pada “momen eksistensial.” Selama ini ia menuruti segala titah Allah dengan tujuan beroleh hidup yang kekal. Kenyataannya, ia memang telah menuruti segala titah itu, bahkan sejak masa mudanya. Tapi toh, ia masih gundah apakah ia benar-benar terjamin akan memperoleh hidup yang kekal. Berjumpa dengan Yesus, ia justru mendapati bahwa kegundahannya benar. Semua itu belum cukup. Masih kurang!

Lantas bagaimana cara membuatnya memadai? “Ikutlah Aku,” kata Yesus. Tapi syaratnya... alangkah beratnya! Orang itu pun menjadi kecewa. Ia pergi, dengan sedih.

Lho, kok begitu? Opo tumon? Kenapa? Ada apa dengan titah Yesus? Atau... ada apa dengan orang itu?

Dalam sejurus waktu, selaku pembaca atau pendengar kita pun mengalami penyingkapan dari Sang Narator: orang itu adalah orang yang banyak hartanya (orang yang memiliki banyak harta, ekhôn ktêmata polla, ay 22).

Jelaslah sudah. Orang kaya yang satu ini mendambakan hidup yang kekal. Karena itu, sejak muda ia berusaha menuruti titah-titah Allah. Tapi ia merasa tidak pasti. Lalu datanglah ia kepada Yesus, yang ternyata bisa memberikan kepastian tetapi menuntut suatu harga yang baginya teramat-sangat mahal: menjual apa yang dimilikinya dan memberikan hasilnya kepada orang-orang miskin.

BUNUH DIRI KELAS! Ungkapan yang kita pinjam dari almarhum Almilcar Cabral (1924-1973), revolusioner Guinea-Bissau, mungkin tetap untuk memberi nama pada titah Laki-laki Bersandal dari Nazaret itu.

Ya, BUNUH DIRI KELAS: orang yang berasal dari kelas yang lebih tinggi – kelas penguasa – meninggalkan kelasnya berikut segala hak istimewa yang melekat padanya, lalu menggabungkan diri dengan kelas yang lebih rendah – kelas kaum yang miskin dan tertindas.
Beroleh hidup yang kekal dengan jalan bunuh diri kelas!

Kecewa dan pergi dengan sedih. Terungkaplah baginya, juga bagi sidang pembaca, mana yang sesungguhnya paling berharga baginya. Antara hartanya yang banyak dan hidup yang kekal, yang pertamalah yang paling berharga.

Maksud hati ingin beroleh hidup yang kekal sebagai orang kaya, nyatanya Yesus menitahkan bunuh diri kelas demi mengikut Dia. Titah yang terbit dari kasih, yang sayang-disayang tak menyentuh hati sang hartawan. Ia pun memutuskan untuk “Balik Kanan, Jalan Terus...”

“Sangat sukar orang yang beruang, orang kaya, masuk ke dalam Kerajaan Allah,” ujar Yesus di hadapan murid-murid-Nya. “Lebih mudah seekor unta melewati loban jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah,” sambungnya.

Murid-murid tercengang. Mereka paham, sanepo itu berkata-kata tentang kemusykilan orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah, termasuk orang kaya yang barusan datang dan pergi berlalu.

“Lantas, siapakah yang dapat diselamatkan?” tanya mereka, gempar.

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah,” jawab Sang Guru, guru yang baik itu.

Maksud-Nya jelas. Pada dirinya sediri, muskil orang kaya melakukan bunuh diri kelas agar beroleh hidup yang kekal. Tapi apa yang muskil bagi manusia, tidaklah muskil bagi Allah. Tentulah Allah bisa membuat orang (-orang) kaya melakukan bunuh diri kelas – mempersembahkan kekayaannya untuk melayani mereka yang miskin dan tertindas – dan beroleh hidup yang kekal!


TERPUJILAH ALLAH!


Senin, 22 Februari 2016

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (II)

Sumber:
journeyswiththemessiah.org
Lent II
21-27 Februari 2016

MENEMPUH JALAN PENDERITAAN
Markus 8.27-38

Rudolfus Antonius

Petrus tak habis pikir, apa maunya Yesus. Dengan gaya-Nya yang khas, baru saja Yesus mengiyakan pernyataan Petrus bahwa Ia adalah Mesias (Markus 8.29-30). Sungguh, tanggapan itu menjawab teka-teki besar yang menggelayuti pikiran mereka pasca peristiwa “taufan di tengah telaga”: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4.41).

Bahwa Yesus adalah Mesias, itu melambungkan harapan mereka. Betapa tidak. Bukankah Mesias adalah Raja orang Yahudi, yang akan memulihkan Israel? Bukankah sebagai pengikut-pengikut Mesias, Petrus dan kawan-kawannya akan beroleh bagian dalam kemuliaan-Nya kelak?

Tapi dengar. Baru saja harapan itu tinggi membumbung, seketika itu juga jatuh terhempas. Tidak saja Yesus tegas meminta mereka untuk tidak memberitahukan jati diri mesianis-Nya kepada siapapun; dengan terus terang Ia malah mengatakan bahwa Anak Manusia – sebutan Yesus untuk diri-Nya sendiri – “harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Markus 8. 31).

Menanggung banyak penderitaan? Suatu keharusan? Berhadapan dengan elit politik dan keagamaan? Tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat? Ditolak dan dibunuh? Mesias macam mana? Lantas, “bangkit sesudah tiga hari”? Bah, apa bedanya? Bukankah semua orang mati akan dibangkitkan “sesudah tiga hari”, yakni saat Kiamat alias Akhir Zaman? Masih lama! Begitukah nasib Mesias?

Petrus tidak terima. Ia menarik Yesus ke samping dan menegor-Nya. Mosok omong begitu! Baru saja harapan mulai bersemi, seketika itu juga me-layu lagi. Primen sih! 

Dalam beberapa jurus waktu, Petrus dan kawan-kawannya dibuat kaget berkali-kali. Tengok reaksi Yesus. Menoleh dan memandang mereka, Yesus memarahi Petrus, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8.33).

Bukan main. Petrus disebut “Iblis”, Satan (bahasa Yunani: satan). Miris! Sepanjang kebersamaannya dengan Yesus, dua kali ia mendengar Yesus berkata-kata tentang Satan. Pertama, saat dituding mengusir roh-roh jahat dengan kuasa Beelzebul penghulu roh-roh jahat, Yesus menangkis dengan pertanyaan, “Bagaimana Satan mengusir Satan?” (Markus 3.23) dan pernyataan, “... kalau Satan berontak melawan dirinya sendiri, ia tidak dapat bertahan” (Markus 3.25). Kedua, saat menjelaskan perumpamaan tentang benih yang ditaburkan, Yesus menyebutkan bahwa Satan datang dan “mengambil firman yang baru ditaburkan” (Markus 4.15). Dalam kedua kasus itu, Satan adalah sosok yang jahat!

Lantas, apakah sekarang Yesus memandang Petrus sebagai Iblis, si sosok jahat. Tidak juga. Pengertian dasar “Satan” adalah “merintangi” atau “berdiri sebagai lawan.” Ingat cerita tentang Malaikat TUHAN yang menjumpai Bileam yang menunggang seekor keledai guna menemui Balak, raja Moab. Murka karena Bileam memenuhi undangan Balak untuk mengutuki bangsa Israel, “berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya” (Bilangan 22.22, lihat juga ayat 32). Dalam bahasa Ibrani, kata kerja satan berarti berdiri sebagai lawan!

Sekarang, dengan “menarik  Yesus ke samping dan menegor-Nya,” sesungguhnya Petrus “memikirkan apa yang dipikirkan manusia”, bukan “memikirkan apa yang dipikirkan Allah” (Markus 8.33). Apa yang dipikirkan manusia: Mesias yang jaya, tanpa penderitaan, demikian pula para pengikut-Nya. Itulah yang ada dalam benak Petrus dan kawan-kawannya. Apa yang dipikirkan Allah: Mesias yang dimuliakan (bangkit) sesudah menempuh jalan penderitaan. Itulah yang tidak ada dalam benak Petrus dan kawan-kawannya.

Tindakan Petrus terhadap Yesus seturut dengan apa yang ada dalam benaknya (apa yang dipikirkan manusia) dan apa yang tidak ada dalam benaknya (apa yang dipikirkan Allah). Dengan jalan itu, ia “berdiri di hadapan Yesus sebagai lawan.” Petrus menginginkan Yesus sebagai Mesias yang jaya tanpa penderitaan, demikian pula para pengikut-Nya. Petrus tidak menginginkan Yesus sebagai Mesias yang dimuliakan setelah penderitaan. Ia menolak “apa yang dipikirkan Allah” dan berupaya mewujudkan “apa yang dipikirkan manusia.” Dalam arti inilah sebutan Iblis bagi Petrus.

“Enyahlah,” kata Yesus kepada Petrus yang berdiri di hadapannya sebagai lawan. Dalam teks Yunaninya, kita menemukan kata-kata hupage opisô mou, yang bila diterjemahkan secara harafiah berbunyi, “Pergilah ke belakangku!” Perhatikanlah kontras ini: “berdiri sebagai lawan” dan “pergilah ke belakangku.” Jelas bagi kita maksud Yesus. Seakan Ia berkata kepada Petrus, “Hai Petrus, daripada berdiri di hadapan-Ku sebagai lawan, merintangi jalan-Ku untuk memenuhi apa yang dipikirkan Allah, sebaiknya engkau pergi ke belakang-Ku, mengikut Aku.”

Yesus adalah Mesias yang harus menempuh jalan penderitaan sebelum dimuliakan. Orang yang telah menjadi pengikut-Nya hendaknya tidak merintangi perjalanan-Nya. Alih-alih, mereka diajak untuk mengikut-Nya. Sebagaimana Mesias menempuh jalan penderitaan sebelum dimuliakan, begitulah kiranya para pengikut-Nya. Tak ada salib, tak ada kebangkitan. Tak ada penderitaan, tak ada kemuliaan. Jalan penderitaan adalah jalan kemuliaan. Itulah “apa yang dipikirkan Allah.”

Tandas Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Markus 8.34).

Mengikut Dia? 

Ya! Tidak saja “mempersilakan” Yesus melaksanakan “apa yang dipikirkan Allah”, yakni menempuh jalan penderitaan, tetapi juga mengikut Yesus menempuh jalan itu! Simaklah sabda-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mrk 8.34). Sebagaimana Mesias menempuh jalan penderitaan karena taat-setia kepada Allah, demikianlah para pengikut Mesias menempuh jalan penderitaan karena taat-setia kepada-Nya.

Menyangkal diri: bukan lagi kehendakku, melainkan kehendak Mesias, Junjunganku. Memikul salib: membayar harga demi melakukan kehendak Mesias. Mengikut Aku: mengiring Mesias di mana saja dan kapan saja – termasuk dalam api penderitaan dan di depan gerbang kematian. 

Yesus setia kepada Allah. Ia bertekad melaksanakan kehendak Allah. Ia bersiteguh mengesampingkan “apa yang dipikirkan manusia” dan mewujudnyatakan “apa yang dipikirkan Allah.” Ia taat. Itu berarti menempuh jalan salib sebagai jalan kemuliaan.

Setia dan taat kepada Yesus, kita dipanggil untuk menempuh jalan yang sama. Pesan ini bergema lagi di Minggu II Pra-Paska ini. 

Terpujilah Allah! 

Lent/Masa Pra-Paska 2016 (I)

The Storm on the Sea of Galilee
(Rembrandt, 1632)
Sumber: Wikipedia
Lent I
14-20 Februari 2016

SIAPAKAH GERANGAN ORANG INI?
Markus 4.35-41

Rudolfus Antonius


Situasi benar-benar genting. Taufan yang sangat dahsyat mengamuk. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Perahu itu, yang ditumpangi Yesus dan murid-murid-Nya itu, mulai penuh dengan air. Mereka semua akan tenggelam!

Murid-murid tahu persis: kita akan binasa! (Markus 4.38b). Bisa dibayangkan betapa mereka tercekam kengerian. Maut sudah berdiri di hadapan mereka.

Ironisnya, bila kita boleh menggunakan istilah ini, Yesus justru “sedang tidur di buritan di sebuah tilam” (ay 38a). Begitu nyenyak tidurnya, sehingga keadaan genting itu tidak mengusiknya.

Mendapati Yesus sedang tidur di tengah situasi yang sedemikian genting, terbersit rasa jengkel di benak murid-murid. Kok bisa-bisanya tidur pulas sementara semua orang menyabung nyawa! Opo tumon? Mereka membangunkan Yesus seraya berkata, “Guru, tidakkah kau peduli bahwa kita binasa?” (Menarik, kata kerja untuk binasa, apollumi, disajikan dalam bentuk indicative present orang pertama jamak, apollumetha, yang mencerminkan “penilaian” murid-murid bahwa mereka semua, tak terkecuali Yesus, ada dalam situasi yang tidak bisa diatasi lagi, nyawa mereka terancam tanpa bisa ditolong lagi. Kita sedang binasa!).

Rupanya, bukan amukan angin taufan atau semburan ombak yang masuk ke dalam perahu yang membuat Yesus terbangun, melainkan gugahan murid-murid-Nya. Ia bangun. Ia peduli. Tapi bila situasinya sudah tidak bisa diatasi lagi, masih adakah gunanya kepedulian itu?

Yesus menghardik angin itu, Ia berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Seakan-akan taufan dan danau itu sedang rewel, ribut, banyak bicara, Yesus menyuruh mereka untuk berhenti berbicara.

Khususnya kata yang kedua, “tenanglah”, fimoô, menggemakan maksud narator baik untuk menyindir murid-murid – setidak-tidaknya Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes – maupun untuk mengingatkan kita bahwa Yesus pernah menggunakannya untuk membungkam roh jahat yang menyatakan jati diri Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah (lihat Markus 1.34-35). Dulu roh jahat taat kepada Yesus  (Markus 1.36), sekarang – “angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali” (Markus 4.39).

Sejurus waktu kemudian, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Dengan pertanyaan itu, terungkaplah penilaian Yesus atas murid-murid-Nya. Dalam situasi yang sangat genting, mereka takut, mereka tidak percaya. Ya, mereka takut karena tidak percaya. Bila mereka percaya, mereka tidak takut menghadapi situasi yang tampak mengancam nyawa mereka sekalipun. Percaya? Percaya apa atau siapa? Tidak percaya? Tidak percaya apa atau siapa? Apa atau siapa yang dimaksud Yesus – yang seharusnya dipercaya murid-murid sehingga mereka tidak takut menghadapi situasi yang sangat genting yang mempermainkan nyawa mereka di bibir jurang kematian?

Murid-murid tercekam, mereka “menjadi sangat takut” (Markus 4.41b). Mereka baru saja mengalami kejadian-kejadian yang teramat dahsyat: situasi yang sangat genting, kejengkelan yang luar biasa karena tak habis mengerti kepada Sang Guru, perkataan Sang Guru yang penuh kuasa atas angin dan danau, serta pertanyaan yang menohok: Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya?

Apakah dalam peristiwa itu mereka “tersengat” oleh mysterium tremendum – meminjam teori Rudolf Otto – suatu aspek dari Yang Kudus, yang membangkitkan kegentaran di sekujur jiwa mereka? Boleh jadi. Yang jelas, ketakutan itu terungkap dalam pertanyaan seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini (atau: “Jadi, siapakah adanya Dia” [tis ara houtos estin], sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4.41b).

Tidakkah mereka, sekurang-kurangnya Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, bahwa di saat-saat permulaan mereka mengiring Yesus, roh jahat mengenali-Nya sebagai “Yang Kudus dari Allah” (Markus 1.24; lihat juga Markus 1.34).

Bukankah keempat murid yang paling awal itu tak asing dengan pengakuan roh-roh jahat yang merasuki orang-orang yang dilepaskan Yesus, “Engkaulah Anak Allah” ( Markus 3.11).

Tidak cukupkah pengakuan roh-roh jahat itu menolong mereka untuk menyadari jati diri Orang ini?

Dalam episode berikutnya, tatkala mereka berjumpa dengan orang yang kerasukan Legion, mereka akan mendengar sendiri bahwa Legion mengenali Yesus sebagai “Anak Allah yang Mahatinggi” (Markus 5.7). Dia yang ditakuti roh-roh jahat adalah Dia yang sama, yang ditaati angin dan danau.

Tapi sementara Yesus membimbing mereka untuk mengenali jati diri-Nya, hati murid-murid masih diliputi kedegilan. Mereka tidak kunjung memahami:

(1)   Makna perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan-Nya (Markus 4.11, 13);
(2)   Tindakan-tindakan belarasa dan kuasa-Nya (Markus 6.34, 41-44; 6.51-52; 7.18; 8.17, 21); dan
(3)   Sasmita-sasmita samsara-Nya (lihat Markus 8.31-32; 9.31-34; 10.33-41).

Lagi, kita mendapati ironi. Sementara roh-roh jahat mengenali jati diri Yesus, tidak demikian murid-murid-Nya. Suatu kritik terhadap kita, yang meski mengaku sebagai pengikut-Nya tapi tidak kunjung mengenal Dia?

Tapi sisi baliknya perlu juga direnungkan: jangan-jangan kita (merasa) mengenali jati diri Yesus tapi tidak menjadi pengikut-Nya – yang demi Injil rela “menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia” (Markus 8.34-35).

Di samping itu, bisa juga ironi ini dipahami sebagai ajakan untuk menyadari bahwa mengenal Yesus tidak saja tak mudah (dalam hal ini kita diingatkan untuk tidak mencemooh murid-murid Yesus), tetapi juga merupakan suatu proses yang tiada henti. Pengenalan kita akan Yesus harus terus bertumbuh, semakin mendalam, semakin kaya; dan seiring dengan itu, semakin teruji juga jalan hidup kita mengikut atau mengiring Dia.

Minggu Pertama Sengsara Tuhan mengajak saya untuk jujur bertanya kepada diri saya: Siapakah gerangan Orang ini?

Terpujilah Allah! ***